BERITAALTERNATIF.COM – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya memperkuat peran Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) sebagai lembaga strategis dalam memastikan keamanan obat dan makanan bagi masyarakat di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan Menkes saat menghadiri peresmian Diorama BPOM, sebuah ruang edukatif yang menjadi simbol pelestarian arsip dan sejarah pengawasan obat dan makanan di Indonesia. Peresmian diorama ini juga dihadiri oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar, jajaran pimpinan BPOM, serta sejumlah pejabat kementerian dan lembaga.
Menurut Budi, pembentukan Diorama BPOM merupakan bentuk penghargaan terhadap perjalanan panjang lembaga tersebut dalam menjaga keamanan publik melalui pengawasan obat dan makanan.
Ia menilai diorama ini tidak hanya berfungsi sebagai arsip sejarah, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran bagi generasi penerus.
“Kita semua bagian dari sejarah. Kita tidak tahu bagaimana situasi 10 atau 20 tahun mendatang. Kebutuhan masyarakat terhadap obat dan makanan pasti akan terus meningkat, dan itu berarti peran BPOM akan semakin besar,” ujarnya di Gedung BPOM, Jakarta, Senin (6/10/2025).
Diorama BPOM terbagi dalam dua area utama dengan tema berbeda. Ruang pertama menampilkan peta sebaran wilayah kerja BPOM, filosofi logo, serta struktur organisasi yang ditampilkan melalui media digital interaktif seperti LED TV dan layar sentuh.
Area ini juga dilengkapi etalase bertema BPOM Menjulang, Membumi, dan Mengakar, yang menggambarkan visi BPOM sebagai lembaga yang kuat secara nasional dan diakui secara global.
Sementara itu, ruang kedua diorama menghadirkan dokumentasi sejarah lembaga secara visual, termasuk kutipan para pimpinan BPOM, foto kepala BPOM dari masa ke masa, arsip kegiatan lembaga, serta miniatur pakaian dinas pegawai BPOM. Melalui ruang ini, pengunjung dapat melihat perjalanan panjang pengawasan obat dan makanan di Indonesia.
Dalam sambutannya, Budi juga mengingatkan bahwa perubahan iklim global dapat menimbulkan ancaman baru bagi kesehatan manusia.
Dia menyoroti potensi munculnya patogen baru yang dapat berpindah dari hewan ke manusia, seiring meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan rantai pangan global.
“Dalam kondisi perubahan iklim, kita tidak tahu apakah akan muncul patogen baru yang berpindah dari hewan ke manusia. Itu artinya, bukan hanya jumlah makanan yang meningkat, tetapi juga jenis patogennya akan semakin beragam,” jelasnya.
Menurutnya, BPOM harus berada di garda depan untuk memastikan seluruh produk obat dan makanan aman, bermutu, serta terjamin secara ilmiah.
“Tes yang paling cepat dan penting adalah memastikan anak-anak kita terlindungi dari keracunan makanan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya akan terus memperkuat sistem pengawasan dan kapasitas kelembagaan agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan BPOM adalah penerbitan Peraturan Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced, yang bertujuan mempercepat ketersediaan obat inovatif di Indonesia tanpa mengurangi aspek keselamatan masyarakat.
BPOM juga tengah menunggu hasil akhir dari assessment World Health Organization (WHO) Listed Authority (WLA), yang akan menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Dia menambahkan, dengan pengakuan dari WHO, Indonesia akan memiliki otoritas yang lebih besar dalam pengawasan obat dan makanan lintas negara. “Dengan WLA, posisi Indonesia dalam ekosistem global akan semakin kuat,” ujarnya.
Diorama BPOM juga menjadi bukti komitmen lembaga dalam melestarikan arsip dan sejarah kelembagaan sebagai bentuk akuntabilitas publik.
Setiap elemen dalam diorama mencerminkan kerja keras berbagai generasi pegawai BPOM dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap produk kesehatan dan pangan di Indonesia.
Peresmian Diorama BPOM diharapkan membuat masyarakat memahami bahwa pengawasan obat dan makanan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga bagian dari kesadaran kolektif untuk menjaga kesehatan bersama.
“Melalui diorama ini, kita tidak hanya melihat masa lalu, tapi juga menatap masa depan dengan semangat yang sama—melindungi rakyat Indonesia,” tutup Budi. (*)
Sumber: Kemkes.go.id
Editor: Ufqil Mubin












