BERITAALTERNATIF.COM – Beberapa hari lalu, tepatnya pada 7 Oktober, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio berpidato di Bukit Pnyx, Athena, tempat warga Athena kuno dahulu berkumpul. Dengan mengingat serangan Xerxes pada 480 SM, dia berbicara tentang warisan Yunani dan perlunya memulihkan kekuatan Barat. Narasi tersebut disampaikan setelah serangan agresif AS dan rezim Zionis terhadap Iran, di tengah meningkatnya ketegangan yang masih berlangsung.
Pertanyaan utamanya adalah mengapa Washington menggunakan perang yang terjadi 25 abad lalu untuk menjelaskan kebijakannya saat ini. Dapatkah penulisan sejarah peradaban dijadikan instrumen untuk membenarkan perang?
Penelaahan terhadap pidato Rubio menunjukkan bahwa narasi tersebut, meskipun menekankan warisan Yunani kuno dan penguatan solidaritas Barat, menghadapi kontradiksi mendasar. Kontradiksi itu muncul ketika posisi penyerang dan pihak yang mempertahankan diri dalam narasi sejarah dibandingkan dengan kenyataan konfrontasi AS terhadap Iran saat ini.
Tujuan Tersembunyi
Pidato Rubio dapat ditelaah dari enam sudut pandang politik dan strategis, mulai dari upaya membangun legitimasi ideologis bagi perang, memperkuat aliansi Barat, hingga mengukuhkan posisi politik dirinya sendiri.
Pertama, membangun legitimasi ideologis bagi perang. Rubio menempatkan serangan Xerxes terhadap Athena dalam kerangka narasi kebangkitan kembali peradaban Barat. Ia berbicara tentang perlunya AS dan Eropa kembali memiliki kekuatan dan kepercayaan diri.
Dia memang tidak secara eksplisit menyebut perang saat ini sebagai kelanjutan pertempuran kuno antara Iran dan Yunani. Namun, penataan sejarah semacam itu dapat menggambarkan konflik kontemporer sebagai pertentangan antarperadaban.
Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika alasan pemerintahan Donald Trump untuk melakukan agresi terhadap wilayah Iran juga menghadapi berbagai pertanyaan.
Pada Maret 2026, Rubio pernah mengatakan bahwa AS menyerang Iran karena Israel berniat menyerang negara tersebut. Pernyataan itu bahkan memicu kritik dari sejumlah tokoh yang dekat dengan gerakan MAGA (Make America Great Again).
Dalam situasi demikian, narasi peradaban dapat mengalihkan perhatian dari pertanyaan mengenai urgensi perang dan dasar hukum yang melandasinya.
Kedua, mengonstruksi Iran sebagai pihak lain. Dengan mengabaikan sejarah agresi dan pendudukan AS, mulai dari pembantaian penduduk asli Amerika hingga pembunuhan warga di Vietnam, Irak, dan Afghanistan, Rubio menyebut Republik Islam Iran sebagai “sekte kematian” dan mempertentangkannya dengan nilai-nilai yang ia atribusikan kepada peradaban Barat.
Bahasa semacam ini mengubah perselisihan politik menjadi pertentangan identitas dan memperbesar peluang normalisasi tekanan serta konfrontasi.
Ketika pihak lawan tidak lagi digambarkan sebagai pesaing politik, melainkan sebagai ancaman terhadap peradaban, ruang untuk mengkaji kepentingan, tanggung jawab, dan jalur diplomatik guna menyelesaikan perselisihan menjadi semakin sempit.
Penggambaran tersebut juga mengabaikan perbedaan antara rakyat Iran, kebudayaan Iran, dan struktur politik negara itu. Akibatnya, terbentuk gambaran musuh yang seolah-olah seragam dan tidak memiliki perbedaan internal.
Ketiga, menekan Eropa. Rubio meminta negara-negara Eropa meningkatkan kemampuan pertahanan mereka dan lebih aktif menghadapi berbagai ancaman yang diklaim mengarah kepada Barat.
