BERITAALTERNATIF.COM – Dilansir dari Poros Perlawanan, sebuah babak baru dalam konfrontasi panjang antara Poros Perlawanan dan rezim Zionis dimulai hari ini, Jumat 13 Juni. Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mengeluarkan Pengumuman Nomor 2 yang mengguncang publik dan dunia internasional.
Dalam pernyataan resmi yang dibacakan melalui saluran media Pemerintah, Iran menegaskan bahwa serangan terbaru yang menewaskan jajaran tertinggi militernya bukan hanya aksi terorisme biasa, melainkan juga bentuk agresi terang-terangan yang membuka jalan menuju konfrontasi terbuka.
Dalam serangan yang dilakukan oleh Rezim Pendudukan Al-Quds, tiga tokoh utama militer Iran gugur sebagai syuhada: Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri; Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Gholamali Rashid; dan Panglima Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami. Mereka bukan hanya simbol militer—mereka adalah arsitek keamanan regional dan pilar utama dalam mempertahankan kedaulatan serta integritas Poros Perlawanan di Kawasan.
Tak hanya para komandan, serangan itu juga menewaskan sejumlah ilmuwan, wanita, anak-anak, dan warga sipil yang tak berdosa. Markas Besar Angkatan Bersenjata menyebut serangan tersebut sebagai “bukti nyata wajah teroristik rezim Zionis di hadapan dunia”, serta memperingatkan bahwa kejahatan ini tidak akan berlalu tanpa balasan setimpal.
“Tidak ada lagi batas merah,” tegas pernyataan militer tersebut. “Dengan bertawakal kepada Allah Yang Maha Perkasa dan dukungan penuh bangsa Iran yang gagah, tangan balasan Ilahi akan menggenggam erat rezim pendosa dan para pendukungnya.”
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi deklarasi politik dan spiritual bahwa Iran tidak akan tunduk atau goyah meski kehilangan tokoh-tokoh utamanya. Jalan jihad dan pengorbanan akan terus dilanjutkan oleh generasi baru yang telah ditempa dalam semangat Perang Pertahanan Suci dan perjuangan melawan dominasi asing.
Sumber-sumber di dalam negeri menyebutkan bahwa persiapan militer telah ditingkatkan ke tingkat kesiagaan tertinggi. Konsolidasi kekuatan Poros Perlawanan di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman disebut turut diaktifkan dalam merespons eskalasi ini.
Sejumlah pengamat menilai bahwa pernyataan Iran membuka kemungkinan “respons tidak konvensional” terhadap target-target strategis Rezim Pendudukan di berbagai titik regional.
Dalam suasana duka yang mendalam, bangsa Iran tak menunjukkan tanda-tanda gentar. Sebaliknya, media dalam negeri menunjukkan gelombang solidaritas rakyat yang menyerukan pembalasan tegas. Ribuan orang dilaporkan mulai berkumpul untuk menghadiri salat ghaib dan pawai nasional dalam rangka penghormatan bagi para syuhada.
“Syahidnya para komandan bukan akhir dari perlawanan,” kata seorang warga Teheran kepada IRIB. “Ini adalah awal dari babak yang lebih besar. Bendera yang mereka kibarkan tidak akan jatuh, akan kami bawa hingga kemenangan penuh.”
Ini bukan sekadar insiden militer. Ini adalah seruan untuk bersatu melawan dominasi, melawan penindasan, dan menjaga martabat Wilayah yang selama ini menjadi benteng perlawanan terhadap agresi dan penjajahan. (*)
Editor: Ufqil Mubin











