BERITAALTERNATIF.COM – Founder Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) Danielle Kreb mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pesut mahakam yang populasinya terus menurun akibat berbagai tekanan lingkungan.
Berdasarkan hasil pemantauan RASI, jumlah pesut Mahakam yang tersisa kini diperkirakan hanya sekitar 60 ekor, menurun 25 persen dari sekitar 80 ekor yang masih tercatat pada tahun 2014.
“Pesut tidak punya suara yang bisa dimengerti manusia. Mereka bagian dari ekosistem yang juga menguntungkan manusia jika habitatnya dijaga,” kata Danielle dalam wawancara bersama awak media di Pendopo Wakil Bupati Kukar pada Jumat (17/10/2025).
“Sejak pertama kali saya meneliti pada 1999, jumlah pesut sudah di bawah 100. Itu menunjukkan bahwa sejak awal kondisinya memang sudah kritis,” sambungnya.
RASI memulai penelitian intensif terhadap populasi pesut mahakam sejak tahun 2005. Seiring berjalannya waktu, kondisi habitat justru semakin menghadapi banyak tantangan—mulai dari pencemaran air, peningkatan lalu lintas kapal besar, hingga penggunaan alat tangkap ikan yang berbahaya.
“Dulu mungkin alat tangkap tradisional sudah ada, tapi sekarang banyak yang menggunakan bahan kimia dalam jaring. Ukuran kapal pun semakin besar dan lalu lintas sungai meningkat pesat. Ini semua menjadi ancaman serius bagi pesut mahakam,” jelasnya.
Namun, RASI berhasil menekan angka kematian pesut akibat tangkapan sampingan (bycatch) melalui program inovatif bersama nelayan lokal.
“Dulu sekitar 70 persen kematian pesut terjadi karena terjerat jaring nelayan. Sekarang sudah jauh berkurang,” ujarnya.
RASI memasang alat inovatif di jaring nelayan untuk mengusir pesut agar tidak mendekat, serta menjalankan program penukaran alat tangkap. Lebih dari 160 nelayan kini terlibat aktif dalam inisiatif tersebut.
Kreb yang berlatar belakang biologi mengaku memiliki ketertarikan besar terhadap mamalia air. Ia menyebut pesut mahakam sebagai spesies unik yang sepenuhnya hidup di air tawar dan memiliki perilaku sosial luar biasa.
“Mereka hidup dalam keluarga, sangat sosial, dan bahkan ada pesut betina tua yang membantu menjaga anak-anak muda saat induknya mencari makan. Dari vokalisasi di bawah air, mereka juga punya komunikasi yang kompleks,” tuturnya.
Dia menjelaskan, kegiatan RASI berfokus pada empat komponen utama: Pertama, penelitian dan monitoring,
termasuk pemantauan populasi pesut dan kualitas air habitatnya.
Kedua, perlindungan habitat. Upaya ini melahirkan kawasan konservasi air tawar pertama di Indonesia.
“Tahun 2020, Bupati Kutai Kartanegara menyetujui pembentukan kawasan konservasi perairan di Mahakam, dan tahun 2022 dinaikkan menjadi National Conservation Area oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dari 11 kawasan konservasi perairan nasional, hanya satu yang air tawar—yaitu di Kutai Kartanegara,” jelasnya.
Ketiga, edukasi dan kesadaran masyarakat. RASI secara rutin melakukan kegiatan awareness raising di sekolah-sekolah, dari wilayah Kota Bangun hingga Muara Muntai, untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian pesut dan ekosistem sungai.
Keempat, pengembangan ekonomi alternatif. Untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap perikanan tangkap, RASI membantu pengembangan usaha madu kelulut, keramba ramah lingkungan, dan diversifikasi mata pencaharian lainnya.
Selain ancaman dari alat tangkap, Kreb juga menyoroti aktivitas lalu lintas kapal besar dan pembukaan sempadan sungai sebagai masalah mendesak.
“Kami menemukan banyak ponton besar melintas di anak sungai yang seharusnya jadi habitat penting pesut dan jalur nelayan. Padahal, aturan Kementerian Perhubungan melarang kapal besar melintas di sungai dengan lebar kurang dari 250 meter,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak sempadan sungai kini dibuka dan dijadikan stockpile sementara untuk batu bara atau material lain, padahal seharusnya dilindungi sejauh 100 meter dari tepi sungai.
Kreb juga menyoroti pencemaran logam berat di Sungai Mahakam. Hasil pengambilan sampel air pada April lalu menunjukkan seluruh stasiun pengujian terkontaminasi logam berat seperti tembaga dan kadmium yang melewati ambang baku mutu. “Ini berbahaya bukan hanya untuk pesut, tapi juga untuk masyarakat karena ikan ikut terpapar,” jelasnya.
Untuk menekan laju penurunan populasi pesut, dia menegaskan pentingnya revisi Peraturan Daerah Perlindungan Pesut Mahakam di Kutai Kartanegara yang sudah berlaku sejak 2017.
“Revisi ini penting agar ada pembatasan terhadap alat tangkap berjenis monopolistik dan pembatasan ukuran mata jaring,” ujarnya.
Selain itu, RASI berharap kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Perhubungan dapat ditingkatkan.
“Bukan berarti kegiatan ekonomi dilarang, tapi harus diatur agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap populasi pesut mahakam,” tegasnya.
Di akhir wawancara, Kreb menegaskan bahwa pelestarian pesut bukan sekadar menjaga satu spesies, tetapi juga menyelamatkan ekosistem sungai yang menopang kehidupan ribuan masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam.
“Kalau pesut punah, itu tanda bahwa ekosistem sungai kita sakit. Menjaga mereka berarti menjaga masa depan manusia yang hidup di tepi Mahakam juga,” tutupnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin












