BERITAALTERNATIF.COM – Majelis Dzikir dan Sholawat Ma’rifatullah Wa Ma’rifaturrosul Nurul Islam Sanga-Sanga akan memperingati haul ke-10 Tuan Guru Syekh KH. Muhammad Saman Al Banjari pada Jumat (28/7/2023) pukul 19.30 Wita.
Kegiatan tersebut akan diselenggarakan di Pendopo Majelis Ma’rifatullah Wa Ma’rifaturrosul Sanga-Sanga yang berlokasi di Jalan Corong, RT 16, Kelurahan Sanga-Sanga Dalam, Kecamatan Sanga-Sanga, Kukar.
Ketua Panitia, Muhammad Hamdan Wirhadi menjelaskan, kegiatan ini akan menghadirkan dua orang penceramah: Dr. KH. Arrazy Hasyim dan Kiai Jumeri Dahri.
Haul yang diramaikan oleh habsi dari Ahbabul Mustafa Kaltim ini bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Selain itu, kegiatan ini bertujuan mengharapkan ridho Allah Swt, syafaat Baginda Nabi Besar Muhammad saw, dan mengharapkan berkah guru murabbi mursyid.
Kemudian, menjalin silaturahmi antara umat Muslim, khususnya ikhwan Ma’rifatullah Wa Ma’rifaturrasul; bentuk cinta dan kasih serta bakti untuk selalu ingat kepada guru murabbi mursyid; serta dakwah Islam dengan mengambil hikmah dari isi pengajian.
Pada masa awal dakwah Islam, jelas dia, Rasulullah melarang umat Islam untuk berziarah ke kubur karena khawatir umat Islam akan menjadi penyembah kuburan.
“Setelah akidah umat Islam kuat dan tidak ada kekhawatiran untuk berbuat syirik, Rasulullah membolehkan para sahabatnya untuk melakukan ziarah kubur,” jelas dia, Selasa (25/7/2023).
Kata Hamdan, ziarah kubur dilakukan setiap tahun oleh Nabi Muhammad, yang kemudian diikuti oleh sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Dasarnya adalah hadis Al-waqidi yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, yang berbunyi, “Semua ahlul ‘ilm tidak berbeda pendapat, bahkan bulat berkeyakinan, bahwa wafatnya para nabi, para waliyullah dan orang-orang yang saleh serta para ahli takwa, sama sekali tidak berarti fana (lenyap sirna)”.
Ia mengatakan, kematian mereka hanya pulang ke alam ghaib yang tidak dapat dijangkau dengan panca indera manusia.
“Mereka hidup di sisi Tuhan mereka dalam keadaan senang gembira menerima kesejahteraan dan kebahagiaan yang dikaruniakan Allah kepada mereka” jelasnya.
Hamdan pun mengetengahkan hadis dari Rasulullah sebagai dasarnya, “Seorang mayat mengetahui yang mengangkatnya, siapa yang memandikannya, dan siapa yang menurunkannya ke liang kubur.”
“Berangkat dari hadis inilah para ulama menyelenggarakan peringatan haul. Sudah menjadi kebiasaan Wali Songo memodifikasi amalan, baik dari agama Islam sendiri atau agama lain seperti tahlil yang dulu hanya berupa bacaan 70 ribu bacaan La ilaha illa Allah, yang diubah sedemikian rupa,” terangnya. (fb)












