Search

Refleksi Media Dunia atas Agresi Amerika Serikat-Israel terhadap Iran

Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan yang diumumkan tidak tercapai, tetapi juga semakin banyak bukti yang menunjukkan kebuntuan strategis bagi pihak penyerang. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Sejak awal agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan operasi tersebut tidak tercapai, tetapi juga tanda-tanda kegagalan lapangan dan politik bagi pihak agresor semakin terlihat.

Perang ini, yang dimulai dengan serangan luas dan pembunuhan warga sipil—termasuk siswa-siswa tak bersalah—dengan cepat berkembang menjadi krisis kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas, serta memicu beragam reaksi di media internasional. Meskipun gencatan senjata dua minggu sempat tercapai dan kemudian diperpanjang oleh Trump, jalan menuju berakhirnya agresi ini masih panjang dan kompleks.

Media dunia, masing-masing dengan pendekatan khasnya, berupaya membentuk narasi tentang perang ini; menelaah refleksi tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi nyata perang dan prospeknya.

Media Barat

BBC dalam laporannya tentang sidang dengar pendapat selama enam jam yang penuh ketegangan terhadap Pete Hegseth, Menteri Perang AS, di Komite Angkatan Bersenjata DPR, menulis bahwa dalam penampilan resmi pertamanya sejak perang Iran dimulai, ia menghadapi kritik keras dari Partai Demokrat. Menurut laporan tersebut, Jules Hurst, kepala keuangan Departemen Pertahanan AS, untuk pertama kalinya mengumumkan biaya resmi perang sejauh ini sebesar 25 miliar dolar, dengan sebagian besar digunakan untuk persenjataan dan penggantian peralatan.

BBC menambahkan bahwa permintaan anggaran pertahanan sebesar 1,5 triliun dolar oleh pemerintahan Trump—kenaikan militer terbesar sejak Perang Dunia II—dipertahankan oleh Jenderal Dan Kane sebagai investasi bersejarah untuk keamanan masa depan. Namun, Demokrat seperti John Garamendi menyebut perang ini sebagai perang pilihan yang mahal dan menggambarkan Trump terjebak dalam “rawa perang”, yang memicu reaksi marah dari Hegseth.

BBC juga melaporkan bahwa serangan udara terhadap sekolah di Minab pada hari pertama perang menjadi fokus kritik Demokrat. Adam Smith, ketua komite dari Partai Demokrat, menyebut diamnya Washington selama dua bulan tanpa menerima tanggung jawab sebagai tanda ketidakpedulian. Hegseth hanya menyatakan bahwa insiden tersebut masih dalam penyelidikan.

The Guardian dalam laporan langsungnya tentang perkembangan politik AS menulis bahwa Pete Hegseth untuk hari kedua berturut-turut menghadapi interogasi ketat dari Demokrat di Kongres terkait pengelolaan perang Iran. Senator AS mempertanyakan biaya besar perang ini, baik dari segi keuangan, korban jiwa, maupun berkurangnya cadangan persenjataan penting.

Guardian menambahkan bahwa sidang ini berlangsung di tengah usulan anggaran militer 2027 sebesar 1,5 triliun dolar—angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam sidang sebelumnya, John Garamendi menyebut kinerja Pentagon sebagai contoh ketidakmampuan yang mengejutkan yang menyebabkan bencana politik dan ekonomi di semua level.

New York Times dalam laporannya mengakui bahwa perang Iran, meskipun AS memiliki anggaran militer lebih dari 100 kali Iran, telah mengungkap kelemahan struktural militernya. Surat kabar itu menulis bahwa kontrol Iran atas Selat Hormuz dan posisi unggulnya dalam negosiasi menunjukkan bahwa senjata mahal konvensional AS tidak efektif menghadapi drone dan rudal murah yang diproduksi massal.

Kurangnya kapasitas industri untuk memproduksi amunisi, birokrasi yang usang, serta resistensi kontraktor pertahanan besar terhadap perubahan memperparah situasi. New York Times mengusulkan empat prioritas reformasi: investasi dalam teknologi anti-drone, produksi massal senjata murah sekali pakai, peningkatan kapasitas industri fleksibel, dan kerja sama dengan demokrasi industri lain.

Laporan tersebut menegaskan bahwa sekutu Washington yang sebelumnya dijauhi Trump kini kembali diminta bantuan. Di akhir analisis, diperingatkan bahwa perang Iran telah memberikan “peta jalan” bagi negara seperti China, Rusia, dan Korea Utara untuk melawan kekuatan militer AS.

Media China dan Rusia

CGTN China melaporkan keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC mulai 1 Mei 2026 untuk meningkatkan fleksibilitas dalam menentukan produksi minyak tanpa batas kuota. Ketegangan dengan Arab Saudi disebut sebagai alasan utama. Para ahli menilai langkah ini melemahkan struktur OPEC dan mengurangi pengaruh Saudi, serta berpotensi meningkatkan volatilitas harga minyak dalam jangka panjang.

RIA Novosti dalam analisisnya menulis bahwa panggilan telepon 1,5 jam antara Putin dan Trump—atas inisiatif Rusia—lebih menunjukkan isolasi Trump daripada kebutuhan Moskow. Disebutkan bahwa kondisi politik Trump semakin rapuh akibat konflik dengan sekutu dan tekanan internal.

Putin dalam percakapan itu menekankan kemajuan militer Rusia di Ukraina dan menyatakan kesiapan gencatan senjata. Ia juga memperingatkan Trump bahwa serangan darat AS ke Iran akan berujung pada kegagalan besar. Rusia menawarkan mediasi antara Iran dan AS terkait isu nuklir.

Media Rezim Zionis

Maariv dalam analisisnya menulis bahwa militer Israel, meskipun menyadari ancaman drone, tidak siap menghadapinya. Hizbullah menggunakan drone komersial murah dengan teknologi canggih untuk mengidentifikasi dan menyerang kelemahan posisi Israel di Lebanon selatan.

Penempatan pasukan di pos tetap membuat mereka menjadi target mudah. Penulis mengkritik keras ketidakaktifan militer dan pejabat Israel meskipun solusi sudah tersedia secara global.

Times of Israel menulis bahwa konfrontasi AS-Iran memasuki fase baru dengan pusat gravitasi tetap pada program nuklir Iran, tetapi medan operasional bergeser ke “ruang perang ekonomi”. Iran menggunakan kontrol Selat Hormuz dan mekanisme ekonomi seperti asuransi maritim untuk menekan AS tanpa memicu respons militer langsung.

Hasilnya adalah “keseimbangan rapuh” di mana kedua pihak saling menekan sekaligus menanggung biaya. Iran menghadapi tekanan ekonomi, sementara AS juga menghadapi risiko lonjakan harga minyak hingga 130–140 dolar yang dapat memicu resesi.

Ynet News dalam analisisnya menyoroti fenomena baru: situs taruhan online seperti “Polymarket” yang memungkinkan orang bertaruh pada peristiwa politik dan militer. Pendiri platform menyebutnya sebagai “kebijaksanaan kolektif”, namun kritikus melihatnya sebagai manifestasi ekstrem neoliberalisme yang mereduksi kehidupan dan kematian menjadi keuntungan.

Fenomena ini menimbulkan risiko etika dan keamanan serius, termasuk kemungkinan manipulasi informasi dan campur tangan kriminal dalam keputusan politik.

Dalam analisis lain, Times of Israel menyebut Selat Hormuz bukan sekadar jalur sempit, tetapi “sistem saraf” ekonomi global. Reaksi pasar saham dunia terhadap pembukaan dan penutupannya oleh Iran menunjukkan betapa vitalnya jalur ini.

Namun, disebutkan bahwa Iran—berbeda dengan negara Teluk lainnya—tidak sepenuhnya bergantung pada minyak. Akibat puluhan tahun sanksi, ekonomi Iran telah lebih beragam, dengan minyak hanya menyumbang sekitar 17% dari PDB.

Karena itu, Iran dianggap mampu bertahan bahkan tanpa Selat Hormuz, sementara negara-negara Teluk sangat bergantung padanya. Pernyataan bahwa “Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelumnya” disebut bukan ancaman, melainkan refleksi realitas ekonomi global.

Sebanyak 90% ekspor melalui selat tersebut menuju Asia (India, China, Jepang, Korea Selatan), sementara Eropa menghadapi krisis energi serius. Badan Energi Internasional menyebut situasi ini sebagai tantangan keamanan energi terbesar dalam sejarah.

Seluruh kekacauan global ini, menurut analisis tersebut, berasal dari negara dengan PDB per kapita relatif rendah namun memiliki dampak strategis yang sangat besar. (*)

Sumber: Mehr News

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA