BERITAALTERNATIF – Perkembangan terbaru di kawasan Laut Karibia kembali menempatkan wilayah ini di pusat ketegangan geopolitik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dalam langkah terbarunya, menyebut pemerintah Caracas sebagai “teroris”, seiring dengan peningkatan tekanan terhadap Venezuela. Banyak analis menilai keputusan ini, yang dianggap sejalan dengan kebijakan tekanan Washington, membuka jalan secara hukum dan politik bagi langkah-langkah yang lebih keras, termasuk ancaman intervensi militer atau blokade laut. Situasi ini berpotensi mengancam secara serius keamanan energi, jalur pelayaran, serta stabilitas rapuh kawasan Karibia.
Bagi Iran, pentingnya perkembangan ini tidak terbatas pada jauhnya geografi Amerika Latin. Kedekatan strategis Teheran dan Caracas, kerja sama politik, ekonomi, dan energi di antara kedua negara, serta pengalaman bersama dalam menghadapi sanksi dan tekanan Amerika, menjadikan setiap eskalasi terhadap Venezuela berdampak langsung pada perhitungan kebijakan luar negeri Iran. Dari sudut pandang Teheran, pendekatan sepihak dan ilegal Washington terhadap pemerintahan independen membentuk pola berbahaya dalam sistem internasional yang dapat meluas ke kawasan lain.
Dalam konteks ini, Republik Islam Iran berulang kali menegaskan kecaman keras terhadap segala bentuk intervensi militer, ancaman penggunaan kekuatan, atau campur tangan dalam urusan dalam negeri Venezuela. Iran menilai bahwa penyelesaian sengketa hanya dapat ditempuh melalui dialog, hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan nasional negara-negara. Menurut Teheran, stabilitas di kawasan Karibia bukan semata isu regional, melainkan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menghadapi unilateralisme dan menjaga tatanan multipolar dunia.
Konflik antara Amerika Serikat dan negara-negara Amerika Latin bukanlah fenomena baru. Sejarahnya membentang ratusan tahun, bahkan sebelum deklarasi resmi Doktrin Monroe yang memandang Amerika Latin sebagai “halaman belakang Amerika”. Sejak saat itu, perjuangan rakyat Amerika Latin melawan kolonialisme dan eksploitasi Amerika berkembang, terwujud dalam gerakan pembebasan yang dipimpin tokoh-tokoh seperti Simon Bolivar. Apa yang kini terjadi di kawasan Karibia dan Amerika Selatan bagian utara mengandung potensi eskalasi ketegangan dan penyulutan krisis, karena rakyat Amerika Latin telah membuktikan bahwa mereka tidak tunduk dan sangat peka terhadap dominasi asing.
Contoh jelas perlawanan ini terlihat pada perjuangan rakyat Kuba melawan Amerika Serikat, berbagai kudeta di sejumlah negara, serta perkembangan di Cile dan penggulingan Salvador Allende, juga di Guyana dan negara-negara lain. Secara umum, Amerika Latin tengah menyaksikan gelombang besar semangat perlawanan yang dalam beberapa periode tampil jelas, termasuk dalam bentuk teologi pembebasan. Dalam kerangka inilah langkah terbaru pemerintah Amerika, yaitu mengklasifikasikan pemerintah Venezuela sebagai organisasi teroris, dapat dianalisis. Langkah ini pada dasarnya merupakan gagasan pribadi Trump dan hingga kini belum diumumkan secara resmi oleh lembaga-lembaga negara Amerika.
Trump kerap mengangkat isu seperti penutupan wilayah udara Venezuela atau Kolombia melalui pesan daring, tanpa pernyataan resmi dari institusi seperti Pentagon. Pola perilaku ini berlanjut bersamaan dengan perdebatan mengenai pelabelan pemerintah Venezuela sebagai organisasi teroris.
Pertanyaan apakah Amerika Serikat akan melancarkan serangan terhadap Venezuela merupakan isu penting. Jika serangan semacam itu terjadi, khususnya di darat, rakyat Venezuela pasti akan memberikan perlawanan. Meski Amerika memiliki kekuatan militer besar, langkah tersebut kemungkinan besar akan menyeretnya ke dalam rawa konflik yang jauh lebih dalam dan sulit untuk segera keluar.
Gerakan Bolivarian dan mobilisasi rakyat di Venezuela menunjukkan kapasitas perlawanan yang tinggi. Sejarah Venezuela sejak jatuhnya diktator Perez Jimenez pada 1958 hingga naiknya pemerintahan revolusioner Hugo Chavez pada 1998 memperlihatkan bahwa negara ini selama sekitar empat dekade berada di bawah pengaruh Amerika, dengan dua partai pro-Amerika mendominasi kekuasaan.
Tokoh-tokoh seperti Menteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio, kelompok oposisi di Venezuela dan Kuba, serta sayap kanan Amerika Latin yang berbasis di Florida, berupaya keras mendorong Trump untuk melancarkan serangan besar. Jalur ini merupakan pertaruhan besar yang dapat menjebak Trump dalam konflik berkepanjangan.
Venezuela adalah negara merdeka, anggota tetap dan salah satu pendiri OPEC, yang sebelumnya mengekspor sekitar 3,5 hingga 4 juta barel minyak per hari. Akibat sanksi keras, negara ini kini terisolasi dari pasar minyak global. Bahkan jika Amerika berhasil menguasai Venezuela, pemulihan cepat sektor minyak tidaklah mudah karena infrastruktur yang rusak dan usang, serta membutuhkan investasi besar. Karena itu, dampaknya terhadap pasar minyak global dalam jangka pendek dinilai terbatas.
Trump pada dasarnya tengah berjudi besar. Kebijakan ini lebih didorong oleh permusuhan sebagian migran dan pengungsi Amerika Latin di Florida terhadap pemerintah kawasan, ketimbang strategi jangka panjang yang matang. Meski mungkin memberikan keuntungan politik jangka pendek, langkah ini berisiko memicu gejolak luas di seluruh Amerika Latin.
Inti persoalannya adalah kebijakan independen dalam sistem internasional. Negara-negara yang bersikeras pada kemandirian pengambilan keputusan akan menghadapi tekanan Amerika, di mana pun mereka berada. Washington kini memfokuskan tekanan ke Amerika Latin karena negara-negara di sana dinilai lebih rentan secara struktural.
Iran menegaskan tidak memiliki peran dalam membentuk atau memperparah sentimen anti-Amerika di Amerika Latin. Hubungan Iran dengan negara-negara kawasan bersifat historis dan berdasarkan saling menghormati. Konflik rakyat Venezuela dan Kuba dengan Amerika memiliki akar sejarah panjang dan bersumber dari dinamika internal mereka sendiri.
Jika menilik kebijakan Amerika di Karibia, terlihat bahwa Washington kerap melempar kesalahan, termasuk dalam isu narkotika, padahal pusat utama perdagangan dan jaringan keuangan narkoba berada di Amerika Serikat sendiri, khususnya Florida. Pendekatan ini pada dasarnya adalah penghindaran tanggung jawab.
Secara keseluruhan, kebijakan Amerika Serikat terhadap Amerika Latin adalah kebijakan yang keliru, merugikan rakyat kawasan tersebut, dan pada akhirnya juga merugikan Amerika sendiri. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












