BERITAALTERNATIF.COM – Persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan di Jakarta menjadi sorotan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Biru Voice menilai kondisi pengelolaan sampah di Ibu Kota telah berada dalam situasi darurat dan membutuhkan langkah cepat, tepat, serta kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan.
Ketua Biru Voice, Suryo Susilo, mengatakan Jakarta saat ini menghadapi tantangan besar akibat tingginya volume sampah yang dihasilkan setiap hari.
Berdasarkan data yang disampaikannya, Jakarta memproduksi lebih dari 9.000 ton sampah per hari, dengan sekitar 7.500 ton masih bergantung pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sebagai lokasi pembuangan akhir.
“Darurat sampah di DKI Jakarta harus menjadi perhatian bersama. Ini bukan hanya tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tetapi juga dunia usaha, komunitas, akademisi, dan seluruh warga Jakarta. Penanganannya harus dilakukan secara cepat, terkoordinasi, terintegrasi, dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir,” ujar Suryo dalam rilis yang diterima media ini pada Senin (8/6/2026).
Dia berpendapat, ketergantungan yang sangat besar terhadap TPST Bantargebang membuat sistem pengelolaan sampah Jakarta berada dalam kondisi rentan. Apalagi, kapasitas lokasi tersebut disebut telah mendekati batas kritis setelah puluhan tahun menerima timbunan sampah dari jutaan penduduk Jakarta.
Berbagai laporan juga menunjukkan tingginya tekanan yang dihadapi kawasan tersebut, termasuk risiko longsor akibat akumulasi sampah yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Ia menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat dipandang semata-mata sebagai masalah teknis. Lebih dari itu, sampah merupakan cerminan pola konsumsi masyarakat, budaya hidup, kualitas tata kelola pemerintahan, hingga tingkat kolaborasi antarpemangku kepentingan.
“Jika tidak segera ditangani dengan pendekatan yang lebih progresif, Jakarta berpotensi menghadapi krisis lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga krisis tata kota yang lebih serius pada masa mendatang,” tegasnya.
Tantangan Perkotaan Modern
Dalam pandangan Biru Voice, pengelolaan sampah telah menjadi salah satu indikator penting kemajuan sebuah kota modern. Berbagai kota besar dunia seperti Tokyo, Singapura, Seoul, hingga Kopenhagen dinilai berhasil menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir melalui penerapan kebijakan pemilahan sampah, ekonomi sirkular, pemanfaatan teknologi modern, serta partisipasi aktif masyarakat.
Jakarta, menurut Suryo, perlu bergerak menuju model pengelolaan yang lebih maju dan berkelanjutan. Pasalnya, sampah yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya menimbulkan bau dan merusak pemandangan, tetapi juga menghasilkan emisi gas rumah kaca, mencemari air tanah, menurunkan kualitas udara, memicu berbagai penyakit, serta menyebabkan kerugian ekonomi.
“Setiap kantong sampah yang dibuang sembarangan hari ini adalah tagihan lingkungan yang akan dibayar oleh generasi mendatang,” katanya.
Dia menambahkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menempatkan pengelolaan sampah sebagai salah satu elemen penting dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Dorong Percepatan PSEL
Sebagai solusi jangka panjang, Biru Voice mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempercepat pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy melalui pembangunan Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Menurutnya, pembangunan fasilitas tersebut perlu melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, hingga investor swasta, termasuk dari luar negeri.
“Proyek PSEL diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sistem pembuangan terbuka dan secara signifikan menekan volume sampah yang masuk ke Bantargebang,” ujarnya.
Suryo menilai teknologi serupa telah diterapkan di berbagai kota besar dunia dan terbukti mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
Perkuat Bank Sampah dan Ekonomi Sirkular
Selain percepatan pembangunan PSEL, Biru Voice juga mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui penyediaan mesin pencacah plastik untuk bank sampah yang dikelola warga.
“Kami mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta menyediakan mesin pencacah plastik untuk setiap bank sampah yang dikelola masyarakat. Ini akan meningkatkan nilai ekonomi sampah dan mendorong partisipasi warga,” sarannya.
Pihaknya juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat konsep ekonomi sirkular dengan melibatkan sektor swasta yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan sampah. Bentuk dukungan yang diusulkan antara lain penyediaan lahan daur ulang sampah, fasilitas pendukung, hingga armada pengangkut sampah yang memadai.
Dalam kesempatan tersebut, Suryo juga meminta pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para pengepul dan pemulung yang selama ini berperan penting dalam proses pemilahan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
“Pengepul dan pemulung memiliki keterampilan dalam memilah sampah yang dapat didaur ulang. Peran mereka perlu mendapatkan perhatian dan dukungan karena menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan sampah,” tuturnya.
Optimistis Jakarta Lebih Bersih
Meski tantangan yang dihadapi cukup besar, Biru Voice optimistis persoalan sampah Jakarta dapat ditangani apabila seluruh pihak bergerak bersama dan pemerintah menjalankan berbagai program percepatan yang telah direncanakan.
“Ya, kami sangat berharap dalam dua tahun ke depan kondisi sampah di Ibu Kota akan jauh lebih terkendali dan Jakarta bisa menjadi kota yang lebih bersih. Dengan begitu masyarakat dapat hidup lebih sehat, nyaman, dan sejahtera,” pungkas Suryo. (*)
Editor: Ufqil Mubin