Pesan tersebut disampaikan di tengah perselisihan antara Washington dan Eropa mengenai biaya pertahanan, NATO, serta kemandirian strategis.
Pemilihan Athena dan penekanan terhadap warisan bersama Barat, bersamaan dengan pembicaraan AS dan Yunani mengenai pertahanan dan energi, dapat membantu memperkuat dukungan Eropa terhadap prioritas keamanan Washington.
Dengan demikian, selain memiliki dimensi historis, narasi peradaban tersebut juga membawa pesan politik bagi sekutu-sekutu AS.
Keempat, menghubungkan “America First” dengan warisan Yunani. Rubio merumuskan kebijakan “America First” dalam kerangka kebangkitan peradaban Barat. Ia berupaya menghubungkan nasionalisme, kekuatan militer, dan kepercayaan diri dengan warisan Yunani.
Namun, rujukan terhadap sejarah tidak serta-merta memberikan legitimasi moral bagi kebijakan masa kini.
Warisan demokrasi Athena bukanlah izin untuk melakukan intervensi militer atau mengabaikan hukum internasional. Warisan tersebut juga tidak dapat membebaskan tindakan AS dari penilaian yang independen terhadap dampak dan konsekuensinya.
Kelima, agenda keamanan dan energi. Waktu penyampaian pidato tersebut bertepatan dengan pembicaraan strategis AS dan Yunani mengenai energi, pertahanan, serta kerja sama regional. Hal ini menonjolkan dimensi praktis dari kunjungan tersebut.
Yunani menempati posisi penting dalam perhitungan keamanan dan energi di kawasan Mediterania Timur. Kerja sama dengan negara itu dapat membantu Washington mempertahankan pengaruhnya.
Meski demikian, kesamaan waktu antara pidato dan pembicaraan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pidato itu dirancang untuk membenarkan suatu kesepakatan tertentu. Hal tersebut hanya menunjukkan bahwa narasi sejarah disampaikan dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar acara kebudayaan.
Keenam, membangun posisi politik Rubio. Sejumlah media AS menyoroti nuansa kepresidenan dalam pidato Rubio dan kemungkinan pengaruhnya terhadap masa depan politiknya.
Dengan menghubungkan sejarah, identitas nasional, dan kekuatan militer, Rubio menyampaikan narasi yang lebih terpadu mengenai ideologi pemerintahan Trump.
Pidato tersebut disampaikan dengan tujuan memperkuat posisinya di kalangan konservatif AS sebagai calon potensial dalam pemilihan presiden mendatang.
Mengapa Narasi Sejarah Rubio Justru Berbalik Merugikan?
Menurut para pengamat, narasi yang dikemukakan Rubio menghadapi tiga tantangan mendasar, yakni sejarah yang digunakan sebagai instrumen politik, kontradiksi antara posisi yang diklaim AS dan tindakan militernya, serta ketidakmampuan menjawab persoalan hukum terkait perang.
Pertama, mengulangi pola Netanyahu. Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu, pada Maret 2017 menggunakan narasi Purim untuk menggambarkan Iran kuno dalam kerangka ancaman terhadap orang-orang Yahudi.
Para pejabat Iran menuduhnya memutarbalikkan sejarah dan merujuk pada kisah penyelamatan orang-orang Yahudi pada masa Koresh dan Xerxes.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengingatkan Netanyahu dalam sebuah pertemuan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut berkaitan dengan abad kelima sebelum Masehi, sedangkan dunia saat ini merupakan dunia yang berbeda.
Kali ini, Rubio tidak menonjolkan Purim, melainkan serangan Xerxes terhadap Athena. Namun, persoalan mendasarnya tetap sama: sejauh mana sejarah kuno dapat dijadikan dasar untuk menilai konflik masa kini?
Kedua, terbaliknya posisi penyerang dan pihak yang mempertahankan diri. Jika analogi Rubio hendak diterapkan pada perang saat ini, pertanyaan yang perlu diajukan adalah pihak mana yang menggunakan kekuatan militernya untuk menyerang pihak lain.
Dalam situasi sekarang, AS dan rezim Zionis telah melancarkan serangan militer terhadap Iran. Karena itu, mengingat Athena sebagai kota yang pernah diserang tidak dengan sendirinya memberikan posisi moral kepada Washington sebagai korban.
Kontradiksi ini semakin jelas ketika AS, di satu sisi, menegaskan haknya untuk menggunakan kekuatan, tetapi di sisi lain membangun narasinya berdasarkan kecaman terhadap pihak yang melakukan agresi pada zaman kuno.
Ketiga, Thymos: kekuatan tanpa akuntabilitas. Rubio menggunakan konsep Yunani, thymos, untuk menekankan keberanian, kehormatan, dan tekad. Ia kemudian menghubungkan konsep tersebut dengan kebutuhan untuk memulihkan kekuatan Barat.
Persoalannya bukan terletak pada konsep filosofis itu sendiri, melainkan pada fungsi yang diberikan kepadanya dalam argumentasi politik Rubio.
Kekuatan militer tidak dengan sendirinya menjamin legitimasi penggunaan kekerasan. Tidak ada rujukan terhadap filsafat Yunani yang dapat menggantikan kewajiban untuk menjawab pertanyaan hukum mengenai dimulainya perang, urgensi serangan, dan tanggung jawab atas konsekuensi yang ditimbulkannya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, juga mengkritik penafsiran Rubio. Ia mengatakan bahwa Rubio telah melepaskan konsep thymos dari konteks filosofisnya dan menggunakannya untuk mengagungkan kekuatan.
Keempat, pelajaran dari kemunduran Athena. Sejarah Yunani kuno tidak hanya berisi kisah perlawanan terhadap penyerang. Pengalaman ekspedisi militer Athena yang gagal ke Sisilia selama Perang Peloponnesos juga menunjukkan bahwa ambisi militer dapat menguras sumber daya suatu kekuatan dan berujung pada kemundurannya.
Pengalaman tersebut patut menjadi bahan renungan bagi AS. Keunggulan militer semata tidak menjamin keberhasilan politik. Peningkatan biaya perang, baik dalam bentuk korban manusia maupun beban ekonomi, dapat melemahkan kredibilitas dan pengaruh suatu kekuatan.
Kelima, respons Iran dan pertanyaan perang yang tak terjawab. Pernyataan Rubio mendapat tanggapan dari para pejabat Iran dan kritik dari media dalam negeri. Banyak pihak mengkritik narasinya karena menggunakan sejarah secara selektif dan menghubungkannya dengan politik kontemporer.
Sejumlah media juga menilai pidato tersebut sebagai upaya membangun landasan historis dan ideologis bagi perang terhadap Iran.
Respons tersebut menunjukkan bahwa narasi semacam ini tidak selalu berhasil meyakinkan audiens. Sebaliknya, narasi itu dapat memperuncing perselisihan mengenai sejarah dan identitas.
Meski demikian, menurut para pakar, kelemahan terbesar narasi Rubio justru terletak pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawabnya.
Mengapa serangan tersebut dimulai? Apa dasar hukum yang melandasinya? Apa tujuan Washington? Dan jalan apa yang tersedia untuk mengakhiri konflik?
Tidak ada rujukan kepada Xerxes ataupun warisan Athena yang dapat menggantikan kewajiban untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut.
Dengan demikian, upaya Rubio menghubungkan sejarah Yunani dengan kebijakan “America First” menghadapi kontradiksi mendasar. AS berusaha menampilkan dirinya sebagai pewaris peradaban yang pernah berdiri melawan agresor, padahal negara itu sendiri telah menggunakan kekuatan militernya untuk melakukan agresi terhadap Iran.
Kesenjangan antara narasi dan tindakan inilah yang menjadi keterbatasan utama pidatonya. Sebab, jika sejarah hendak dijadikan tolok ukur penilaian, kekuatan-kekuatan masa kini juga harus dimintai pertanggungjawaban berdasarkan prinsip-prinsip moral, hukum, dan kemanusiaan. (*)
Sumber: Mehr News











