BERITAALTERNATIF.COM – Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari menggelar peringatan Syahadah Sayyidah Fatimah Az-Zahra di Kutai Kartanegara, Selasa (27/10/2026) malam.
Dalam ceramahnya, Sayyid Thoriq Assegaff membahas kedudukan Sayyidah Fatimah dalam peristiwa mubahalah, peran Ahlulbait dalam penyempurnaan manusia, serta pentingnya keteladanan perempuan dalam membentuk generasi.
Thoriq mengawali penjelasannya dengan menguraikan peristiwa mubahalah yang disebut dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 61.
Dia menilai peristiwa tersebut memiliki kedudukan penting karena melibatkan Nabi Muhammad SAW dan keluarga dekatnya sebagai bagian dari kesaksian atas kebenaran risalah Islam.
Ia merujuk pada penyebutan abna’ana (putra-putra kami) dan nisaana (perempuan-perempuan kami) dalam ayat tersebut.
Menurut Thoriq, orang-orang yang hadir bersama Nabi dalam peristiwa mubahalah adalah Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, serta Hasan dan Husain.
Kehadiran Sayyidah Fatimah, menurut dia, menunjukkan bahwa perempuan memiliki kedudukan penting dalam peristiwa tersebut.
Dia juga menyoroti bagaimana Sayyidah Fatimah tidak seharusnya hanya dikenal sebagai putri Nabi, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki peran, ilmu, dan warisan spiritual bagi umat Islam.
“Ini wanita, representasi wanita kenabian. Ini wanita pilihan Tuhan, bukan wanita sembarangan,” ujar Thoriq.
Ia menilai, pembahasan tentang Sayyidah Fatimah selama ini kerap berhenti pada kisah kedekatannya dengan Nabi Muhammad SAW.
Padahal, menurut dia, umat perlu mengenali lebih jauh pemikiran, perjuangan, peran, dan warisan beliau dalam perjalanan sejarah Islam.
Dalam ceramahnya, Thoriq kemudian menjelaskan kedudukan Ahlulbait melalui konsep sebab penyiap dalam pembahasan akidah.
Dia membedakan sebab utama keberadaan, yang disebutnya sebagai wajibul wujud, dengan sebab penyiap yang memungkinkan sesuatu hadir melalui proses tertentu.
Ia mengibaratkan tanah sebagai sebab penyiap bagi tumbuhnya pohon, pohon sebagai sebab penyiap bagi munculnya buah, serta ayah dan ibu sebagai sebab penyiap bagi lahirnya seorang anak.
Menurutnya, contoh-contoh tersebut menjelaskan bahwa suatu hasil tidak terlepas dari unsur yang mendahului dan memungkinkan kehadirannya.
Dalam kerangka pemikiran tersebut, ia menempatkan Ahlulbait bukan hanya sebagai sebab penyiap, tetapi juga sebagai teladan bagi penyempurnaan manusia.
Dia menyebut Ahlulbait sebagai uswah atau prototipe yang dapat menjadi rujukan manusia untuk mencapai kesempurnaan diri.
“Begitu pun dengan Ahlulbait, dia adalah sebab penyiap semesta. Dan bukan hanya sebab penyiap, dia adalah sebab penyempurna dari semesta,” katanya.
Thoriq kemudian menempatkan Sayyidah Fatimah sebagai teladan utama bagi perempuan sepanjang zaman.
Ia mengutip riwayat yang menyebut Fatimah sebagai pemimpin perempuan penghuni surga. Menurutnya, kedudukan tersebut menunjukkan pentingnya umat mengenal sosok Sayyidah Fatimah secara lebih mendalam.
Dia mengajak jamaah memperkuat makrifat, yakni pengenalan yang mendalam terhadap Sayyidah Fatimah, bukan sekadar mengetahui nama dan kedudukannya.
Menurut Thoriq, semakin dalam pengenalan seseorang terhadap beliau, semakin besar pula harapannya untuk memperoleh belas kasih.
“Semakin kuat, semakin dalam makrifat kita semua kepada Bunda Zahra, semakin besar kesempatan kita untuk mendapatkan belas kasih,” ujarnya.
Dia juga menyampaikan sejumlah riwayat mengenai kecintaan kepada Sayyidah Fatimah dan kedudukan beliau di sisi Nabi Muhammad SAW serta para imam.
Dalam pemaparannya, kecintaan kepada Fatimah memiliki hubungan dengan keselamatan spiritual dan kehidupan akhirat.
Karena itu, ia mengajak jamaah tidak berhenti pada penghormatan secara lisan, tetapi juga berupaya memahami ajaran dan keteladanan Ahlulbait.
Thoriq turut menyampaikan riwayat mengenai keutamaan mengucapkan salam kepada Sayyidah Fatimah.
Ia membandingkannya dengan tradisi ziarah kepada para imam yang di dalamnya terdapat ucapan salam. Menurut riwayat yang ia sampaikan, salam kepada Sayyidah Fatimah memiliki kedudukan istimewa karena berkaitan dengan kemuliaan beliau di hadapan Nabi dan para imam.
Mengenang penderitaan dan peran perempuan
Dalam bagian lain ceramahnya, Thoriq mengajak jamaah mengenang penderitaan Sayyidah Fatimah yang menjadi bagian dari tradisi peringatan syahadah. Ia menyebut berbagai kisah tentang luka dan ketertindasan yang, dalam tradisi tersebut, dikaitkan dengan peristiwa menjelang wafatnya Sayyidah Fatimah.
Bagi Thoriq, peringatan itu bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, melainkan juga mengingat kembali kedudukan sosok yang diperingati dan memperkuat kecintaan umat kepada Ahlulbait.
Ia kemudian menghubungkan kemuliaan Sayyidah Fatimah dengan peran perempuan dalam pembentukan manusia.
Menurutnya, ibu merupakan guru pertama bagi seorang anak.
Karena itu, kualitas pribadi dan keteladanan seorang ibu memiliki pengaruh penting dalam membentuk karakter generasi berikutnya.
Thoriq menilai, sosok-sosok besar dalam kehidupan tidak terlepas dari peran ibu yang mulia dan pasangan yang baik. Keteladanan perempuan, dalam pandangannya, menjadi bagian penting dalam proses pembentukan manusia yang matang secara moral dan spiritual.
“Karena guru pertama seseorang adalah ibunya. Dan kita dapati setiap lelaki yang agung selalu dimulai dari ibu yang mulia dan istri yang baik,” Pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











