Oleh: Ismail Amin Pasannai*
Sejumlah komandan militer Iran gugur dalam serangan Israel dalam dua hari terakhir. Media internasional pun segera membingkai kabar ini sebagai “pukulan telak” terhadap Iran. Sebagian publik bahkan mengaitkannya dengan kelemahan sistem keamanan Iran. Tapi benarkah demikian?
Jika kita tengok lebih dalam, gugurnya para komandan ini justru memperlihatkan kompleksitas perang yang sedang berlangsung serta karakter unik dari militer Iran yang berbeda dari model militer Barat.
Bukan Perang Biasa
Iran dan Israel tidak sedang terlibat dalam perang konvensional semata, tetapi dalam apa yang disebut sebagai perang hibrida: kombinasi antara serangan militer langsung, operasi siber, perang informasi, hingga spionase. Dalam medan seperti ini, yang dipertaruhkan bukan hanya kekuatan senjata, tapi juga keahlian dalam perang otak.
Mossad, badan intelijen Israel, memang dikenal luas sebagai salah satu yang terbaik di dunia dalam hal infiltrasi dan operasi rahasia. Beberapa keberhasilan mereka mendapatkan data dan melumpuhkan tokoh militer Iran bisa dijelaskan dari keberhasilan intelijen jangka panjang yang melibatkan pengawasan satelit, alat sadap, bahkan kolaborator di lapangan.
Israel melalui Mossad telah membangun jaringan intelijen luas di kawasan, bahkan di dalam Iran. Dalam beberapa kasus, orang dalam yang bekerja sama dengan Israel (bahkan warga lokal) memberikan informasi lokasi komandan atau jadwal pergerakan mereka.
Israel juga mengandalkan teknologi pengintaian tinggi: drone siluman, pengawasan satelit resolusi tinggi, alat penyadap elektronik dan sinyal ponsel. Kadang-kadang pengkhianatan di dalam tubuh perlawanan menjadi celah fatal. Tapi hal ini bukan karena pengamanan tidak ketat, melainkan karena perang informasi dan mata-mata yang sangat tinggi intensitasnya.
Yang menarik dari Iran adalah, banyak komandan tingginya tidak bersembunyi di ruang komando atau bunker kebal rudal. Mereka justru aktif berada di garis depan, entah di dalam Iran maupun di luar, di Suriah, Irak, Lebanon, atau bahkan Gaza. Ini bukan kelemahan, tetapi justru bagian dari filosofi kepemimpinan militer Iran.
Di tengah tradisi Syiah revolusioner yang membentuk pasukan Garda Revolusi, menjadi pemimpin berarti turun ke lapangan. Seorang jenderal tak hanya memegang peta, tapi juga memegang senjata, memotivasi pasukan langsung, bahkan ikut serta dalam perencanaan taktis di zona merah.
Target yang Bernyawa Ideologi
Bagi Iran, para komandan bukan sekadar perwira tinggi, tapi simbol perjuangan. Gugurnya mereka bukan dilihat sebagai kegagalan negara, tapi sebagai kemenangan nilai-nilai pengorbanan. Iran bahkan menyebut mereka sebagai syahid-muqawamah (martir perlawanan). Ini adalah jenis kematian yang dihormati, bukan disesali.
Ketika Jenderal Qassem Soleimani dibunuh Amerika Serikat pada 2020, reaksi publik Iran tidak melemah. Sebaliknya, jutaan rakyat turun ke jalan mengarak jenazahnya sebagai pahlawan nasional. Hal serupa terjadi hari ini. Setiap darah yang tumpah, dalam narasi Iran, justru menyuburkan perjuangan.
Jika memang pembunuhan para komandan ini adalah pukulan besar, mengapa Iran tetap mampu meluncurkan lebih dari seribu rudal balistik dan drone? Mengapa struktur komando mereka tidak runtuh? Mengapa serangan balasan Iran justru mengejutkan dunia, bahkan diakui Donald Trump sebagai “di luar dugaan”?
Jawabannya jelas: struktur perlawanan Iran tidak bergantung pada satu atau dua figur. Mereka membangun sistem kaderisasi dan komando yang tersebar, tidak terpusat, dan mampu beradaptasi cepat. Maka gugurnya seorang komandan, sekeras apa pun pukulan itu, tidak melumpuhkan mesin perlawanan.
Hindari Menguatkan Framing Musuh
Kita perlu hati-hati membaca narasi global, terutama dari media-media pro-Barat, yang cenderung menyoroti setiap kematian tokoh militer Iran sebagai bukti lemahnya negara tersebut. Narasi ini bukan sekadar informasi, melainkan bagian dari perang psikologis dan pembentukan opini global.
Padahal kenyataannya lebih rumit: Iran adalah satu dari sedikit negara yang mampu membalas serangan Israel secara langsung, bahkan menciptakan efek jera di level regional. Dan itu, tidak mungkin terjadi jika negeri ini benar-benar lumpuh.
Gugurnya para komandan Iran adalah realitas tragis dalam perang panjang. Tapi menyebutnya sebagai kelemahan Iran adalah analisis yang tergesa-gesa. Justru dari situ, kita melihat perbedaan watak: Israel membunuh dalam diam, Iran berperang dengan terbuka. Israel menghitung serangan demi mempertahankan hidup, Iran justru menghitung syahid sebagai bagian dari jalan kemenangan. Ayatullah Khamenei berkata, “Musuh mengira dengan membunuh komandan kami, mereka mematikan semangat kami. Tapi justru darah mereka menyuburkan semangat kami.”
Perang belum selesai. Tapi jika perang ini juga tentang narasi, anda memilih memenangkan narasinya siapa? (*Cendekiawan Muslim)












