Search

Budaya Membaca di Tengah Arus Informasi Digital

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Windi*

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, informasi dapat diperoleh dengan mudah hanya melalui genggaman tangan. Berbagai berita, pengetahuan, dan hiburan tersedia dalam hitungan detik melalui media sosial, mesin pencari, maupun aplikasi digital. Kemudahan ini tentu memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia pendidikan. Namun, di balik derasnya arus informasi tersebut, muncul persoalan yang perlu diperhatikan: apakah kemudahan memperoleh informasi juga membuat masyarakat semakin gemar membaca dan memahami pengetahuan secara mendalam?

Membaca merupakan salah satu kebiasaan penting dalam meningkatkan pengetahuan dan memperluas cara berpikir. Melalui membaca, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga belajar memahami sudut pandang, menghubungkan berbagai gagasan, dan menilai suatu persoalan secara lebih kritis. Sayangnya, budaya membaca saat ini menghadapi tantangan akibat kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat. Banyak orang lebih tertarik membaca judul, ringkasan, atau konten singkat daripada menyisihkan waktu untuk membaca tulisan yang lebih panjang. Akibatnya, informasi sering kali hanya diketahui secara sekilas tanpa dipahami secara utuh.

Persoalan utama bukanlah keberadaan teknologi digital, melainkan cara manusia menggunakannya. Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat budaya membaca, bukan menggantikannya dengan kebiasaan menerima informasi secara terburu-buru. Buku cetak, buku digital, jurnal, dan berbagai sumber pembelajaran dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan. Namun, kemudahan akses tersebut perlu diiringi dengan kemampuan memilih sumber yang terpercaya, memahami isi bacaan, serta membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pembaca yang kritis dan bertanggung jawab.

Dalam dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI), budaya membaca memiliki kedudukan yang sangat penting. PAI tidak hanya bertujuan menyampaikan pengetahuan tentang ajaran Islam, tetapi juga membentuk sikap, akhlak, dan kemampuan peserta didik dalam menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Untuk mencapai tujuan tersebut, peserta didik perlu memiliki kebiasaan membaca berbagai sumber, seperti Alquran, hadis, buku keislaman, dan literatur pendidikan. Membaca membantu mereka memahami ajaran agama secara lebih luas, tidak hanya berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial.

Pentingnya membaca juga dapat dikaitkan dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw, yaitu perintah iqra dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Perintah membaca tersebut menjadi pengingat bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap kegiatan mencari ilmu dan mengembangkan pengetahuan. Dalam konteks PAI, membaca bukan hanya aktivitas untuk memperoleh nilai akademik, tetapi juga bagian dari proses memahami kebesaran Allah Swt, memperdalam ajaran agama, dan membentuk pribadi yang berilmu serta berakhlak. Oleh karena itu, budaya literasi seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan Islam.

Sebagai mahasiswa PAI, kita memiliki tanggung jawab untuk memahami bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menilai kebenarannya, mengolah pengetahuan, dan menggunakannya secara bijak. Hal ini menjadi semakin penting karena informasi keagamaan di internet sangat beragam. Tidak semua kutipan ayat, hadis, atau nasihat agama yang beredar memiliki sumber yang jelas. Tanpa kemampuan literasi yang baik, seseorang dapat dengan mudah menerima dan menyebarkan informasi keagamaan yang keliru. Karena itu, mahasiswa PAI perlu membiasakan diri melakukan tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi, diperlukan langkah-langkah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekolah dan perguruan tinggi dapat mengadakan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, kajian berbasis literatur, serta program berbagi rekomendasi bacaan. Dalam pembelajaran PAI, guru dapat mendorong peserta didik membaca kisah nabi, memahami kandungan ayat Alquran, atau mencari penjelasan hadis dari sumber yang terpercaya sebelum mendiskusikannya di kelas. Kegiatan tersebut dapat membuat kegiatan membaca terasa lebih bermakna karena peserta didik tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Keluarga dan masyarakat juga memiliki peran dalam membangun kebiasaan tersebut. Orang tua dapat memberikan contoh dengan menyediakan waktu untuk membaca dan berdiskusi bersama anak. Sementara itu, media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan konten edukatif, rekomendasi buku, dan informasi keislaman yang disertai sumber yang jelas.

Selain itu, masyarakat perlu dibekali literasi digital agar tidak mudah percaya pada berita palsu, judul yang menyesatkan, maupun informasi agama yang belum terverifikasi. Membiasakan diri membaca secara utuh, memeriksa sumber, dan membandingkan informasi merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak semestinya membuat budaya membaca semakin ditinggalkan. Justru, derasnya arus informasi harus menjadi alasan bagi kita untuk membaca dengan lebih bijak dan mendalam. Melalui kerja sama antara keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat, budaya literasi dapat ditumbuhkan secara berkelanjutan. Dalam perspektif PAI, literasi bukan hanya sarana untuk meningkatkan kecerdasan, tetapi juga jalan untuk membentuk manusia yang berilmu, kritis, berakhlak, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, membaca tidak sekadar menjadi kegiatan untuk mengetahui banyak hal, melainkan menjadi kebiasaan yang membantu kita memahami ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. (*Mahasiswi Fakultas Agama Islam Unikarta)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA