BERITAALTERNATIF.COM – Pada hari Senin, 13 Oktober 2025, Hamas dan Israel melaksanakan kesepakatan pertukaran tahanan di bawah perjanjian gencatan senjata yang menghasilkan pembebasan hampir 2.000 warga Palestina yang dipenjara di penjara-penjara Israel dan 20 tawanan Israel yang ditahan di Jalur Gaza.
Meskipun masih ada banyak pertanyaan tentang masa depan Gaza dan peran Hamas di wilayah tersebut, pertukaran tahanan dan sandera ini telah menumbuhkan harapan untuk mengakhiri perang dahsyat Israel yang telah meluluhlantakkan wilayah itu dan menewaskan lebih dari 67.806 orang. Gencatan senjata ini juga diharapkan dapat memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar ke Gaza, tempat kelaparan telah terjadi akibat pemboman dan blokade Israel atas wilayah tersebut. Lebih dari dua juta penduduk Gaza dilaporkan berada di ambang kelaparan.
Di tengah proses pertukaran tersebut, Presiden AS Donald Trump, yang pemerintahannya memainkan peran utama dalam menyusun kesepakatan itu, melakukan perjalanan ke Palestina yang diduduki untuk berpidato di Knesset menjelang KTT internasional di Mesir yang ia pimpin bersama pada hari Senin.
Pada Senin malam, Trump bersama sejumlah pemimpin kawasan menandatangani sebuah dokumen tentang kesepakatan gencatan senjata Gaza dalam KTT di Mesir, memuji pembebasan tawanan Israel, sementara Hamas mengecam “bentuk sadisme dan fasisme paling kejam” yang dialami oleh warga Palestina yang dibebaskan dari penjara-penjara Israel.
Untuk memberikan pandangan yang lebih luas tentang masa depan gencatan senjata ini, kantor berita Mehr News Agency melakukan wawancara dengan Basil Farraj, asisten profesor di Departemen Filsafat dan Kajian Budaya, Universitas Birzeit. Berikut pandangannya terkait isu tersebut:
Dalam penilaian Anda, seberapa berkelanjutan gencatan senjata Gaza ini? Apakah Anda pikir Israel mungkin akan melanjutkan pemboman terhadap Gaza setelah pertukaran tahanan selesai, meskipun presiden AS telah menyatakan bahwa perang Gaza sudah berakhir?
Jelas kita tahu bahwa Israel—rezim Zionis—telah melanggar tidak hanya dua perjanjian gencatan senjata terakhir, tetapi juga, jika kita melihat periode saat ini, tidak pernah mematuhi perjanjian apa pun yang telah dibuat, misalnya dalam perjanjian gencatan senjata Lebanon.
Rezim ini juga terus memperluas agresinya ke berbagai negara Arab.
Jika kita melihat situasi saat ini, sejak genosida dimulai dan sepanjang sejarah baru-baru ini, kita dapat melihat bahwa rezim ini sebenarnya tidak pernah mematuhi kesepakatan gencatan senjata. Misalnya, ancaman untuk menangkap kembali warga Palestina selalu ada. Kita juga telah mendengar tentang Israel yang mengendalikan jumlah bantuan yang masuk ke Jalur Gaza. Berdasarkan pengalaman dan apa yang telah kita dengar sejauh ini, Israel mungkin tidak akan benar-benar mematuhi semua rincian perjanjian gencatan senjata ini.
Kita juga tahu bahwa ada tekanan terhadap pemerintah Israel untuk menerima apa yang disebut sebagai “Rencana Trump.” Sekarang, ini merupakan diskusi tersendiri mengenai apa arti rencana tersebut dan, tentu saja, bagaimana rencana itu berpihak pada rezim Israel.
Hal ini juga terlihat dari besarnya anggaran militer yang diberikan AS kepada Israel, investasi dalam perang, dan kenyataan bahwa perang ini bukan hanya perang Israel terhadap rakyat Palestina, tetapi juga perang yang dibantu, disokong, dan dipersenjatai oleh Amerika Serikat serta negara-negara lain.
Itulah gambaran besarnya. Kita berharap gencatan senjata ini bisa terus berlanjut. Tampaknya, dari apa yang kita dengar, ada tekanan besar yang sedang diberikan kepada pemerintah Israel. Namun, hal ini dikatakan sambil tetap mengakui bahwa Israel mungkin mematuhi sebagian ketentuan dalam perjanjian gencatan senjata, tetapi mungkin juga akan melanjutkan agresinya terhadap rakyat Palestina dalam bentuk lain.
Sebagai contoh, dengan meningkatkan ancaman terhadap Jalur Gaza, mengendalikan jumlah bantuan yang masuk, atau membatasi kemungkinan keluar-masuk warga melalui perbatasan Rafah. Kita juga tahu bahwa Israel telah memanipulasi daftar tahanan yang akan dibebaskan—bahkan daftar yang telah disampaikan oleh faksi-faksi politik Palestina sendiri.
Jadi, untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat sejarah Israel—bagaimana perlakuannya dan pendekatannya terhadap kesepakatan gencatan senjata—sambil juga memperhatikan tekanan yang diberikan kepada rezim Israel oleh Amerika Serikat.
Mekanisme diplomatik atau politik apa yang dapat memastikan bahwa Gaza pascaperang tidak kembali ke siklus eskalasi yang baru?
Saya pikir cara kita bisa memastikan keberlanjutan gencatan senjata—yang merupakan hal paling penting bagi kita—adalah melalui peningkatan embargo, aktivisme, dan gerakan global yang berkaitan dengan Palestina. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Genosida mungkin telah dihentikan sementara, tetapi agresi Israel tetap berlanjut. Jika kita melihat ke Tepi Barat, atau pada perlakuan kejam yang terus diterima para tahanan Palestina dan fakta bahwa ribuan dari mereka masih ditahan di penjara-penjara Israel—serta tantangan dan kesulitan yang terus dihadapi di Jalur Gaza dan bagi rakyatnya—kita dapat memahami bahwa untuk memastikan gencatan senjata tetap bertahan, kita harus melanjutkan tekanan global untuk mengisolasi Israel.
Kita harus memastikan bahwa rezim ini terus digambarkan sebagai paria global dengan mempertahankan tekanan berkelanjutan, memberlakukan embargo, sanksi ekonomi, dan secara efektif bekerja untuk mengisolasi rezim Israel sebagai rezim Zionis yang bergantung pada genosida dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina.
Dalam konteks ini, mekanisme politik yang dapat mencegah eskalasi kembali adalah memastikan adanya mobilisasi global yang berkelanjutan. Namun tentu saja, kita juga harus memperhitungkan kenyataan bahwa rakyat Palestina di Jalur Gaza telah hidup di bawah blokade selama puluhan tahun.
Jika konteks politik dan sosial ini tidak diatasi, kita tidak akan menyaksikan perubahan apa pun terhadap kenyataan di Jalur Gaza. Gencatan senjata, tentu saja, merupakan langkah penting—tetapi situasi yang menyebabkan meningkatnya agresi Israel harus diatasi.
Jika tidak, kenyataan brutal ini akan terus berlanjut, dan kita tidak akan melihat perubahan dalam cara rakyat Palestina hidup di seluruh Jalur Gaza, di samping pembunuhan dan perang genosida yang masih terus dilancarkan terhadap mereka. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












