BERITAALTERNATIF.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2025 mencapai hampir Rp 1 triliun.
Kepala Bapenda Kukar Bahari Joko Susilo menyebut optimalisasi sektor pajak dan retribusi daerah akan menjadi kunci pencapaian target tersebut.
“Yang bisa kita dorong dan optimalkan itu dari PAD, terutama pajak daerah dan retribusi daerah. Sementara dana transfer dari pusat dan provinsi itu kan sudah diatur ketentuannya,” jelas Bahari kepada awak media di Kantor Bapenda Kukar pada Senin (7/7/2025).
Menurutnya, hampir seluruh sektor retribusi di Kukar memiliki potensi yang tinggi untuk ditingkatkan. Beberapa di antaranya adalah retribusi parkir, retribusi pasar, serta sewa aset milik daerah yang dinilai belum dimaksimalkan secara optimal.
“Kalau bicara retribusi, hampir semua sektor punya potensi besar. Mulai dari parkir, pasar, sampai ke sewa aset. Banyak yang bisa digarap,” ujarnya.
Untuk sektor pajak, Bapenda juga menaruh perhatian pada potensi dari kerja sama pemerintah dengan pihak ketiga. Beberapa jenis pajak yang akan dimaksimalkan antara lain pajak restoran, pajak makanan dan minuman, pajak hiburan, serta pajak hotel.
“Kita targetkan dari sektor PBB tahun ini bisa menghasilkan sekitar Rp 10 miliar, dan kami optimis bisa tercapai,” ujarnya.
Hingga akhir Juni 2025, realisasi PAD Kukar baru mencapai sekitar 40 persen dari total target. Namun Bahari optimistis, peningkatan signifikan akan terjadi pada semester kedua sebagaimana tren tahunan sebelumnya.
“Biasanya memang semester pertama itu belum maksimal karena konsumsi masyarakat masih rendah. Di semester dua nanti biasanya mulai naik karena aktivitas ekonomi meningkat. Sama seperti pola APBN, di awal tahun rendah, nanti makin lama meningkat,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan konsumsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap penerimaan pajak. Ketika pengeluaran masyarakat meningkat, maka secara otomatis pajak-pajak daerah akan ikut terdorong.
“Setiap tahun itu trennya sama. Januari rendah, Februari mulai naik, Maret meningkat lagi, dan nanti puncaknya di akhir tahun. Januari tahun berikutnya turun lagi. Ini pola nasional,” tambahnya.
Bahari juga menegaskan bahwa pihaknya akan mengejar realisasi maksimal di semester kedua, termasuk memperkuat kerja sama lintas sektor dan memperluas cakupan pendataan wajib pajak dan wajib retribusi.
“Mudah-mudahan tidak ada hambatan berarti, dan target PAD tahun ini bisa tercapai bahkan melampaui,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












