Search

Erau dan Pendidikan Islam: Menjaga Nilai di Tengah Pelestarian Budaya

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Ittikhatul Mudawamah*

Kabar membanggakan datang dari masyarakat Kutai. Tradisi Beseprah, yang selama ini menjadi salah satu bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2026 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penetapan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap tradisi makan bersama masyarakat Kutai yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Beseprah bukan sekadar kegiatan menikmati hidangan bersama, tetapi juga memiliki filosofi tentang kebersamaan dan kesetaraan. Kabar ini menjadi semakin relevan karena Erau Adat Kutai 2026 kembali dilaksanakan di Tenggarong pada 20–27 September dengan berbagai rangkaian adat, termasuk Beseprah.

Namun, di balik kebanggaan atas pengakuan tersebut, ada pertanyaan yang menurut saya perlu kita renungkan: apakah melestarikan budaya cukup hanya dengan memastikan tradisinya tetap dilaksanakan setiap tahun? Pelestarian budaya memang dapat terlihat dari kemeriahan acara, banyaknya masyarakat yang hadir, pertunjukan seni, maupun dokumentasi yang terus dibuat. Akan tetapi, budaya tidak hanya berbentuk kegiatan yang dapat dilihat. Di dalamnya terdapat nilai, cara pandang, dan pesan kehidupan yang seharusnya dipahami oleh generasi berikutnya.

Jika generasi muda hanya mengenal Erau sebagai festival tahunan tanpa memahami makna di baliknya, maka tradisi mungkin tetap berlangsung, tetapi nilai yang menjadi ruhnya perlahan dapat kehilangan makna.

Erau karena itu tidak semestinya dipahami hanya sebagai agenda budaya atau hiburan tahunan. Sebagai warisan budaya masyarakat Kutai, Erau memiliki berbagai tradisi yang menyimpan makna sosial dan spiritual. Penelitian mengenai nilai-nilai Islam dalam tradisi Erau Kukar menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan Erau terdapat nilai-nilai yang dapat dikaitkan dengan kehidupan keislaman. Hal ini menunjukkan bahwa budaya lokal dan pendidikan agama tidak selalu berada pada ruang yang terpisah. Keduanya dapat saling bertemu ketika budaya dipahami melalui nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Salah satu nilai yang dapat diperhatikan adalah syukur. Dalam kehidupan seorang muslim, rasa syukur bukan sekadar ucapan ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan, tetapi juga kesadaran bahwa berbagai nikmat yang diterima merupakan karunia Allah Swt. Alquran memberikan penekanan yang kuat terhadap pentingnya bersyukur. Allah Swt berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa syukur merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Dalam konteks budaya, nilai syukur dapat menjadi salah satu pintu untuk memahami makna yang terkandung dalam tradisi masyarakat. Tradisi dan perayaan masyarakat dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran tersebut selama pemaknaan dan pelaksanaannya tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.

Dengan demikian, mempelajari Erau tidak harus berhenti pada pertanyaan mengenai apa nama ritualnya, kapan dilaksanakan, atau bagaimana bentuk kegiatannya. Generasi muda juga perlu diajak bertanya: nilai kebaikan apa yang dapat dipelajari dari tradisi tersebut dan bagaimana nilai itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Beseprah menjadi salah satu contoh yang menarik. Tradisi makan bersama ini mempertemukan masyarakat dalam satu ruang tanpa sekat yang kaku. Berbagai lapisan masyarakat dapat duduk bersama dan menikmati hidangan yang disediakan. Pemerintah Kabupaten Kukar juga menjelaskan bahwa Beseprah mengandung filosofi “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” serta menjadi ruang interaksi antara Sultan dan masyarakat.

Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kepedulian, gotong royong, dan silaturahmi. Penelitian dalam Borneo Journal of Islamic Education bahkan menemukan nilai religiusitas berupa syukur dan toleransi, nilai nasionalisme berupa disiplin dan pelestarian budaya, serta nilai gotong royong dalam tradisi Beseprah. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

Makan bersama bukan hanya aktivitas memenuhi kebutuhan, tetapi dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan sosial, saling berbagi, dan menumbuhkan kepedulian. Dalam konteks pendidikan Islam, pengalaman sosial semacam ini dapat menjadi pembelajaran nyata tentang bagaimana nilai gotong royong dan kepedulian terhadap sesama diterapkan dalam kehidupan.

Hal yang tidak kalah penting adalah pesan kesetaraan yang terdapat dalam Beseprah. Ketika seseorang duduk bersama dalam satu hamparan makanan, status sosial tidak menjadi alasan untuk menciptakan jarak. Sultan, pejabat, tokoh masyarakat, maupun masyarakat biasa dapat berada dalam ruang yang sama. Dalam perspektif pendidikan Islam, pesan semacam ini dapat dikaitkan dengan ajaran untuk menghargai sesama manusia dan tidak menjadikan kedudukan sosial sebagai ukuran kemuliaan.

Alquran menjelaskan prinsip tersebut dengan sangat jelas dalam QS. Al-Hujurat ayat 13: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini memperlihatkan bahwa keberagaman latar belakang manusia bukan alasan untuk saling meninggikan diri, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan menghargai. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, maupun kedudukan sosial, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah Swt. Karena itu, nilai kesetaraan yang terdapat dalam Beseprah dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan akhlak sosial kepada generasi muda.

Di sinilah tantangan sebenarnya dalam pelestarian Erau. Pelestarian tidak seharusnya berhenti pada menjaga agar tradisi tetap dilaksanakan, tetapi juga harus memastikan agar nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami. Pengakuan sebagai WBTB tentu merupakan sesuatu yang penting karena memberikan penguatan terhadap keberadaan Beseprah sebagai bagian dari identitas budaya Kutai.

Namun, sebuah tradisi tidak akan benar-benar hidup hanya karena tercatat dalam dokumen atau masuk dalam daftar warisan budaya. Ia akan tetap hidup apabila masyarakat masih memahami maknanya dan generasi muda merasa memiliki alasan untuk meneruskannya.

Karena itu, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Pendidikan formal, keluarga, dan masyarakat perlu berjalan bersama dalam mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Khususnya dalam PAI, tradisi lokal seperti Erau dapat dijadikan konteks pembelajaran agar materi mengenai akhlak, syukur, toleransi, ukhuwah, gotong royong, dan kepedulian sosial tidak berhenti sebagai konsep yang dihafalkan di dalam kelas.

Siswa dapat diajak mengamati tradisi di lingkungan mereka, kemudian mendiskusikan nilai yang terkandung di dalamnya dan menghubungkannya dengan ajaran Islam. Dengan cara seperti ini, pendidikan agama tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga membantu peserta didik menemukan nilai agama dalam kehidupan sosial dan budaya di sekitarnya.

Pada akhirnya, penetapan Beseprah sebagai WBTB Indonesia 2026 seharusnya tidak hanya menjadi alasan untuk berbangga, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali bertanya tentang bagaimana kita mewariskan budaya kepada generasi berikutnya. Erau tidak cukup hanya dikenal melalui panggung pertunjukan, kemeriahan acara, maupun dokumentasi di media sosial. Generasi muda perlu mengenalnya sebagai bagian dari identitas masyarakat Kutai sekaligus memahami nilai-nilai baik yang dapat dipelajari darinya.

Warisan budaya bukan hanya sesuatu yang kita pertahankan dari masa lalu, tetapi sesuatu yang harus kita maknai agar tetap hidup di masa depan. Sebab, ketika sebuah tradisi masih dilaksanakan tetapi nilai di dalamnya tidak lagi dipahami, yang tersisa mungkin hanya bentuknya. Sebaliknya, ketika generasi muda memahami makna dan mampu menghidupkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, budaya tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar diwariskan. (*Mahasiswi Fakultas Agama Islam Unikarta)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA