Search

MW KAHMI Kaltim Gelar Diskusi Publik, Bedah Isu Sunni-Syiah dalam Konteks Perang Iran dan Israel

Kegiatan diskusi publik yang diselenggarakan MW KAHMI Kaltim pada Selasa, 8 Juli 2025. (Istimewa)

BERITAALTERNATIF.COM – Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Kalimantan Timur menggelar diskusi publik untuk membedah isu klasik yang kerap dijadikan alat propaganda dan pemecah belah umat.

Diskusi dengan tema Posisi Muslim Indonesia dalam Konstalasi Perang Iran Vs Zionis Israel: Studi Peluang Unifikasi Keumatan Antara Sunni-Syiah ini digelar sebagai bagian dari program kajian rutin bulanan MW KAHMI Kaltim dalam rangka mendorong kesadaran literasi dan memperkuat pemahaman kebangsaan.

Koordinator Presidium MW KAHMI Kaltim Murjani menegaskan bahwa diskusi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali semangat literasi dan kecendekiaan di tengah masyarakat.

“Artinya ini bahasa lain itu kecendikiaan kita lah ya, dan kita tidak meninggalkan spirit itu,” ungkapnya saat ditemui usai diskusi pada Selasa (8/7/2025) malam.

Dia menjelaskan, diskusi publik ini akan menjadi agenda rutin MW KAHMI untuk membahas isu-isu aktual yang kerap menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

“Kami mencoba memberikan satu makna dari fenomena yang ada,” tuturnya.

Salah satu isu yang diangkat dalam forum ini adalah perdebatan seputar Sunni dan Syiah. Menurut Murjani, meski kerap muncul di permukaan sebagai konflik ideologis, pada dasarnya isu ini lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.

Jika konstalasi perang di Timur Tengah memanas, maka isu ini menjadi opini publik yang selalu hangat.

Murjani mengatakan tujuan isu itu hanya untuk melemahkan persatuan umat Islam.

“Isu antara Syiah-Sunni, itu sebenarnya sudah isu klasik. Kita harus membangun satu pemahaman yang komprehensif, kesadaran kolektif bahwa ternyata isu gap antara Syiah-Sunni itu sebenarnya bukan persoalan ideologis lagi,” tegasnya.

Ia menambahkan, narasi perpecahan tersebut muncul sebagai konsumsi politik yang sengaja dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu.

“Karena ada kepentingan pihak tertentu yang menginginkan lemahnya kekuatan umat Islam,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat Indonesia tidak boleh menjadi objek dari konflik luar yang digunakan sebagai sarana propaganda.

“Kesadaran ini menjadi kesadaran yang harus dibangun secara kolektif,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, MW KAHMI menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda untuk memberikan perspektif mengenai isu Sunni-Syiah.

Mereka adalah Musa Al-Kazim, akademisi politik internasional yang tengah menempuh studi di Universitas Islam Internasional Indonesia, serta Sultan Fatani, dosen UINSI Samarinda yang sedang menempuh studi doktoral di Iran.

Menurut Murjani, kedua narasumber dihadirkan untuk memberi penjelasan secara jujur dan objektif sehingga publik mendapatkan pemahaman yang utuh.

“Narasumber dari Syiah ada, dari Sunni ada, dan itu mereka ternyata satu premis, satu persepsi yang sama. Ternyata Syiah-Sunni itu enggak ada konflik sebenarnya,” ungkapnya.

Murjani menyoroti bahwa persoalan sering kali muncul di tingkat masyarakat awam yang belum memiliki literasi yang cukup.

“Yang menjadi persoalannya kan di grassroots. Awam yang tidak memiliki sumber data, literasi yang cukup, akhirnya apa? Mereka termakan oleh isu propaganda yang kemudian itu mendistorsi semangat kebersamaan dan kesatuan umat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ali
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA