Search

Jamal Abu al-Haija: Simbol Keteguhan Para Tahanan Palestina di Penjara Israel

Para tahanan terkenal Palestina, termasuk Syekh Jamal Abu al-Haija, adalah sosok-sosok yang paling ditakuti Israel. Rezim Zionis khawatir, jika mereka dibebaskan, mereka akan kembali menjadi komandan penting dalam perlawanan Palestina. Mereka adalah generasi yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di balik jeruji, tetapi semangat mereka tidak pernah bisa dipatahkan oleh penjara mana pun. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Menurut laporan Al Jazeera, setelah pembebasan sejumlah tawanan Israel dari Gaza, sekitar dua ribu warga Palestina juga dibebaskan dari penjara-penjara Israel. Di antara mereka, terdapat puluhan orang yang sebelumnya divonis hukuman berat karena terlibat dalam operasi perlawanan bersenjata terhadap Israel. Namun, beberapa tahanan lainnya tetap ditahan karena Israel menolak membebaskan mereka, termasuk Jamal Abu al-Haija.

Siapa Jamal Abu al-Haija?

Seperti dilaporkan Al Jazeera, Jamal Abu al-Haija telah mendekam di penjara Israel selama 24 tahun terakhir. Ia berasal dari keluarga pengungsi yang diusir dari desa Ain Hawd di wilayah Haifa setelah peristiwa Nakba 1948. Jamal lahir pada tahun 1959 di kamp pengungsian Jenin. Setelah menamatkan studi di bidang bahasa Arab, ia bekerja selama sekitar sepuluh tahun sebagai guru bahasa Arab di Arab Saudi dan Yaman sebelum akhirnya kembali ke kamp pengungsian di wilayah pendudukan Palestina.

Abu al-Haija beberapa kali ditangkap oleh pasukan Israel. Pada masa Intifada Kedua (2000–2005) dan serangan ke Jenin pada tahun 2002, ia menjadi salah satu komandan militer Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas. Pada tahun yang sama, ia ditangkap oleh pasukan pendudukan dan divonis sembilan kali hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan terlibat dalam operasi perlawanan yang menyebabkan kematian sejumlah warga Israel serta atas perannya sebagai komandan lapangan Brigade al-Qassam.

Keluarga yang Juga Menjadi Tahanan

Tahanan yang dikenal sebagai “al-Qassami” ini memiliki enam anak. Tiga di antaranya—Asim, Abdul Salam, dan Imad—juga dipenjara di penjara-penjara Israel. Putranya yang lain, Hamzah, gugur pada tahun 2014 di usia 21 tahun akibat serangan Israel. Sementara itu, salah satu putrinya bernama Banan juga berada di penjara Israel, dan Sajidah, putri lainnya, adalah satu-satunya anggota keluarga yang kini hidup di luar penjara setelah ibunya wafat beberapa bulan lalu.

Sajidah mengenang bahwa terakhir kali ia melihat ayahnya sekitar lima tahun lalu. Ia masih kecil ketika rumah mereka digerebek tentara Israel. “Mereka biasa datang di malam hari untuk menangkap ayahku, Syekh Jamal,” ujarnya. Ia juga bercerita bahwa tentara Israel bahkan sering menginterogasi anak-anak kecil, termasuk dirinya dan kakaknya, Hamzah. Suatu ketika, mereka berdua dibawa ke tempat terpisah dan diberi permen oleh tentara agar mau memberikan informasi tentang ayah mereka.

Ketekuhan yang Tak Pernah Padam

Meskipun telah menjalani 24 tahun di balik jeruji, Jamal Abu al-Haija tetap menjadi salah satu sosok paling dihormati di Jenin dan dianggap sebagai simbol keteguhan bagi para tahanan Palestina. Waktu yang panjang dalam penjara tidak membuatnya patah semangat atau terisolasi, melainkan menjadikannya semakin kuat. Rafiq sesama tahanannya, Rabi’ al-Barghouti, menyebutnya sebagai “gunung kesabaran.”

Sajidah mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah mengeluh sedikit pun, meskipun telah kehilangan satu tangannya dalam Intifada Kedua, melihat anak-anaknya ditangkap satu per satu, dan harus merelakan kepergian istrinya. “Ayah selalu bersyukur kepada Tuhan. Bahkan di dalam penjara, ia selalu tenang dan penuh keyakinan,” ujarnya.

Abu al-Haija juga dikenal di antara para tahanan sebagai sosok yang sangat dihormati. Tidak pernah sekalipun ia terlihat marah atau berbicara kasar kepada siapa pun. Para tahanan Palestina menganggapnya sebagai teladan nyata tentang kesabaran, keteguhan, dan iman.

Lambang Perlawanan yang Tak Pernah Padam

Meski Israel terus menolak pembebasannya, keluarga Abu al-Haija tetap hidup dalam keseimbangan antara harapan dan iman. Kisah Syekh Jamal adalah contoh nyata dari penderitaan para tahanan lama Palestina yang telah mendekam lebih dari dua dekade di penjara tanpa harapan segera bebas.

Penolakan Israel terhadap pembebasan para tahanan seperti Jamal Abu al-Haija mencerminkan pola yang sama terhadap tokoh-tokoh simbolis perlawanan lainnya—seperti Abbas al-Sayyid, Marwan al-Barghouti, Hassan Salameh, Ahmad Sa’adat, Ibrahim Hamed, dan Muammar Shahrour—yang juga tetap dipenjara hingga kini.

Keluarga para tahanan ini meyakini bahwa Israel sengaja mengecualikan mereka dari daftar pertukaran tahanan, karena menganggap mereka sebagai figur berpengaruh yang, bila dibebaskan, mampu membangun kembali struktur organisasi perlawanan. Karena itu, nama-nama mereka selalu muncul dalam pembicaraan, tetapi selalu absen di daftar akhir pertukaran.

Penutup: Simbol Generasi yang Tak Tertundukkan

Syekh Jamal Abu al-Haija bukan hanya seorang tahanan, tetapi juga simbol dari seluruh generasi Palestina yang telah mengorbankan masa mudanya di balik jeruji demi tanah air. Setelah seperempat abad ditahan, penjara Israel gagal mematahkan tekadnya. Ia tetap berdiri teguh, menjadi panutan bagi generasi baru para tahanan yang terus melanjutkan perjuangan rakyat Palestina untuk kebebasan dan martabat mereka. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA