Search

Muhlis Suhaeri-Mursalin Pimpin AMSI Kalbar 2025-2029

Muhlis Suhaeri terpilih sebagai Ketua AMSI Kalimantan Barat. (Istimewa)

BERITAALTERNATIF.COM – Pagi itu di ruang rapat Hotel Harris Pontianak, udara terasa berbeda.

Bukan hanya karena aroma kopi yang menguar dari meja-meja kecil, tapi juga karena energi harapan yang memenuhi ruangan.

Di antara deretan kursi dan puluhan wajah wartawan, editor, hingga pemilik media siber, seorang pria duduk tenang dengan senyum tipis di bibirnya.

Matanya bersinar, seperti menyaksikan mimpi yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi nyata.

Namanya Muhlis Suhaeri. Ia bukanlah nama asing di jagat jurnalistik Kalimantan Barat.

Sebagai CEO Insidepontianak.com, ia telah cukup lama berkecimpung dalam dunia pemberitaan.

Tanggal 11 Juni 2025 adalah momen yang berbeda. Konferensi III Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalbar sedang berlangsung, dan ia baru saja terpilih sebagai Ketua AMSI Kalbar periode 2025-2029.

Mursalin, Direktur Utama PON TV, mendampinginya sebagai Sekretaris. Pasangan yang awalnya tak banyak diprediksikan oleh para pengamat internal organisasi ini berhasil memperoleh 12 suara dari 22 suara yang tersedia.

Sementara pesaing mereka, Lisius Sahat Tinambunan-Arman, hanya meraup 8 suara, dan satu suara dinyatakan tidak sah.

Ini bukan sekadar kemenangan politik organisasi. Ini adalah simbol perubahan, ambisi, dan semangat kolaboratif yang ingin menegaskan bahwa media siber di Kalbar tak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Perjalanan Karier Muhlis Suhaeri

Jika menelusuri riwayat karier Muhlis di tubuh AMSI Kalbar, kita akan menemukan pola naik-turun yang biasa dialami oleh figur publik.

Ia pertama kali masuk dalam struktur organisasi sebagai Sekretaris AMSI Kalbar periode 2023-2025, mendampingi Kundori yang saat itu menjabat sebagai Ketua.

Pada tahun 2024, segala sesuatu berubah. Kundori mundur dari jabatannya setelah terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalbar.

Di situlah Muhlis ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua AMSI Kalbar. Awalnya, banyak yang meragukan kemampuan pria kelahiran Pontianak tersebut untuk menjaga stabilitas organisasi di tengah pergolakan dinamika internal dan eksternal.

Namun, dia membuktikan bahwa ia tak hanya mampu menjaga eksistensi AMSI Kalbar, tetapi juga memperkuat hubungan dengan stakeholder, termasuk pemerintah daerah dan komunitas media lokal.

Muhlis menjadi figur yang dikenal lugas namun tetap rendah hati, sosok yang mampu membangun harmoni di tengah perseteruan ideologi antaranggota.

Dan kini, dia resmi menjadi Ketua tetap. Bukan lagi Plt; bukan lagi penjabat sementara. Tapi pemimpin sejati yang dipilih secara demokratis oleh rekan-rekannya.

Sosok Dinamis di Balik Layar

Sementara Muhlis dikenal sebagai tokoh yang cenderung reflektif, Mursalin hadir sebagai partner yang lebih dinamis.

Sebagai Direktur Utama PON TV, ia punya pengalaman langsung menghadapi tantangan bisnis media di tengah gempuran teknologi digital.

Pria yang dikenal aktif dalam pengembangan media lokal di Kalbar ini memiliki visi yang selaras dengan Muhlis: membangun ekosistem media yang sehat, independen, dan profesional.

Mereka percaya bahwa kolaborasi antarmedia siber adalah kunci untuk bertahan di era disrupsi.

Dalam sebuah obrolan santai usai konferensi, Mursalin menyebut bahwa ia dan Muhlis tidak datang sebagai “penyelamat” atau “revolusioner”, tapi sebagai dua orang yang ingin bekerja keras demi memastikan media siber di Kalbar tetap relevan dan diakui.

“Kami sadar, tantangan ke depan akan makin berat. Tapi kami yakin, dengan solidaritas dan kerja sama, kita bisa lewati semua itu,” ujarnya.

Konferensi Damai dan Demokratis

Konferensi III AMSI Kalbar berlangsung aman dan damai. Tak ada ricuh, tak ada gesekan tajam.

Semua peserta tampak menghargai proses demokrasi yang dilakukan secara transparan dan akuntabel.

Proses pemilihan diawasi ketat oleh panitia agar hasilnya benar-benar mencerminkan kehendak mayoritas anggota.

Acara dibuka oleh Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan.

Dalam sambutannya, dia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalbar siap mendukung eksistensi AMSI Kalbar sebagai wadah strategis bagi perkembangan media siber di daerah.

“Saya sangat mendukung AMSI. Selalu men-support AMSI. Jangan pernah takut dalam menegakkan kebenaran, memberikan kritik saran kepada siapa pun selagi benar,” tegasnya.

Krisantus berharap AMSI Kalbar menjadi wadah pembentukan ekosistem media yang sehat, edukatif, dan inovatif.

Ia juga mendorong organisasi ini turut berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui pemberitaan yang obyektif dan bermakna.

Sebelum rangkaian pemilihan dimulai, Konferensi diawali dengan Seminar Daerah bertajuk Kolaborasi Membangun Media Massa yang Berkualitas dan Bisnis Berkelanjutan di Era Digital.

Seminar ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi media, hingga pejabat pemerintah.

Diskusi hangat terjadi di antara peserta, membahas isu-isu aktual seputar transformasi media, regulasi digital, serta strategi monetisasi konten di platform online.

Tantangan Besar di Depan Mata

Terpilihnya Muhlis-Mursalin tentu saja membawa harapan besar bagi anggota AMSI Kalbar.

Namun, di balik sorak-sorai dan tepuk tangan, ada realitas yang tak bisa diabaikan: industri media kini tengah berada di persimpangan jalan.

Di satu sisi, digitalisasi memberi peluang besar bagi media siber untuk berkembang.

Platform online memungkinkan jangkauan yang lebih luas, interaksi langsung dengan audiens, serta fleksibilitas dalam penyajian informasi.

Di sisi lain, tantangan seperti hoaks, polarisasi opini, tekanan politik, hingga krisis pendanaan menjadi ancaman nyata yang sulit dihindari.

Muhlis dan Mursalin sadar betul soal ini. Dalam pidato pertamanya sebagai Ketua terpilih, Muhlis menegaskan bahwa prioritas utama mereka adalah memperkuat sinergi antaranggota AMSI Kalbar.

Ia ingin membangun jaringan media siber yang saling mendukung, bukan saling bersaing secara tidak sehat.

“Kami ingin AMSI Kalbar menjadi rumah bagi semua media siber di Kalimantan Barat. Tempat di mana kita bisa belajar bersama, berbagi pengalaman, dan menciptakan konten yang bermakna tanpa harus khawatir mati karena kurangnya dukungan,” ujarnya.

Selain itu, Muhlis menyoroti menekankan pelatihan jurnalistik dan peningkatan kapasitas SDM. “Jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang beretika. Dan untuk itu, kita butuh pelatihan rutin, workshop, dan program magang yang serius.”

Harapan dari Generasi Milenial dan Z

Di tengah situasi yang serius, Muhlis-Mursalin juga membawa angin segar bagi generasi milenial dan Generasi Z yang ingin terjun ke dunia jurnalistik.

Mereka sadar bahwa masa depan media ada di tangan anak-anak muda yang akrab dengan dunia digital.

Oleh karena itu, salah satu agenda yang mulai digagasnya adalah pembentukan komunitas milenial AMSI Kalbar.

Komunitas ini akan menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk belajar menulis, membuat video dokumenter, hingga mengelola podcast dan media sosial.

“Anak muda adalah agen perubahan. Mereka punya ide-ide segar, cara pandang yang unik, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Kami ingin mereka menjadi bagian dari ekosistem media yang kita bangun,” katanya.

Menjadi Garda Terdepan

Pemilihan Muhlis-Mursalin di tengah arus disrupsi digital bukanlah kebetulan. Ini adalah momentum yang tepat untuk menegaskan bahwa media siber bukan sekadar alat pemberitaan, tapi juga garda terdepan dalam pembentukan opini publik.

Mereka sadar bahwa tantangan ke depan akan makin kompleks. Regulasi digital yang masih kabur, dominasi platform asing, hingga minimnya literasi media di masyarakat menjadi PR besar yang harus diselesaikan secara kolektif.

Namun, dengan tekad, semangat kolaborasi, dan kepercayaan diri yang tinggi, Muhlis dan Mursalin optimis bisa membawa AMSI Kalbar menjadi lebih kuat.

Lebih dari itu, mereka ingin organisasi ini menjadi contoh nyata bagaimana media siber bisa survive, bahkan thrive, di tengah badai perubahan.

“Kami tak akan sendirian. Kami percaya pada tim, pada rekan-rekan anggota AMSI, dan pada masyarakat Kalimantan Barat yang masih percaya pada media yang jujur dan adil,” ucap Muhlis.

Dan di sanalah titik baliknya: ketika kepercayaan publik mulai pudar, maka media yang profesional, etis, dan berintegritaslah yang akan kembali membangkitkannya.

Muhlis dan Mursalin mungkin belum menjadi jawaban final, tapi mereka adalah langkah awal yang menjanjikan. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA