BERITAALTERNATIF.COM – Pernyataan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dalam forum Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menuai respons keras dari kalangan kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Dalam sambutannya, Cak Imin menyampaikan pernyataan yang dianggap menyindir HMI secara langsung: “Kalau ada sesuatu yang tidak tumbuh dari bawah, itu bukan PMII, tapi HMI.”
Ungkapan tersebut sontak memantik perdebatan di tengah masyarakat sipil, terutama kalangan aktivis mahasiswa Islam. Bahkan, sejumlah kader dan alumni HMI merasa tersindir dan menilai pernyataan itu sebagai bentuk pelecehan terhadap sejarah dan perjuangan organisasi mereka.
Salah satu alumni HMI, Adi Prayitno, yang juga dikenal sebagai akademisi dan pengamat politik, turut memberikan tanggapan panjang terkait pernyataan Cak Imin tersebut. Dalam keterangannya, Adi menyebut bahwa pernyataan Cak Imin sebenarnya tidak perlu ditanggapi secara berlebihan karena menurutnya itu hanyalah sebuah candaan politik.
“Bagi saya ini sebenarnya adalah joke politik. Kita tahu bahwa selera humor Cak Imin itu di atas rata-rata. Dalam setiap sambutan, beliau sering melontarkan candaan-candaan segar yang membuat forum menjadi hidup dan riuh. Dan itu style politik Cak Imin yang khas,” ujar Adi sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Adi Prayitno Official pada Jumat (18/7/2025).
Dia juga menegaskan bahwa pernyataan semacam itu sebenarnya lumrah di lingkungan aktivis mahasiswa. Baik kader HMI maupun PMII, menurutnya, sering kali saling menyentil dan meledek dalam forum-forum tertutup.
“Kalau anak-anak HMI cerita tentang sejarah, kadang juga menyentil organisasi lain. Begitu juga dengan PMII, GMNI, atau lainnya. Tradisi ‘nyolek’ ini bukan hal baru,” lanjutnya.
Namun demikian, ia tidak menampik bahwa pernyataan Cak Imin tersebut telah mempertebal rivalitas historis antara dua organisasi besar ini: HMI dan PMII. Rivalitas ini sudah berlangsung lama, bahkan sejak keduanya aktif berkiprah di lingkungan kampus, khususnya kampus-kampus Islam seperti UIN, IAIN, atau STAIN.
“Kalau kita bicara soal organisasi mahasiswa Islam, pasti dua nama ini yang head-to-head: HMI dan PMII. Di pemilihan BEM, presiden fakultas, bahkan ketua jurusan, persaingan keduanya sangat terasa. Bahkan setelah lulus pun, rivalitas itu tetap terbawa sampai ke dunia politik dan birokrasi,” jelasnya.
Ia bahkan mencontohkan bahwa di banyak kampus Islam, baik negeri maupun swasta, persaingan antara HMI dan PMII untuk mengisi jabatan-jabatan strategis kampus sangat kuat. Namun di kampus-kampus umum seperti UI, UGM, dan ITB, justru kekuatan mahasiswa lebih banyak didominasi oleh kelompok-kelompok Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
“Kalau sudah bicara kampus-kampus umum, biasanya yang kuat bukan HMI atau PMII, tapi LDK. Mereka ini basisnya anak-anak muslim kota, yang punya kultur berbeda,” paparnya.
Kembali ke pernyataan Cak Imin, Adi menilai reaksi keras dari kader HMI muncul karena adanya kesan bahwa pernyataan tersebut menuduh HMI sebagai organisasi yang tidak tumbuh dari bawah dan bersifat elitis.
“Banyak yang bilang Cak Imin itu ahistoris. Sejak awal kelahirannya, HMI justru lahir dari kegelisahan sosial dan tumbuh bersama masyarakat. Bahkan para pendiri seperti Lafran Pane sangat memperhatikan akar rumput,” katanya.
Adi juga menyebutkan bahwa sejumlah alumni dan mantan Ketua Umum PB HMI serta pengurus Badko HMI turut menyuarakan protes. Bahkan, ada flyer-flyer ajakan untuk melakukan demonstrasi sebagai bentuk ketidaksetujuan atas pernyataan Cak Imin yang dianggap menyudutkan HMI.
Namun demikian, dia tetap menegaskan bahwa pernyataan tersebut sebaiknya tidak dibesar-besarkan. Ia mengajak semua pihak untuk melihatnya dalam konteks bercanda politik, bukan sebagai bentuk permusuhan ideologis.
“Sebagai kader HMI, saya ketawa saja. Cak Imin itu memang humoris, dari dulu begitu. Tapi ya wajar juga kalau teman-teman bereaksi, karena seolah-olah HMI dicap tidak pernah berproses dari bawah,” katanya.
Menariknya, Adi juga menyinggung adanya candaan balasan dari kader HMI yang menyindir PMII dengan istilah “sahabat yang tidak pernah bertemu Nabi.” Ia menyebut ini sebagai lelucon cerdas yang justru lebih elegan dibanding menyerang secara agresif.
“Candaan seperti itu jauh lebih baik daripada menyerang secara frontal. Misalnya, ada juga yang menyindir: dulu waktu Pilpres 2024 ada calon wakil presiden yang mengusung perubahan, anti-IKN, tapi setelah kalah malah ikut bergabung dengan kekuasaan. Nah, kira-kira siapa itu ya, Cak Imin?” ujarnya penuh satire.
Di akhir pernyataannya, Adi mengajak agar semua pihak tetap menjaga kedamaian, tidak larut dalam konflik yang tidak produktif, dan menjadikan dinamika politik antarorganisasi mahasiswa ini sebagai bagian dari tradisi demokrasi yang sehat.
“Negara ini enggak perlu tegang-tegang amat. Ledek-ledekan antarorganisasi itu biasa. Yang penting tetap guyub, hangat, dan saling menjaga silaturahmi. Perbedaan pandangan itu harusnya memperkaya, bukan memecah,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












