Search

Perjalanan Karier Umar Anwar: Dari Guru Ngaji Desa Ncera hingga Dosen dan Praktisi Pemasyarakatan

BERITAALTERNATIF.COM – Di balik perjalanan karier Umar Anwar sebagai dosen tetap pada Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan, tersimpan kisah panjang seorang putra petani dari desa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, yang berhasil menempuh jalan pendidikan hingga meraih gelar doktor dan mengabdikan diri di dunia pemasyarakatan.

Umar kini menjadi dosen dengan spesifikasi ilmu hukum, ilmu sosial, hukum pidana, serta pemasyarakatan.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana latar belakang keluarga petani, pendidikan agama, semangat organisasi, dan keberanian mengambil keputusan dapat membentuk seorang akademisi sekaligus aparatur Kementerian Hukum dan HAM.

Bagi Umar, kesuksesan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba.

Dia membangun perjalanan hidupnya melalui didikan disiplin sejak kecil, akademik, serta aktivitas organisasi, hal ini menumbuhkan kesediaan terus belajar meskipun sudah bekerja sebagai pegawai negeri.

Latar Belakang dan Keluarga

Umar lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, pada 12 Maret 1982. Ia berasal dari Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, sebuah desa kecil yang menurutnya menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakternya.

Dia dibesarkan dalam keluarga petani yang taat beragama. Ayah dan ibunya dikenal sebagai orang yang alim sehingga Umar dan lima saudaranya mendapatkan pendidikan agama secara konsisten sejak usia dini.

“Saya dilahirkan di sana dengan orang tua yang berasal dari petani, tapi beliau adalah orang yang alim. Alhamdulillah, saya dapat orang tua yang sangat alim dan taat beragama,” ungkap Umar.

Pendidikan agama tersebut diterimanya bukan hanya melalui wejangan orang tua, tetapi juga melalui kegiatan mengaji. Sejak duduk di kelas empat hingga lima sekolah dasar, dia sudah dipercaya menjadi asisten guru ngaji dan mengajarkan anak-anak yang lebih kecil.

“Sejak SD, saya sudah diberikan mandat oleh guru ngaji untuk menjadi guru ngaji, mengajarkan anak-anak di bawah saya,” katanya.

Lingkungan keluarga juga membentuk kebiasaan hidup yang tertib. Setiap pulang sekolah, ia dan saudara-saudaranya mendapatkan wejangan serta pembelajaran agama dari orang tua. Kebiasaan itu, menurutnya, menumbuhkan rasa tanggung jawab, kesederhanaan, dan semangat untuk terus belajar.

“Kami diajarkan tata krama, cara beragama, dan cara berkehidupan. Itu menjadi bekal yang sangat berharga sampai sekarang,” ujarnya.

Pendidikan di Bima

Umar menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 01 Desa Ncera pada 1989 hingga 1995. Selama sekolah dasar, dia konsisten meraih peringkat pertama dan aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, mulai dari pemimpin upacara, pramuka, hingga lomba-lomba peringatan kemerdekaan.

Prestasi tersebut tidak lepas dari dukungan guru dan lingkungan sekolah yang mendorongnya untuk terlibat dalam kegiatan akademik maupun ekstrakurikuler. Sejak kecil, ia terbiasa tampil di depan umum, memimpin kegiatan, dan mengambil peran dalam berbagai acara sekolah.

Setelah itu, Umar melanjutkan ke SLTP Negeri 2 Belo di Desa Ngali, Kecamatan Belo, pada 1995 hingga 1998. Meski harus menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumah, Umar tetap masuk jajaran siswa berprestasi dan sempat berada di peringkat tiga besar.

Dia juga tetap aktif menjadi pemimpin upacara serta mengikuti berbagai lomba. Pada masa itu, ia menerima Bantuan Hidup Siswa (BHS) yang membantunya membiayai kebutuhan sekolah dan kehidupan sehari-hari.

Pada 1998 hingga 2001, ia melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri 1 Kota Bima dengan mengambil jurusan IPA. Ia masuk kelas unggulan dan tetap berada dalam 10 besar peringkat.

Selama menempuh pendidikan di kota, Umar menerima BHS.

Dia mengaku bantuan tersebut sangat membantu kehidupannya, bahkan menyisakan dana untuk membantu orang tua.

“Biaya kontrakan tempat saya hanya Rp 100 ribu per tahun, sedangkan BHS yang saya terima Rp 110 ribu per bulan. Jadi, saya sudah bisa membantu kedua orang tua sejak SMP dan SMA,” ujarnya.

Pengalaman hidup di kota juga mengajarkan Umar untuk lebih mandiri.

Dia harus mengatur keuangan, menjaga konsentrasi belajar, dan tetap mempertahankan prestasi di tengah persaingan yang lebih ketat dengan siswa dari berbagai wilayah Bima.

Awal Kuliah dan Pengalaman Aktivisme

Setelah lulus SMA pada 2001, Umar sempat kuliah selama satu tahun pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Mataram, yang kini menjadi Universitas Pendidikan Mandalika.

Pada tahun berikutnya, dia berhasil diterima di Universitas Mataram melalui jalur Penerimaan Mahasiswa Baru dan mengambil Program Studi Pendidikan Matematika. Ia menjalani kuliah tersebut selama sekitar tiga setengah tahun.

Di kampus, Umar tidak hanya fokus pada akademik. Ia aktif di Lembaga Dakwah Kampus, Dewan Perwakilan Mahasiswa serta organisasi mahasiswa di Bima.

Dia bahkan pernah memegang amanah sebagai ketua organisasi mahasiswa Bima.

Keterlibatan dalam berbagai organisasi membuatnya terbiasa berkomunikasi, memimpin diskusi, mengelola kegiatan, dan membangun jejaring.

Pengalaman tersebut, kata Umar, menjadi bekal penting ketika ia kemudian memasuki dunia birokrasi dan pendidikan tinggi.

Aktivitas organisasi itu membuatnya mulai berpikir lebih jauh tentang arah hidup dan cita-citanya.

Umar merasa ingin berkontribusi lebih luas dalam bidang sosial dan kepemimpinan, bukan hanya berkegiatan di laboratorium atau ruang kelas.

“Saya berpikir, yang menjadi pemimpin itu kan orang-orang sosial. Kalau saya tetap di sini, kayaknya tidak bisa jadi pemimpin, hanya ada di lab atau tempat pendidikan formal,” ungkapnya.

Masuk Kementerian Hukum dan HAM

Titik balik karier Umar terjadi pada 2004, ketika dia mengikuti tes penerimaan pegawai di Kementerian Hukum dan HAM. Saat itu, ia masih berstatus mahasiswa semester lima di Universitas Mataram.

Ia mengikuti seleksi pada September hingga Oktober 2004, bertepatan dengan masa 100 hari pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hasilnya, Umar dinyatakan lulus dengan peringkat kedua dan namanya tercantum dalam Harian Republika.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan kelulusan dengan peringkat nomor dua. Itu diumumkan langsung di Harian Republika,” kenangnya.

Umar mengaku awalnya belum mengetahui secara detail bahwa penempatannya berada di bidang pemasyarakatan.

Dia baru menyadari bahwa tugasnya berkaitan dengan lapas dan rutan setelah ditempatkan pada 1 Januari 2005.

Meski demikian, penempatan itu justru menjadi awal pengabdian panjangnya di dunia pemasyarakatan.

Ia membina narapidana, mengajarkan keterampilan, serta mendorong mereka untuk menyadari kesalahan dan tidak kembali melakukan tindak pidana.

“Saya membina narapidana yang ada di dalam lapas dan rutan, mengajarkan mereka menjadi orang yang lebih hebat, lebih sadar tentang kehidupan, dan tidak melakukan tindak pidana lagi,” katanya.

Menurut Umar, pekerjaan di lapas dan rutan menuntut kesabaran, kepekaan sosial, serta kemampuan memahami latar belakang setiap warga binaan.

Dia belajar bahwa pembinaan tidak cukup hanya dengan menegakkan aturan, tetapi juga harus menyentuh sisi kemanusiaan dan memberikan harapan bagi masa depan warga binaan.

Menyelesaikan Pendidikan Hukum

Saat sudah bekerja, Umar memutuskan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Bima, yang kini dikenal sebagai Universitas Muhammadiyah Bima.

Dia meninggalkan kuliah matematika dan memulai dari semester satu karena berpindah bidang ke ilmu hukum.

Pada 2005 hingga 2009, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum. Pencapaian akademik tersebut berdampak langsung pada kariernya di birokrasi.

“Dari situ, karier saya melompat. Harusnya ditempuh 16 tahun, menjadi empat tahun, langsung naik ke golongan III/A,” ujarnya.

Pada 2012, Umar memperoleh kesempatan mengikuti program beasiswa Lemhannas melalui Lemhannas Inter University Network.

