Search

Erau dan Pendidikan Islam: Peran Mahasiswa PAI Menjaga Identitas Lokal tanpa Menanggalkan Syariat

Penulis. (Dok. penulis)

​Oleh: Rani Aulia*

​Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) merupakan salah satu wilayah di Kalimantan Timur yang berdiri di atas pilar sejarah peradaban Nusantara yang sangat panjang dan agung. Daerah ini menyimpan kekayaan warisan budaya, tradisi, serta nilai-nilai kearifan lokal yang hingga saat ini masih dipelihara secara turun-temurun oleh masyarakatnya.

Salah satu manifestasi kebudayaan paling megah, sakral, dan sarat makna yang terus dirawat dari generasi ke generasi adalah pesta adat Erau. Perayaan ini bukan sekadar panggung pertunjukan seni tahunan atau seremonial publik bergengsi untuk menarik wisatawan, melainkan representasi dari identitas kedaerahan, ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta, serta wujud penghormatan tinggi terhadap akar sejarah peradaban Kutai.

​Namun, di tengah pergerakan arus zaman yang kian dinamis, berupa digital, dan diwarnai oleh pergeseran nilai sosial-budaya, muncul sebuah ruang diskusi yang sangat krusial bagi masa depan daerah: bagaimana kita dapat menjaga kelestarian adat istiadat warisan leluhur ini agar tetap hidup, lestari, dan relevan, tanpa harus berbenturan dengan prinsip-prinsip syariat Islam yang dipeluk oleh mayoritas masyarakatnya?

​Di sinilah letak peran strategis Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya kontribusi nyata dari para akademisi muda dan mahasiswa PAI. Sebagai bagian dari kelompok intelektual yang mendalami ilmu-ilmu keagamaan secara teoretis sekaligus hidup langsung di tengah dinamika sosial masyarakat lokal, mahasiswa PAI memegang posisi unik sebagai fasilitator, edukator, dan jembatan harmonisasi.

Sinergi antara kearifan adat Kutai dan ajaran Islam menjadi kunci utama dalam membangun karakter generasi muda Kukar yang tidak hanya berwawasan luas dan berakar kuat pada tradisi daerah, tetapi juga teguh serta konsisten dalam memegang prinsip-prinsip syariat agama.

​Jejak Historis

​Jika kita membuka kembali lembaran sejarah peradaban di tanah Kutai, masuknya ajaran Islam ke Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tidak pernah dilakukan melalui jalan kekerasan, pemaksaan, atau pembongkaran tatanan sosial masyarakat secara drastis.

Para ulama, mubaligh, dan penyebar agama Islam pada masa lampau menggunakan pendekatan dakwah kultural yang sangat santun, bijaksana, dan ramah terhadap kearifan lokal. Tradisi serta kebiasaan lama masyarakat tidak serta-merta dimusnahkan, melainkan diwarnai, diselaraskan, dan diisi dengan ruh ketauhidan serta nilai-nilai keislaman.

​Pendekatan edukatif berbasis budaya inilah yang menyebabkan Islam dengan cepat, damai, dan penuh kehangatan diterima di hati masyarakat Kutai tanpa melunturkan jati diri kedaerahan mereka. Semangat akulturasi yang harmonis ini sejatinya merupakan cerminan nyata dari salah satu kaidah pokok dalam metodologi hukum Islam (usul fiqh), yakni al-‘adatu muhakkamah—bahwa adat kebiasaan dan tradisi lokal dapat menjadi pertimbangan dalam menetapkan nilai atau hukum, selama tradisi tersebut tidak secara eksplisit bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok syariat Islam.

Oleh karena itu, membenturkan adat Kutai secara berlebihan dengan ajaran agama Islam adalah sebuah kekeliruan pemahaman sejarah dan keagamaan yang perlu diluruskan melalui edukasi yang tepat, rasional, dan berkesinambungan.

​Erau dan Ruang Pemaknaan

​Pesta adat Erau mengandung berbagai simbol, ritual, dan prosesi yang sangat kaya akan makna spiritual maupun sosial. Di dalamnya tersirat pesan-pesan luhur tentang pentingnya menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, mempererat tali silaturahmi antarwarga, menghormati para pemimpin, serta memanjatkan doa bersama demi keselamatan dan kebaikan daerah. Dalam perspektif pendidikan Islam, nilai-nilai sosial ini bukanlah hal yang asing, melainkan bagian tak terpisahkan dari ajaran akhlakul karimah dan muamalah dalam ajaran Islam.

​Sebagai agent of change sekaligus agent of social control, mahasiswa PAI bertindak sebagai penerjemah nilai-nilai tersebut kepada masyarakat luas, khususnya generasi sebaya. Mahasiswa PAI tidak boleh hanya menjadi penonton pasif di tepi panggung perayaan adat, atau sebaliknya, mengambil sikap apatis dan memandang negatif tradisi lokal. Melalui pendekatan literasi keagamaan yang sejuk dan berbasis ilmiah, mahasiswa PAI dapat mengedukasi masyarakat mengenai cara memaknai setiap prosesi adat secara arif dan proporsional.

​Sebagai contoh konkret, mahasiswa PAI dapat memberikan pemahaman mendalam bahwa pelaksanaan doa keselamatan dan ungkapan rasa syukur dalam ritual adat sejatinya diarahkan dan ditujukan hanya kepada Allah Swt, Sang Maha Pencipta Alam Semesta. Dengan pemahaman yang kontekstual ini, masyarakat—khususnya generasi muda—diajak untuk menghargai warisan budaya secara rasional, historis, dan spiritual. Mereka diajarkan untuk mengambil nilai-nilai kebaikan, gotong royong, dan kebersamaan dalam adat, sembari tetap menjaga kemurnian akidah dan ketauhidan dalam diri masing-masing.

Modernitas dan Moderasi

​Tantangan terbesar yang dihadapi oleh daerah-daerah berkarakter budaya kuat seperti Kukar pada era modern ini adalah derasnya arus globalisasi yang tak terbendung. Budaya dan nilai-nilai luar masuk begitu cepat melalui perangkat digital dan media sosial, yang acapkali melunturkan kecintaan pemuda terhadap tradisi daerahnya sendiri. Di sisi lain, muncul pula tantangan berupa sikap ekstremisme dalam memandang kebudayaan. Terdapat kelompok yang menolak secara total seluruh bentuk tradisi lokal atas nama pemurnian agama, dan di sisi lain terdapat kelompok yang mengagungkan tradisi secara berlebihan hingga mengabaikan norma-norma etika keagamaan.

​Di tengah dua kutub ekstrem tersebut, mahasiswa PAI hadir membawa dan menggemakan gagasan moderasi beragama (tawasuth). Mahasiswa PAI dibekali pemahaman mendalam bahwa beragama secara benar tidak berarti harus memusnahkan identitas budaya lokal, dan sebaliknya, mencintai serta melestarikan budaya lokal tidak berarti harus menanggalkan syariat.

Sikap pertengahan yang inklusif ini sangat dibutuhkan untuk membentengi generasi muda Kutai agar tetap menjadi pribadi yang berakhlak mulia, menghormati jasa para leluhur, serta berkontribusi positif bagi kemajuan daerahnya di masa depan.

​Langkah Nyata

​Untuk mewujudkan sinergi yang nyata dan berkelanjutan antara adat Kutai dan pendidikan Islam, mahasiswa PAI dapat mengambil beberapa langkah strategis dan konkret dalam kehidupan akademis maupun bermasyarakat:

Pertama, ​riset ilmiah berbasis kearifan lokal. Mahasiswa PAI dapat melakukan penelitian mendalam mengenai nilai-nilai pendidikan Islam dan etika sosial yang terkandung dalam prosesi pesta adat Erau, kemudian mempublikasikannya dalam bentuk artikel ilmiah atau tulisan opini publik agar menjadi bahan bacaan yang edukatif bagi masyarakat luas.

Kedua, dakwah kultural dan pengabdian masyarakat. Melalui program pengabdian atau organisasi kemahasiswaan, mahasiswa PAI dapat menggelar diskusi publik, ruang dialog, dan sosialisasi keagamaan di desa-desa untuk mengenalkan konsep akulturasi Islam dan budaya secara damai, santun, dan mencerahkan.

Ketiga, ​integrasi pembelajaran di sekolah. Ketika menjalani program praktik pengalaman lapangan atau asistensi mengajar di sekolah dan madrasah, mahasiswa PAI dapat menyisipkan contoh-contoh kearifan lokal Kutai dalam menyampaikan materi pembelajaran akhlak, fikih, maupun sejarah kebudayaan Islam.

​Pada akhirnya, pelestarian pesta adat Erau dan pengembangan PAI adalah dua pilar utama yang saling menguatkan dalam membangun peradaban di Kukar. Merawat adat istiadat warisan leluhur tidak berarti menanggalkan syariat agama, dan memegang teguh ajaran Islam tidak berarti harus menjadi asing di tanah kelahiran sendiri.

Melalui peran aktif, kepedulian, dan kontribusi pemikiran dari mahasiswa PAI, kita dapat optimistis bahwa warisan kebudayaan Kutai akan tetap lestari dan terawat, seiring dengan makin kokohnya nilai-nilai keimanan, ketakwaan, serta akhlakul karimah di bumi Etam. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Unikarta)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA