Search

Dunia Kecam Pembantaian Jurnalis dan Warga Sipil oleh Israel di Rumah Sakit Nasser Jalur Gaza

Serangan terbaru Israel ke Gaza memicu kecaman global setelah pasukannya menghantam Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk lima jurnalis dan tenaga medis. (Tasnim News)

BERITAALTERNATIF.COM – Serangan ini, yang banyak disebut sebagai kejahatan perang barbar, dikecam oleh berbagai negara, di antaranya Kanada, Mesir, Iran, Arab Saudi, Inggris, Jerman, Swiss, Qatar, dan Kuwait.

Organisasi kemanusiaan seperti Dokter Tanpa Batas (MSF) dan Asosiasi Pers Asing menyebut serangan itu “sangat mengejutkan” dan “tidak bisa diterima.”

MSF mengatakan staf mereka terpaksa berlindung di laboratorium rumah sakit saat Israel berulang kali membombardir bangunan tersebut. Padahal, rumah sakit itu merupakan salah satu fasilitas umum yang masih sebagian berfungsi di Gaza selatan.

Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyatakan serangan Israel itu sama saja dengan “membungkam suara-suara terakhir yang melaporkan tentang anak-anak yang sekarat dalam sunyi karena kelaparan.”

Sekjen PBB Antonio Guterres juga mengecam pembunuhan itu dan menuntut agar tenaga medis dan jurnalis selalu dilindungi dari ancaman maupun kekerasan.

Ia menyerukan investigasi independen, meski pengalaman sebelumnya menunjukkan penyelidikan militer Israel terhadap pembantaian sipil hampir tak pernah berujung pada pertanggungjawaban.

Serikat Jurnalis Palestina menyebut serangan itu sebagai “pembantaian keji yang dilakukan pasukan pendudukan Israel” dengan sengaja menargetkan kru pers.

Kementerian Kesehatan Gaza memastikan bahwa Israel melancarkan dua serangan udara ke lantai atas gedung gawat darurat. Serangan kedua dilakukan tepat ketika tim penyelamat bergegas menolong korban, metode yang dikenal dengan istilah “double-tap strike.”

Yayasan Hind Rajab yang berbasis di Belgia menolak klaim Israel soal “kesalahan tank.” Analisis mereka menunjukkan penggunaan rudal berpemandu presisi, bukti bahwa pasukan Israel sadar sedang membidik tenaga medis, tim pertahanan sipil, dan jurnalis.

“Ini adalah kejahatan perang dengan metode double-tap yang disengaja, bukan kecelakaan,” tegas lembaga itu, seraya berjanji akan menyertakan bukti ini dalam kasus hukum yang tengah dipersiapkan.

Di antara korban tewas ada Abu Dagga (33), jurnalis lepas untuk Associated Press. Di hari yang sama, dalam serangan lain, jurnalis Hassan Douhan ditembak mati oleh pasukan Israel di Khan Younis, menurut keterangan Serikat Jurnalis Palestina.

Pembantaian ini menambah jumlah jurnalis yang terbunuh di Gaza sejak Oktober 2023 menjadi sedikitnya 245 orang, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza.

Pengamat menilai pola serangan yang berulang dan menyasar pers serta tim medis ini menunjukkan adanya strategi Israel yang disengaja untuk membungkam saksi mata sekaligus menebar teror terhadap warga sipil yang masih terkepung. (*)

Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA