Search

Di Balik Layar Operasi “Tombak Selatan” Amerika; Unjuk Kekuatan atau Pembuka Jalan Menuju Perang?

Operasi “Tombak Selatan” mungkin saja dalam jangka pendek memperkuat posisi politik Donald Trump dan memberikan pesan pencegahan kepada para pesaingnya. Namun dalam jangka panjang, operasi ini berpotensi menyeret kawasan Karibia menuju konflik yang lebih luas. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Pengumuman resmi dimulainya operasi “Tombak Selatan” oleh Menteri Pertahanan Amerika kembali menempatkan Amerika Latin di pusat sebuah krisis baru. Washington membenarkan operasi ini dengan alasan memerangi “terorisme narkotika”, tetapi sebagian besar negara di kawasan tersebut melihatnya sebagai kelanjutan dari pola campur tangan lama Amerika. Secara lahiriah, tujuan operasi ini adalah melawan para penyelundup yang diklaim berasal dari pesisir Venezuela dan menuju Amerika Serikat. Namun ketika melihat jumlah pasukan yang dikerahkan, jenis peralatan militer, dan timing operasi yang bertepatan dengan ancaman terbuka terhadap pemerintahan Nicolás Maduro, gambaran yang muncul menjadi sangat berbeda. Amerika kembali mengaktifkan kampanye propaganda yang sudah dikenal: krisis narkoba, ancaman terhadap keamanan nasional, kebutuhan untuk melakukan pertahanan pre-emptif.

Namun pengalaman beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa setiap kali Amerika memakai istilah seperti “terorisme”, “membela kebebasan”, atau “intervensi kemanusiaan”, biasanya mereka memiliki tujuan jauh lebih besar daripada yang mereka sampaikan kepada publiknya sendiri. Operasi “Tombak Selatan” kali ini pun tampaknya bukan semata operasi keamanan, melainkan upaya menekan lawan-lawannya secara geopolitik dan membuka ruang untuk membatasi pengaruh pihak lain di kawasan yang masih dianggap Washington sebagai “halaman belakang” mereka.

Apa Makna Operasi Tombak Selatan?

Nama “Tombak Selatan” sebenarnya adalah sebuah simbol: tombak yang ujungnya diarahkan ke selatan dengan tujuan, seperti klaim Pentagon, “menghancurkan ancaman di sumbernya”. Namun ketika struktur operasinya diteliti, sifat asli operasi ini terlihat jelas. Operasi ini berada di bawah komando Komando Selatan Amerika Serikat dengan pengerahan besar kapal perang, pesawat patroli, pasukan khusus, dan bahkan kapal induk Gerald Ford. Pengerahan sebesar ini sama sekali tidak sesuai dengan tujuan resmi yang hanya untuk menghentikan beberapa kapal kecil penyelundup narkoba.

Dalam beberapa bulan terakhir saja, Amerika telah melakukan sedikitnya 20 serangan laut di Karibia dan Samudra Pasifik yang menyebabkan lebih dari 80 orang tewas. Washington mengklaim serangan-serangan ini ditujukan kepada “teroris narkotika”, tetapi tidak ada bukti kuat yang dipublikasikan tentang hubungan para korban dengan kartel narkoba. Banyak negara di kawasan menilai bahwa istilah “terorisme narkoba” hanyalah konstruksi politik untuk membenarkan tindakan militer.

Waktu dimulainya operasi ini bertepatan dengan pergerakan kapal perang terbesar Amerika menuju pantai Venezuela, publikasi laporan tentang pemberian opsi serangan ke wilayah Venezuela kepada Trump, dan mobilisasi besar pasukan Venezuela. Semua ini memperlihatkan gambaran jelas: Amerika sedang memulai serangkaian operasi terbatas yang murah, tetapi dapat diperluas menjadi intervensi besar jika dianggap perlu. Bahkan beberapa sumber Amerika mengakui bahwa operasi ini bisa menjadi “pintu tekanan langsung terhadap Caracas”.

Akar Krisis: Dari Nasionalisasi Minyak hingga Dunia Multi-Kutub

Meski Amerika mencoba menggambarkan situasi ini sebagai isu keamanan sederhana, para analis melihat hal tersebut sangat berbeda. Ketegangan antara Washington dan Caracas memiliki akar panjang yang kembali ke abad 20 ketika perusahaan minyak Amerika menguasai ekonomi Venezuela. Nasionalisasi industri minyak dan munculnya Republik Bolivarian mengubah arah negara itu secara drastis. Venezuela memilih jalur independen dan memperkuat hubungan dengan Rusia, China, dan kemudian Iran. Bagi para pembuat kebijakan di Amerika, keberadaan negara di “hemisfer barat” yang menjalin kerja sama strategis dengan lawan-lawannya adalah hal yang tidak dapat diterima.

Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama Venezuela dengan kekuatan-kekuatan tersebut juga masuk ranah keamanan. Karena itu, operasi Tombak Selatan harus dipahami sebagai bagian dari upaya Amerika untuk menahan pengaruh negara-negara pesaingnya di Amerika Latin—bukan sebagai tindakan penyelamatan terhadap generasi muda Amerika dari bahaya narkoba.

Uniknya, data resmi Amerika sendiri menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen fentanil masuk melalui Meksiko dan sebagian besar didistribusikan oleh jaringan domestik Amerika, bukan dari perahu-perahu yang berangkat dari Venezuela. Namun pemerintahan Trump justru lebih memilih menciptakan gambaran ancaman eksternal. Alasannya sederhana: lebih mudah dikendalikan dan secara politik lebih menguntungkan.

Dari Sanksi hingga Serangan: Pola Tekanan yang Sama

Kebijakan Amerika terhadap Venezuela selama dua dekade terakhir selalu merupakan kombinasi dari sanksi, tekanan politik, propaganda, dan ancaman militer. Sanksi-sanksi era Trump menghancurkan ekonomi Venezuela dan memangkas pendapatan minyak negara tersebut hingga 70 persen. Tuduhan terhadap Maduro dan penetapan hadiah penangkapan 15 juta dolar (yang kini naik menjadi 50 juta dolar) adalah bagian dari strategi ini.

Kembalinya Trump ke kekuasaan pada 2025 berarti menghidupkan kembali pendekatan tekanan maksimum. Isu narkoba dijadikan alasan untuk membuka jalur intervensi militer. Ketika Washington menuduh sebuah negara sebagai “basis terorisme”, biasanya langkah berikutnya adalah tindakan militer langsung atau tidak langsung. Selain itu, harus diingat bahwa Amerika sedang menghadapi pemilihan paruh waktu, dan setiap pertunjukan kekuatan luar negeri yang membangun citra “pemimpin kuat” akan menguntungkan Trump. Operasi Tombak Selatan menjadi alat politik yang efektif: keras, dramatis, dan tampak sah.

Respons Venezuela dan Munculnya Retakan Baru di Amerika Latin

Venezuela tidak tinggal diam. Maduro menyatakan kesiapan untuk mempertahankan negara dan mengerahkan empat setengah juta pasukan rakyat serta unit khusus tentara. Penempatan jet tempur, sistem rudal, dan latihan gabungan dengan Rusia dan Nikaragua menunjukkan kesiapan Caracas untuk menghadapi ancaman.

Di tingkat regional, reaksi negara-negara Amerika Latin tidak seragam, tetapi suara negara penentang intervensi Amerika cukup kuat. Brasil dan Meksiko bahkan menyatakan serangan-serangan Amerika melanggar hukum internasional. Amerika Latin kini bukan lagi kawasan yang dapat didikte seperti era 1990-an. Kawasan ini telah bergerak menuju dunia multipolar di mana pengaruh Washington tidak lagi mutlak.

Masalah Legalitas; Operasi Tanpa Dasar Hukum

Dari sisi hukum internasional, operasi Tombak Selatan menghadapi problem legitimasi serius. Tidak ada mandat dari Dewan Keamanan PBB, serangan Amerika bukan respons terhadap “serangan bersenjata”, dan Amerika juga tidak memberikan bukti bahwa kapal-kapal yang diserang benar-benar membawa narkoba. Para ahli PBB menyebut operasi ini sebagai pelanggaran jelas terhadap Piagam PBB. Bahkan sebagian anggota Kongres Amerika menuntut penghentian operasi karena pemerintah tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Penolakan pemerintah Amerika untuk merilis bukti-bukti operasi menimbulkan banyak pertanyaan: Jika kapal-kapal itu benar membawa narkoba, mengapa tidak ada bukti dipublikasikan? Mengapa Amerika mengerahkan kekuatan militer besar untuk menghadapi perahu kecil? Dan mengapa opsi serangan ke wilayah Venezuela ikut ditawarkan kepada Trump?

Kesimpulan

Secara keseluruhan, dapat ditegaskan bahwa operasi Tombak Selatan merupakan kelanjutan dari pola yang telah dilakukan Amerika selama satu abad terakhir. Setiap kali sebuah negara di Amerika Latin keluar dari orbit politik Washington dan mulai bekerja sama dengan kekuatan lain, Amerika menganggapnya ancaman terhadap hegemoninya dan berusaha menekan negara tersebut dengan segala cara.

Apa yang disebut Washington sebagai “melindungi keamanan nasional” adalah unjuk kekuatan yang terlihat jelas oleh masyarakat kawasan. Narkoba hanya dijadikan dalih. Jika Amerika benar-benar ingin memerangi narkoba, mereka harus mulai dari jaringan dalam negeri sendiri—bukan dengan mengirim kapal induk ke Karibia.

Operasi Tombak Selatan mungkin meningkatkan posisi politik Trump dan memberikan pesan kepada para pesaingnya, tetapi dalam jangka panjang operasi ini berpotensi menyeret kawasan Karibia menuju konflik besar. Di balik slogan “memerangi narkoba”, pola lama dominasi Amerika di kawasan barat sedang dihidupkan kembali—pola yang tidak pernah menghasilkan apa pun selain ketegangan, ketidakstabilan, dan semakin lebarnya jurang antara utara dan selatan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA