BERITAALTERNATIF.COM – Proses pembuatan dua replika Naga Erau yang akan digunakan pada Festival Erau September 2025 di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), kini memasuki tahap finishing.
Patung naga tersebut akan menjadi bagian penting dalam ritual sakral Mengulur Naga, sebuah tradisi kuno yang sudah berlangsung sejak abad ke-14 di Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Ritual Mengulur Naga melibatkan dua naga simbolis, yakni Naga Bini dan Naga Laki yang dilarungkan ke Sungai Mahakam. Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk persembahan kepada naga, sosok spiritual yang diyakini sebagai ibu pelindung masyarakat Kutai, sekaligus untuk memohon keberkahan serta keselamatan.
Kepala tukang Encek Iswan menjelaskan bahwa bahan pembuatan naga berasal dari balok kayu 5×7 dan 5×10, rotan, kain kuning, serta kain warna-warni sebanyak 14 jenis.
Kedua naga sama-sama berukuran panjang 17 meter, tetapi dibedakan dari bentuk mahkota dan ukuran lingkar tubuhnya.
“Naga laki berdiameter 80 cm, sementara naga bini 85 cm,” ujarnya saat diwawancarai oleh wartawan Berita Alternatif di Halaman Gedung Museum Mulawarman, Senin (1/9/2025).
Dia menambahkan, bagian paling rumit adalah pemasangan sisik naga. Setiap sisik terbuat dari kain warna-warni berukuran 10 cm dan lebar 20 cm.
Pemasangan dilakukan bertingkat dengan susunan warna yang berbeda setiap lapis, membutuhkan waktu hingga lima hari. Kesulitannya terletak di bagian sisik. Pekerjaannya memakan waktu yang cukup panjang.
“Kadang juga ada warga yang mengambil potongan sisik naga, karena dipercaya bisa menjadi wasilah permohonan kepada leluhur agar hajatnya dikabulkan,” tambahnya.
Iswan menyampaikan bahwa pembuatan naga ini dikerjakan oleh 40 orang pengrajin yang terbagi dalam dua kelompok, dengan pengalaman lebih dari 15 tahun.
“Proses pengerjaan rata-rata memakan waktu 10 sampai 15 hari. Namun untuk Erau 2025 ini, para pengrajin masih cukup santai karena tenggat waktu masih panjang,” sambungnya.
Tak hanya soal teknis, pengerjaan naga juga melewati prosesi adat. Pemasangan kepala dan ekor patung harus diawali dengan ritual penaburan beras kuning oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Selain itu, menurut dia, sesajen wajib disiapkan, karena dipercaya roh penjaga mulai mengisi tubuh naga ketika kepala dan ekor sudah terpasang. Setelah dibungkus kain kuning, diyakini terdapat penjaga naga dari alam gaib.
Ia mengungkapkan, dalam prosesi puncak di Sungai Mahakam nanti, tubuh naga akan dilarungkan, sementara kepala dan ekor tidak ikut dihanyutkan agar bisa digunakan kembali di tahun-tahun berikutnya. Kepala dan ekor naga yang digunakan saat ini bahkan sudah berusia sekitar 25 tahun.
“Rencananya tahun depan kepala dan ekor naga akan diganti dengan yang baru. Saat ini masih menunggu penunjukan pengukirnya dari pihak Kesultanan,” pungkas Iswan. (*)
Penulis: Junaidin
Editor: Ufqil Mubin












