BERITAALTERNATIF.COM – Meskipun penyitaan kapal tanker dan kapal yang terkait dengan Iran oleh Amerika Serikat memang memiliki dampak, hal itu sangat dibesar-besarkan oleh pemerintahan AS yang kehabisan opsi yang layak.
Sementara para pejabat pemerintahan Donald Trump berulang kali mengklaim bahwa blokade mereka terhadap Iran—termasuk terkait Selat Hormuz—merupakan strategi yang berhasil, kenyataannya justru sebaliknya: Teheran tetap bertahan dan bahkan berkembang. Alih-alih memanfaatkan gencatan senjata sementara sebagai peluang untuk mencari jalan keluar yang realistis, Washington justru menggunakan berbagai argumen rumit untuk meyakinkan publik tentang “jalan keluar” yang sebenarnya tidak ada.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengklaim bahwa industri minyak Iran berada di bawah tekanan berat akibat blokade ekspor, bahkan membuat pernyataan berlebihan tentang kemungkinan infrastruktur minyak Iran akan hancur. Namun, meskipun penyitaan kapal terkait Iran memang berdampak, hal tersebut dibesar-besarkan oleh pemerintahan AS yang kekurangan alternatif strategi.
Cara Trump dan pejabat seniornya berbicara seolah-olah strategi ini—yang secara sinis disebut sebagai “kartu pembalik”—akan menyebabkan kejatuhan ekonomi Iran. Namun faktanya, AS terus menambah sanksi, berusaha menyita atau membekukan lebih banyak aset Iran, serta mengeluarkan ancaman tanpa henti. Jika blokade yang diberlakukan benar-benar efektif, langkah-langkah tambahan ini sebenarnya tidak diperlukan.
Bahkan lembaga pemikir pro-perang seperti Foundation for Defense of Democracies (FDD) mendorong tindakan yang lebih agresif. Dalam sebuah artikel kebijakan berjudul Trump Strikes at China’s Iranian Oil Trade, but It’s Not Enough, FDD menyatakan bahwa strategi saat ini belum memadai. Artinya, bahkan pendukung keras perang terhadap Iran pun tidak sepenuhnya yakin dengan pendekatan Trump.
Dalam kenyataannya, Republik Islam Iran telah bertahan di bawah sanksi AS selama sekitar 47 tahun. Meski sanksi tersebut berdampak berbeda pada setiap fase konflik, Iran berhasil beradaptasi. Negara ini juga mampu bertahan selama 8 tahun perang berat dengan negara tetangga setelah diserang oleh mantan Presiden Irak Saddam Hussein, serta menghadapi salah satu kampanye sanksi paling keras dalam sejarah modern. (*)
Penulis: Robert Inlakesh
Sumber: Al Mayadeen












