BERITAALTERNATIF.COM – Dalam serangan agresif terbaru Amerika Serikat dan rezim Zionis ke wilayah Iran, perilaku Korea Selatan menarik perhatian karena berusaha menyeimbangkan antara tekanan AS, pertimbangan keamanan energi, kekhawatiran kemanusiaan, serta kebutuhan menjaga jalur komunikasi dengan Teheran secara hati-hati.
Dalam krisis ini, berbeda dengan sebagian sekutu Barat dan Washington, Korea Selatan tidak hanya berhenti pada pernyataan politik, tetapi juga mengambil sejumlah langkah praktis dan pesan politik—mulai dari pemberian bantuan kemanusiaan sebesar 500 ribu dolar melalui Komite Internasional Palang Merah, hingga pengiriman utusan khusus ke Teheran untuk berdiskusi tentang keamanan pelayaran di Selat Hormuz, dan lain-lain.
Pentingnya pendekatan ini semakin jelas ketika krisis di Selat Hormuz secara langsung memengaruhi keamanan pelayaran dan rantai energi Asia Timur. Menurut laporan, puluhan kapal terkait Korea Selatan beserta awaknya sempat terjebak di jalur ini.
Dalam kondisi seperti ini, Seoul tidak hanya bergantung pada tekanan militer seperti yang diharapkan oleh Trump, tetapi juga mengaktifkan jalur dialog langsung dengan Iran.
Berdasarkan hal tersebut, perilaku Korea Selatan dapat dipandang sebagai bentuk tindakan positif namun hati-hati, yang dapat dianalisis dalam tiga level:
Pertama, langkah kemanusiaan dan sikap pro-perdamaian.
Kedua, interaksi langsung dengan Teheran dan pengakuan peran Iran dalam keamanan Hormuz.
Ketiga, menghindari keterlibatan cepat dalam konfrontasi militer dengan Iran, meski ada tekanan dari AS.
Aksi Kemanusiaan dan Sikap Damai Seoul
Tanda pertama dari pendekatan positif Korea Selatan terlihat dalam langkah kemanusiaan dan sikap pro-perdamaian. Di tengah perang AS dan Israel melawan Iran, Seoul tidak hanya mengeluarkan pernyataan umum, tetapi juga mengumumkan bantuan 500 ribu dolar untuk Iran melalui lembaga internasional guna mengurangi dampak kemanusiaan perang.
Langkah ini penting karena Korea Selatan adalah sekutu strategis AS, namun tetap berusaha tidak sepenuhnya mengikuti posisi Washington dan menunjukkan perbedaan antara rakyat Iran dan logika tekanan militer.
Nilai bantuan ini bukan pada jumlahnya, tetapi pada pesan politik dan moralnya. Di tengah meningkatnya dampak kemanusiaan akibat perang, langkah ini menunjukkan bahwa Korea Selatan tidak hanya melihat krisis dari sudut keamanan energi atau kepentingan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan.
Selain itu, pernyataan Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, juga penting. Ia menyerukan “langkah berani menuju perdamaian” dan menekankan perlunya pengurangan ketegangan. Pemerintah Korea Selatan juga mencoba mengangkat isu ini sebagai kepentingan stabilitas global, bukan sekadar isu regional.
Di sisi lain, sikap presiden terkait isu hak asasi manusia terhadap tindakan Israel terhadap Palestina juga menunjukkan adanya sensitivitas di ruang politik Korea Selatan, meskipun pernyataannya memicu kontroversi dan reaksi dari Tel Aviv.
Interaksi Langsung dengan Iran
Tanda lain dari pendekatan positif adalah keputusan Korea Selatan untuk berinteraksi langsung dengan Teheran dalam mengelola krisis keamanan laut dan energi.
Dalam perang 40 hari tersebut, Selat Hormuz menjadi titik krusial bagi negara pengimpor energi seperti Korea Selatan. Dalam situasi ini, Seoul tidak hanya bergantung pada koordinasi dengan Washington, tetapi mengirim utusan khusus ke Iran untuk membahas keamanan kapal, awak kapal Korea, dan jalur pelayaran.
Langkah ini menunjukkan bahwa Korea Selatan secara praktis mengakui bahwa keamanan Selat Hormuz tidak dapat dikelola tanpa dialog dengan Iran.
Dari perspektif strategis, langkah ini mencerminkan realisme diplomatik Seoul—menjaga kepentingan ekonomi dan keamanan sekaligus mempertahankan jalur komunikasi dengan Iran.
Penyeimbangan Hati-Hati dan Menghindari Militerisasi
Aspek lain dari pendekatan Korea Selatan adalah menghindari keterlibatan cepat dalam konflik militer. Setelah Donald Trump meminta sekutu AS untuk berperan lebih dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, Seoul tidak langsung mengambil posisi militer.
Pejabat Korea Selatan menyatakan akan “meninjau secara cermat” permintaan tersebut—ungkapan diplomatik yang menunjukkan kehati-hatian, bukan kesiapan langsung untuk terlibat militer.
Korea Selatan berada dalam posisi sulit: sebagai sekutu keamanan AS sekaligus sangat bergantung pada impor energi dan keamanan jalur laut. Karena itu, Seoul memilih kebijakan tengah—tetap menjaga hubungan dengan AS tanpa terlibat langsung dalam konflik militer dengan Iran.
Bahkan dilaporkan Trump tidak puas dengan kurangnya dukungan beberapa sekutu, termasuk Korea Selatan, dalam isu Hormuz—menunjukkan bahwa sikap hati-hati Seoul cukup terasa.
Secara strategis, ini adalah bentuk “penyeimbangan konservatif” yang bermakna: Korea Selatan tidak ingin merusak aliansinya dengan AS, tetapi juga tidak ingin menanggung biaya perang yang bukan inisiatifnya.
Prospek ke Depan
Ke depan, sikap hati-hati Korea Selatan bisa dilihat sebagai peluang terbatas namun penting bagi Iran. Meskipun Seoul tetap berada dalam kerangka aliansi dengan AS, pengalaman perang ini menunjukkan keinginannya untuk menjaga komunikasi dan menghindari kerugian ekonomi.
Iran dapat memanfaatkan peluang ini melalui dialog terkait keamanan pelayaran, energi, bantuan kemanusiaan, dan perlindungan warga asing, untuk membangun hubungan yang lebih stabil berdasarkan kepentingan praktis kedua pihak.
Bagi Iran, prioritas strategis adalah menerjemahkan posisi geopolitiknya menjadi diplomasi yang bertanggung jawab—menegaskan bahwa keamanan kawasan tidak bisa dicapai melalui tekanan militer, tetapi melalui dialog, saling menghormati, dan pemahaman kepentingan masing-masing.
Dalam kerangka ini, langkah seperti dialog rutin, mekanisme konsultasi krisis, kerja sama kemanusiaan, dan pemisahan isu ekonomi dari konflik keamanan dapat membantu mengurangi kesalahpahaman.
Sementara itu, Korea Selatan—jika ingin menjaga kepentingan jangka panjangnya di Asia Barat—perlu beralih dari pendekatan reaktif ke peran yang lebih aktif, dengan tetap menjaga hubungan dengan AS, sambil memperkuat jalur diplomatik dan teknis dengan Iran. (*)
Sumber: Mehr News












