Search

Makna Puasa Ramadan dalam Menumbuhkan Empati atas Penderitaan Rakyat Palestina

BERITAALTERNATIF.COM – Aktivis Kutai Kartanegara (Kukar) Haidir dalam orasinya menyampaikan arti dan makna penting berpuasa di bulan suci Ramadan dalam menggugah rasa empati umat Islam terhadap penderitaan yang dirasakan oleh bangsa Palestina akibat pendudukan Zionis di tanah mereka.

Puasa yang kita jalankan saat ini, dalam banyak hal, dinilai Haidir sebagai sebuah kenikmatan. Namun di sisi lain, momentum tersebut ia anggap sebagai sebuah pengingat yang mengajarkan umat Islam tentang empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap semua manusia, khususnya rakyat Palestina tengah menghadapi penderitaan akibat konflik, bencana, serta penindasan yang dilakukan oleh Zionis secara berkepanjangan.

Selain itu, ia mengatakan bahwa ritual berpuasa bukan sekadar latihan bagi umat dalam menahan haus dan lapar dari fajar hingga malam hari tetapi juga momen refleksi guna memahami rasanya hidup dalam kekurangan dan keterbatasan seperti yang dialami oleh warga Gaza saat ini.

Dia menjelaskan, masyarakat Indonesia serta negara-negara yang saat ini masih berada dalam keadaan yang stabil menjalankan puasa dengan batas waktu yang pasti menahan diri sejak subuh, dan menjelang malam kita akan berbuka dengan hidangan yang telah disiapkan. Setiap insan yang berpuasa masih dapat membayangkan kesegaran air dan beragam makanan yang akan segera mengisi meja makan mereka.

Namun sebaliknya, di Palestina, kelaparan dan kehausan hampir tidak memiliki batas waktu, sebuah pemandangan biasa dan tak ada perbedaan sedikitpun dengan kondisi yang dialami rakyat Palestina di luar bulan Ramadan.

“Bagi mereka sahur adalah kelaparan, berbuka mereka juga ketiadaan akan makanan, hampir sepanjang hari mereka menahan kelaparan,” ucap Haidir saat berorasi dalam Hari Al-Quds Internasional yang diselenggarakan di Taman Titik Nol Tenggarong di depan Museum Mulawarman pada Jumat (29/3/2024).

Haidir mengungkapkan bahwa puasa bagi sebagian masyarakat mungkin menjadi masa-masa yang tenang, di mana setiap personal dapat beribadah dengan khusyuk tanpa adanya ancaman berupa gangguan yang menekan fisik maupun mental. Namun di sisi lain, bagi rakyat Palestina, kehausan dan kelaparan hanyalah sebagian kecil dari penderitaan yang mereka alami.

Puasa bukan lagi cobaan yang nyata bagi rakyat Palestina yang sedari dulu telah terbiasa mendapat intimidasi, tekanan fisik dan mental, bahkan ancaman kematian yang setiap saat menghantui.

Nyawa rakyat Palestina, sambungnya, seolah tidak berharga di hadapan Zionis Israel, Amerika Serikat, dan koalisi negara-negara yang selama ini menjadi aktor utama dalam menciptakan ketidakstabilan global.

“Kehausan dan kelaparan adalah perkara yang kecil (bagi bangsa Palestina),” ucapnya.

“Kenapa? Karena hal utama yang mengganggu mereka (bangsa Palestina) ialah intimidasi, tekanan fisik maupun mental, serta pembunuhan nyawa yang seolah tidak ada harganya,” sambungnya

Haidir mengungkapkan, jika dunia ini bebas dari Zionisme, hegemoni Amerika dan sekutunya, maka keadilan dan kemakmuran bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Aspek sumber daya yang diperebutkan oleh negara adidaya dengan serakah tersebut sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan dunia, akan tetapi kerakusan negara-negara penjajah inilah yang menciptakan ketimpangan, ketidakadilan, dan penderitaan di berbagai belahan dunia. Mereka bukan hanya perampas, tetapi juga entitas yang merusak tatanan kemanusiaan.

Karena itu, kata Haidir, dalam kondisi ini, tidak ada pilihan lain bagi setiap orang yang hidup sebagai bangsa, sebagai negara, dan sebagai umat yang memimpikan kesejahteraan serta keadilan.

Setiap orang yang masih menjunjung tinggi kemerdekaan dan kemanusiaan harus kokoh berdiri di barisan perlawanan untuk menolak ketidakadilan, menolak segala bentuk penindasan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

Gerakan Al-Quds yang dicanangkan oleh Imam Khomeini yang diperingati pada Jumat terakhir di bulan Ramadan dinilainya sebagai momentum perjuangan yang tercetus dari sebuah visi besar dari seseorang ulama yang paripurna dalam memahami peta geopolitik global.

Ia mengatakan bahwa aksi solidaritas Palestina bukan sekadar seruan, tetapi juga panggilan dan alarm untuk menyatukan hati dan tekad seluruh umat manusia agar konsisten menolak kezaliman.

Aksi perlawanan ini dinilai aktivis kelahiran 1973 tersebut akan terus membesar dan bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang sukses dalam membangun persatuan sesama umat manusia untuk saling bahu membahu dalam memperjuangkan kebebasan bagi Palestina dan seluruh bangsa tertindas di dunia.

“Sampai al-Quds tidak lagi menjadi wilayah yang terintimidasi, maka kita harapkan gerakan seperti ini terus membesar,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho

Tags :

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA