BERITAALTERNATIF.COM – Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (ABI) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menutupan rangkaian Musyawarah Daerah III pada hari Sabtu (20/9/2025) sore di Gedung KNPI Kukar.
Musda kali ini menghasilkan keputusan yang menetapkan Mas’ud sebagai ketua DPD ABI Kukar periode 2024-2029.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah ABI Kaltim Sayyid Thoriq Assegaff menyampaikan sambutan. Berikut pernyataan lengkap beliau:
Alhamdulillah, hari ini kita telah merampungkan seluruh agenda Musyawarah Daerah III DPD Ahlulbait Indonesia Kabupaten Kutai Kartanegara. Seluruh pembahasan program kerja telah dituntaskan, dan kita juga telah melaksanakan pemilihan ketua baru. Alhamdulillah, kita sudah mendapatkan ketua untuk periode 2024-2029.
Musda kali ini merupakan musda terakhir dari seluruh DPD yang ada di Kalimantan Timur. Insyaallah, setelah ini semua DPD akan segera mengaktifkan roda organisasi untuk bersama-sama menjalankan dan menerapkan rekomendasi dari setiap musda di daerah masing-masing, kemudian diimplementasikan sebagai program kerja nyata.
Untuk diketahui, musda di Kukar ini adalah musda yang masih menggunakan metode pemilihan berdasarkan musyawarah. Sebelumnya, dua DPD lain juga melakukan hal yang sama dengan beberapa pertimbangan, antara lain untuk mempersingkat waktu dan karena calon ketua sudah diketahui sejak awal. Hal ini menunjukkan dua hal:
Pertama, kita memiliki tradisi musyawarah yang baik sehingga tidak diperlukan voting atau perdebatan panjang; cukup duduk bersama, bermusyawarah, dan mufakat tercapai.
Kedua, sisi negatifnya adalah hal ini menunjukkan masih ada kekurangan dalam proses kaderisasi, yang seharusnya menjadi kebutuhan penting untuk keberlangsungan organisasi.
Kaderisasi ke depan sangatlah penting. Namun kaderisasi tidak akan berjalan baik apabila kepengurusan sekarang tidak melaksanakan program secara maksimal. Salah satu program utama adalah penguatan kader. Sebab kader tidak cukup hanya diberikan teori dan pelatihan, mereka juga memerlukan lahan praktik. Lahan praktik terbaik adalah melalui kerja-kerja organisasi. Jika organisasi berjalan dengan baik, maka pelatihan dan pendidikan kader akan benar-benar menghasilkan kader yang siap dan berhasil.
Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengurus DPD ABI, khususnya kepada Bapak Suleiman yang telah mengawal DPD ini selama lima tahun terakhir. Kita berharap para pengurus lama tidak melepas tanggung jawab mereka terhadap organisasi. Khidmat itu tidak harus selalu berada di dalam struktur kepengurusan, karena dukungan sistem dari luar juga sangat penting demi keberlangsungan kerja organisasi.
Kita semua mengetahui bahwa kondisi organisasi kita saat ini menuntut kerja kolektif. Pada hakikatnya, semua adalah pemimpin, semua adalah bagian penting. Karena kita bekerja bersama-sama secara kolektif. Oleh karena itu, saya berharap seluruh pengurus sebelumnya tetap berkontribusi dan mendukung kepengurusan yang baru.
Khidmat tidak mengenal batas waktu. Selama seseorang hidup, selama itu pula ia memiliki kewajiban berbakti kepada agamanya. PNS bisa berhenti dan tidak lagi menerima hak-haknya setelah pensiun, tetapi dalam khidmat, amal yang dilakukan bernilai abadi. Tidak hanya profit duniawi, tetapi juga profit ukhrawi yang akan terus hidup dan bernilai hingga akhirat. Inilah yang membuat khidmat berbeda: ia adalah pengabdian yang tidak pernah selesai.
Saya tadi sempat menyampaikan kepada para pengurus ketika briefing tadi, bahwa semakin tua seharusnya kita semakin giat menanam amal. Supaya ketika tiba saatnya menuai, kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan sampai usia dijadikan alasan untuk mundur, atau kelemahan dijadikan dalih untuk berhenti. Justru semakin berkurang energi kita, semakin harus ditingkatkan usaha kita. Karena sebentar lagi, kita akan berhenti sama sekali dari urusan pengumpulan amal. Dunia ini adalah tempat menanam, sementara akhirat adalah tempat perhitungan. Di sana tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.
Jangan pernah merasa bahwa amal yang sudah kita miliki sudah cukup. Jangan merasa bahwa kontribusi yang telah diberikan sudah menjamin kita akan selamat. Itu hanyalah ilusi, sebuah bisikan malas yang datang dari setan. Kita bisa saja terlena, bukan hanya oleh kenyamanan dan kemapanan, tetapi juga oleh kelemahan tubuh atau penyakit yang membuat kita enggan berbuat. Padahal, justru saat kondisi semakin lemah, di situlah kita dituntut untuk memaksimalkan apa yang tersisa dari diri kita.
Mari kita menengok Karbala. Di sana, perjuangan bukan hanya milik anak-anak muda atau mereka yang dalam kondisi prima. Di Karbala hadir orang tua, remaja, bahkan yang sudah renta dan sakit sekalipun. Mereka semua sadar bahwa berada bersama Imam Husain as adalah perjuangan kebenaran, dan mereka tidak rela mengendurkan semangatnya.
Diceritakan, ada orang yang berangkat ke Karbala sambil menyemir janggutnya agar terlihat muda, atau menyokong tubuhnya dengan tongkat agar tetap bisa berdiri tegak di hadapan imamnya. Itu menunjukkan kesadaran penuh bahwa perjuangan bersama Imam Husain as adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, meskipun kondisi tubuh tidak lagi kuat.
Karbala mengajarkan kepada kita bahwa pengabdian sejati adalah memanfaatkan seluruh potensi yang ada, sekecil apa pun, untuk menegakkan kebenaran. Mereka yang berkhidmat kepada Ahlulbait dengan tulus, meskipun wafat bukan di medan perang, tetap akan dicatat sebagai syuhada. Selama ia hidup di jalan khidmat kepada Ahlulbait, selama ia menjaga amanah perjuangan Imam Husain as, maka pengorbanannya tercatat sebagai syahadah.
Karena itu, umur seharusnya tidak membuat kita melemahkan semangat. Justru semakin tua, semakin sempit waktu kita untuk berkhidmat, maka semakin besar pula kesungguhan yang harus kita tanamkan. Demikian pula sakit, jangan menjadikannya alasan untuk berhenti berbuat. Sakit justru menjadi tanda bahwa kematian semakin dekat, sehingga persiapan harus semakin kuat. Semua potensi yang tersisa harus diarahkan untuk menyambut kematian itu dengan indah—kematian di jalan Husain as.
Saya ingin kembali mengingatkan tentang betapa pentingnya khidmat dalam setiap keadaan, tanpa terkecuali. Tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti berkhidmat, meskipun kondisi kita seringkali tidak ideal.
Begitu juga dengan kondisi ekonomi. Banyak dari kita beralasan, “Nanti kalau sudah ada uang baru bisa berkhidmat.” Padahal, kenyataannya, kemapanan itu tidak pernah benar-benar ada di dunia ini. Materi selalu berubah, kondisi ekonomi tidak pernah stabil. Hari ini mungkin kita merasa cukup, besok bisa saja kita kekurangan. Maka, jika kita menunggu mapan secara ekonomi untuk berkhidmat, berarti kita menunggu sesuatu yang tidak pasti. Pada akhirnya, kita hanya akan berhadapan dengan kekecewaan.
Karena itu, jangan menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai penghalang. Jangan menciptakan alasan-alasan untuk tidak berkhidmat. Sebab, pada akhirnya, kita semua akan berhadapan dengan Pemilik Zaman. Ia akan menanyakan, “Bagaimana engkau habiskan umurmu? Bagaimana engkau gunakan tenaga dan potensi yang telah diberikan kepadamu?” Semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.
Ingatlah, kita hidup bukan seperti pemikiran kaum materialis yang menganggap hidup tanpa arah, lahir tanpa sebab, dan mati tanpa bekas. Tidak. Kita hidup dengan tujuan, dan kita mati dengan perhitungan. Itulah yang harus kita camkan bersama.
Sekali lagi, saya tekankan: dalam khidmat, jumlah bukanlah hal yang utama. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu mengatur ritme, menjaga harmonisasi, dan menyusun gerakan secara teratur. Sebab, sebuah gerakan hanya akan kuat jika ia dibangun di atas keteraturan dan organisasi yang rapi.
Inilah semangat yang diajarkan oleh Alquran. Allah Swt berfirman dalam Surah As-Saff ayat 4, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”
Perhatikan, Allah tidak menyebut jumlah, kekuatan, atau harta. Yang Allah sebut adalah metode. Allah menekankan bentuk gerakan: tersusun rapi, rapat, dan kokoh seperti bangunan. Inilah yang mendatangkan kecintaan Allah.
Maka, yang dicintai Allah bukan sekadar orang yang berjuang, tetapi mereka yang berjuang dengan barisan yang kokoh, dengan gerakan yang tertib, rapat, dan terorganisir. Itulah syarat yang menjadikan perjuangan bernilai tinggi di sisi-Nya.
Ketika Allah menurunkan cinta-Nya, maka cinta itu akan melahirkan kehormatan dan keberkahan. Keberkahan itu akan menguatkan langkah-langkah kita, melapangkan jalan kita, dan menjadikan perjuangan kita lebih berarti. Karena itu, mari kita pastikan bahwa setiap gerakan kita teratur dan penuh komitmen, agar kita termasuk dalam golongan yang dicintai Allah Swt.
Semoga apa yang kita lakukan hari ini, apa yang saya sampaikan ini, dapat menjadi tambahan motivasi bagi kita semua untuk semakin teguh dalam melaksanakan amanah organisasi. Mari jadikan hasil musyawarah kali ini bukan sekadar catatan, tetapi sebuah komitmen nyata untuk melaksanakan program kerja dengan sungguh-sungguh.
Semoga Allah Swt merahmati pertemuan kita ini, memberkahi langkah kita, menerima doa-doa kita, dan melipatgandakan pahala dari setiap khidmat yang kita berikan. Semoga Allah juga segera menghadirkan Ṣāḥib al-Zamān di tengah-tengah kita, mengangkat segala kesulitan dan penderitaan umat, serta membawa keadilan dan rahmat bagi seluruh manusia.
Insyaallah, kesempatan itu akan datang, dan semoga kita semua termasuk di dalam barisan orang-orang yang siap menyambut Imam Zaman. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