Dia kemudian melanjutkan studi kajian strategi ketahanan nasional di Universitas Indonesia pada 2012 hingga 2014.

Menurutnya, pendidikan tersebut memperluas wawasannya tentang negara, kebangsaan, dan dinamika masyarakat.

Ia mempelajari bagaimana keamanan, hukum, sosial, ekonomi, dan politik saling berkaitan dalam menjaga ketahanan nasional.

Pada periode yang sama, Umar juga dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Salemba, Jakarta.

Penempatan di ibu kota memberinya pengalaman lebih luas dalam mengenal dinamika pemasyarakatan serta berbagai latar belakang warga binaan dari berbagai daerah.

“Di Lapas Salemba, saya belajar lebih dalam lagi terkait pemasyarakatan, kenal dengan orang banyak, dan kenal dengan narapidana dari seluruh wilayah negeri,” ujarnya.

Setelah itu, Umar bertugas di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta selama dua tahun.

Pengalaman tersebut semakin memperkaya pemahamannya tentang kebijakan, administrasi, dan pelayanan publik di bidang hukum dan hak asasi manusia.

Magister dan Karier Dosen

Semangat belajar Umar tidak berhenti setelah menyelesaikan S1. Pada 2014 hingga 2016, dia mengambil Magister Hukum di Universitas Islam Jakarta.

Ia berhasil menyelesaikan studi tersebut dengan prestasi membanggakan sebagai wisudawan terbaik. Gelar magister itu kemudian membuka jalan baginya untuk masuk ke dunia akademik.

Pada November 2016, Umar diterima sebagai dosen tetap pada Politeknik Ilmu Pemasyarakatan dan Politik di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Penunjukan tersebut dilakukan pada masa Menkumham Profesor Yasonna Laoly.

“Di situlah mulai karier saya menjadi dosen tetap pada Kementerian Hukum dan HAM, dengan spesifikasi ilmu hukum, ilmu kemasyarakatan, hukum pidana, dan pemasyarakatan,” ungkapnya.

Sebagai dosen, dia berusaha menggabungkan pengalaman lapangan dengan ilmu akademik.

Ia tidak hanya mengajar teori hukum dan pemasyarakatan, tetapi juga membagikan pengalaman langsung dalam membina warga binaan, memahami persoalan sosial, serta menjalankan tugas kependidikan di lingkungan pemasyarakatan.

Politeknik tersebut kemudian mengalami perkembangan kelembagaan. Semula bernama Politeknik Ilmu Pemasyarakatan, lalu menjadi Politeknik Pemasyarakatan Indonesia, sebelum akhirnya berkembang menjadi Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Perubahan tersebut menunjukkan perluasan fungsi pendidikan vokasi di bawah Kementerian Hukum dan HAM, khususnya dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk bidang imigrasi dan pemasyarakatan.

Doktor dan Pengabdian ke Depan

Pada 2020 hingga 2024, Umar melanjutkan pendidikan doktoral. Dia akhirnya meraih gelar doktor, memperkuat posisinya sebagai akademisi sekaligus praktisi pemasyarakatan.

Menurutnya, pendidikan doktoral bukan hanya soal gelar. Ia menilai jenjang tersebut sebagai sarana untuk memperdalam kajian, menghasilkan pemikiran yang bermanfaat, serta memperkuat kontribusinya bagi pengembangan kebijakan dan pendidikan pemasyarakatan di Indonesia.

Ia menyebut perjalanan dari Desa Ncera hingga menjadi dosen dan doktor bukan sekadar pencapaian pribadi.

Umar menilai pendidikan agama, kedisiplinan keluarga, dan pengalaman membina narapidana menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

“Dulu saya bermimpi memegang bola dunia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Ternyata itu adalah permulaan untuk menjadi besar,” tuturnya.

Kini, Umar terus mengabdikan diri di Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Dia berharap pengalaman lapangan di dunia pemasyarakatan dapat diwariskan kepada generasi aparatur muda, agar pembinaan warga binaan tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada pemulihan, pemberdayaan, dan perubahan hidup.

Ia juga berharap semakin banyak anak-anak dari daerah, termasuk dari keluarga petani dan lingkungan sederhana, tidak merasa terbatas oleh kondisi ekonomi atau tempat kelahirannya.

Menurut Umar, semangat belajar, doa orang tua, dan keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho

Editor: Ufqil Mubin

Tags :

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA