BERITAALTERNATIF.COM – Penjualan beras di tingkat pedagang masih berjalan di tengah musim kemarau yang berlangsung di Kutai Kartanegara (Kukar).
Syaifudin, pedagang beras di Jalan Maduningrat Tenggarong, mengatakan masyarakat yang membeli di tempatnya selama Agustus hingga September 2026 rata-rata membeli sekitar lima kilogram atau kurang.
“Lima kilo paling standarnya,” kata dia kepada awak media Berita Alternatif pada Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, pembelian dalam jumlah lebih besar tetap ada, tetapi relatif jarang. Pembelian hingga 20 kilogram masih terjadi, sedangkan pembelian dalam jumlah puluhan kilogram bukan pola umum konsumennya.
Dari sisi volume penjualan, ia memperkirakan beras yang terjual mencapai sekitar tiga karung dalam sehari.
Ia mengatakan omzet penjualan tidak bisa dipatok karena bergantung pada modal yang tersedia. Perputaran usahanya dapat berada di kisaran Rp 30 juta hingga Rp 45 juta per bulan. “Naik turunnya segitu,” ujarnya.
Sementara dari sisi harga, beras yang dijualnya berada di kisaran Rp 16 ribu per kilogram untuk jenis tertentu. Adapun harga dari agen berada di sekitar Rp 14.800 hingga Rp 15 ribu per kilogram.
Syaifudin mengungkapkan, harga tersebut mengikuti perkembangan harga padi. Saat harga padi berada di kisaran Rp 8 ribu per kilogram, harga beras di tingkat pedagang turut menyesuaikan. “Dia mengikuti harga padi itu,” ujarnya.
Dia mengatakan harga jual tidak selalu langsung berubah ketika harga dari pemasok mengalami kenaikan maupun penurunan. Pedagang masih dapat mempertahankan harga jual dalam kondisi tertentu.
Meski memasuki musim kemarau, ia mengaku belum mengalami kesulitan memperoleh stok beras.
Pasokan masih dapat dicari dari sejumlah wilayah di luar kecamatan, termasuk Sebulu dan wilayah seberang.
“Kalau aku cari dari luar kecamatan, Sebulu, Seberang, yang mana-mana gitu. Bosnya nyarinya ke mana-mana,” katanya.
Syaifudin menjelaskan, pasokan saat ini masih didominasi beras lokal. Kondisi tersebut membuat harga beras masih dapat dipertahankan di kisaran Rp 16 ribu per kilogram.
“Jadi, harga kita yang mengendalikan. Masih enak,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut dapat berubah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Dia memperkirakan keterbatasan pasokan lokal dapat membuat pedagang harus mencari beras dari luar daerah dengan harga lebih tinggi.
“Kecuali ini kemaraunya panjang lagi. Baru itu nanti (pasokannya bisa turum),” katanya.
Ia menilai ketersediaan pasokan lokal menjadi salah satu faktor yang membuat stok beras di tingkat pedagang masih relatif aman hingga September 2026. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











