Search

Rekayasa Narasi di Gedung Putih; Apa Tujuan Trump di Balik Klaim Negosiasi dengan Iran?

Pernyataan Trump tentang adanya proses pembicaraan dengan Iran bukanlah sebuah kekeliruan sederhana atau salah paham diplomatik. Klaim tersebut merupakan kelanjutan dari pola lama yang selalu ia gunakan: menciptakan “pencapaian palsu” dan memutarbalikkan kenyataan. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Bersamaan dengan kedatangan Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, ke Gedung Putih, Donald Trump kembali membuat klaim yang langsung dibantah oleh pemerintah Iran. Trump mengatakan, “Saya pikir Iran sangat ingin mencapai kesepakatan, dan kami telah memulai sebuah proses.” Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran secara tegas menolak klaim ini dan menegaskan bahwa “tidak ada proses negosiasi apa pun antara Teheran dan Washington”, dan bahwa pernyataan itu tidak memiliki dasar kenyataan. Lalu mengapa Trump terang-terangan menyampaikan klaim yang tidak benar?

Penciptaan Prestasi Palsu dalam Politik Luar Negeri

Untuk memahami perilaku Trump, kita harus melihat pola tetapnya selama bertahun-tahun. Pada masa jabatan pertamanya, ia berkali-kali berusaha menciptakan prestasi yang sebenarnya tidak ada dengan cara melebih-lebihkan atau memanipulasi realitas. Ia pernah mengumumkan bahwa telah terjadi “perdamaian bersejarah di Semenanjung Korea”, padahal seluruh proses itu terhenti setelah beberapa pertemuan yang hanya bersifat simbolis. Ia juga pernah berkata bahwa “perang di Timur Tengah telah berakhir”, padahal tidak ada satu pun perang yang benar-benar berakhir, bahkan beberapa konflik justru semakin memburuk.

Ia mempromosikan apa yang disebutnya “Perjanjian Abraham” sebagai “terobosan besar”, meski kenyataannya perjanjian tersebut tidak menyelesaikan akar persoalan di kawasan dan hanya berfungsi sebagai kesepakatan simbolik. Semua ini menunjukkan bahwa Trump lebih tertarik pada penciptaan narasi kemenangan dibandingkan menghadapi kenyataan yang ada. Ia paham bahwa sebagian besar basis pendukungnya tidak terlalu peduli dengan fakta, tetapi lebih tertarik pada gambaran bahwa Trump adalah sosok yang kuat dan dapat mengendalikan keadaan. Dalam konteks ini, klaim bahwa ada pembicaraan dengan Iran membantu Trump membangun citra bahwa ia masih “mengendalikan permainan” dan memiliki pengaruh atas isu besar di kawasan.

Kecenderungan ini semakin kuat karena tingkat popularitas Trump pada masa jabatan keduanya mengalami penurunan signifikan—dari 47 persen menjadi sekitar 38 persen. Penurunan besar ini membuatnya semakin membutuhkan prestasi politik luar negeri, dan ia memanfaatkan “rekayasa narasi diplomatik” untuk memulihkan wibawanya. Ia mungkin tidak dapat mengubah kenyataan, tetapi ia dapat membingkai narasi sedemikian rupa agar terlihat seolah-olah sedang mencetak kemenangan baru.

Kebutuhan Psikologis Trump akan Sorotan Publik dan Hubungannya dengan Rekayasa Narasi

Analisis psikologi politik Trump menunjukkan bahwa ia memiliki kebutuhan mendalam untuk selalu diperhatikan. Ia ingin selalu berada di pusat pemberitaan, dan merasa terancam bila namanya tidak lagi mendominasi topik berita.

Dalam pola ini, ketiadaan peristiwa nyata bukanlah hambatan bagi Trump. Ia telah berkali-kali membuktikan bahwa jika berita tidak ada, ia akan menciptakannya sendiri. Klaim adanya dialog dengan Iran berada tepat dalam pola yang sama. Dengan mengangkat isu tersebut, ia menempatkan dirinya kembali sebagai aktor utama dalam dinamika Timur Tengah, dan menjadi pusat perhatian media Amerika.

Waktu penyampaian klaim itu juga bukan kebetulan. Dengan kehadiran bin Salman di Gedung Putih, Trump melihat kesempatan untuk mengangkat isu Iran dan menciptakan kesan bahwa ia sedang mengelola salah satu dossier paling sensitif di kawasan. Dengan cara ini, ia menutupi ketiadaan prestasi nyata dan menampilkan dirinya sebagai tokoh yang tetap memegang pengaruh besar.

Mengelola Para Sekutu Regional

Dimensi lain dari klaim Trump terkait kalkulasi regional. Setelah bertahun-tahun konflik, Arab Saudi kini memilih jalur meredakan ketegangan dengan Iran dan tidak lagi tertarik pada konfrontasi langsung. Dalam situasi seperti ini, Trump khawatir para sekutu Amerika di kawasan akan merasa bahwa Washington kehilangan peranan utamanya.

Untuk itu, Trump mengirim pesan bahwa dirinya masih memegang kendali atas isu Iran. Dengan mengatakan bahwa “Iran ingin mencapai kesepakatan”, ia berusaha menunjukkan bahwa kekuatan Amerika masih menentukan dan bahwa tidak ada dinamika besar di kawasan yang bisa terjadi tanpa campur tangan Washington. Pesan ini sangat relevan bagi Arab Saudi yang khawatir akan berkurangnya komitmen keamanan Amerika.

Tekanan Psikologis terhadap Iran

Trump dan tim keamanan nasionalnya tahu bahwa klaim adanya negosiasi—bahkan ketika Iran membantahnya—dapat menciptakan tekanan psikologis. Ini adalah taktik lama yang pernah ia gunakan pada masa jabatan pertamanya. Ia berkali-kali mengatakan bahwa “Iran telah menghubungi kami”, padahal pernyataan tersebut tidak benar. Tujuannya adalah menciptakan citra bahwa kekuatan Amerika memaksa Iran untuk mundur.

Kali ini, setelah serangan terhadap wilayah Iran, Trump ingin menciptakan kesan bahwa tindakan militernya berhasil memaksa Iran untuk bernegosiasi. Padahal fakta lapangan menunjukkan bahwa serangan Amerika tidak mengubah posisi strategis Iran. Karena itu, Trump kembali menggunakan narasi palsu untuk menutupi minimnya efek nyata dari kebijakan militernya.

Dengan metode ini, Trump secara tidak langsung mengakui bahwa ia tidak mampu mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan, sehingga satu-satunya alat yang tersisa baginya adalah manipulasi narasi.

Kesimpulan

Klaim Trump tentang adanya proses negosiasi dengan Iran bukan sebuah kekeliruan atau salah paham diplomatik. Ini merupakan bagian dari pola khasnya: menciptakan prestasi fiktif, mendistorsi kenyataan untuk menutupi kegagalan kebijakan luar negeri, mengelola persepsi publik Amerika, mempertahankan dirinya di pusat perhatian media, menyampaikan pesan kepada sekutu regional, serta mencoba menekan Iran di ranah psikologis.

Pada dasarnya, Trump menggunakan klaim ini untuk menutupi kelemahan internal dan eksternal. Ia ingin menunjukkan bahwa tekanan Amerika berhasil, padahal pernyataan resmi Iran dan fakta lapangan menunjukkan sebaliknya. Klaim ini bukan cerminan realitas, tetapi cerminan kebutuhan politik dan psikologis Trump—kebutuhan untuk tetap tampil sebagai aktor utama dalam isu Iran, bahkan ketika tidak ada negosiasi yang nyata. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA