Oleh : Niya Armita Sari*
Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sekarang sudah semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya digunakan untuk pekerjaan, AI juga mulai dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan agama Islam. Anak-anak sekarang dapat dengan mudah mencari informasi tentang agama melalui internet dan berbagai aplikasi. Mereka bisa mencari tata cara wudu dan salat, mendengarkan bacaan Al-Qur’an, melihat video tentang praktik ibadah, bahkan bertanya langsung kepada AI ketika menemukan sesuatu yang belum mereka pahami.
Menurut saya, kemudahan ini tentu merupakan hal yang positif jika digunakan dengan baik. Anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar dan mendapatkan informasi. Namun, ada hal yang perlu kita pikirkan bersama. Apakah kemudahan mendapatkan informasi agama otomatis membuat anak semakin baik dalam menjalankan agama?
Pertanyaan tersebut penting karena pendidikan agama sebenarnya tidak hanya tentang membuat anak mengetahui suatu pengetahuan. Anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa salat itu wajib, berkata jujur itu baik, dan menghormati orang tua itu penting. Semua pengetahuan tersebut perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah saya melihat bahwa kehadiran teknologi, termasuk AI, tetap memiliki batas.
Teknologi memang dapat membantu orang tua dalam mendampingi anak belajar. Akan tetapi, penggunaan teknologi juga perlu diperhatikan agar tidak membuat orang tua justru semakin jauh dari proses pendidikan anak.
Saat ini, tidak sulit menemukan anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai. Dalam beberapa keadaan, gawai bahkan diberikan kepada anak agar mereka dapat bermain, menonton video, atau belajar sendiri. Untuk pendidikan agama pun tersedia banyak aplikasi dan konten yang menarik bagi anak.
Masalahnya bukan pada penggunaan gawai tersebut. Yang menjadi persoalan adalah ketika gawai mulai dianggap sebagai pengganti pendampingan orang tua.
Fenomena ini sering disebut sebagai digital babysitting, yaitu ketika teknologi digunakan untuk menggantikan sebagian peran orang tua dalam menemani anak. Anak memang bisa mendapatkan informasi dari layar, tetapi pendidikan agama tidak berhenti pada informasi.
AI dapat menjelaskan bagaimana tata cara salat. Aplikasi dapat memperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Video dapat menunjukkan bagaimana cara berwudu. Namun, teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan orang tua yang mengingatkan anak ketika waktu salat tiba, mendengarkan bacaannya, membenarkan kesalahannya, atau memberikan semangat ketika anak mulai merasa kesulitan.
Karena itu, menurut saya, anak tetap membutuhkan kehadiran orang tua dalam proses belajar agama. Teknologi seharusnya membantu proses tersebut, bukan mengambil alihnya.
Sebelum anak mengenal guru di sekolah, mereka lebih dahulu mengenal orang tua dan lingkungan rumah. Dari rumah anak mulai belajar berbicara, bersikap, menghormati orang lain, mengenal ibadah, serta memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Itulah mengapa rumah sering disebut sebagai madrasatul ula, yaitu tempat pendidikan pertama bagi anak. Menurut saya, konsep ini justru semakin penting untuk dibicarakan di tengah perkembangan AI.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan kepadanya, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Orang tua bisa saja mengatakan kepada anak bahwa salat harus dilakukan tepat waktu. Namun, jika anak setiap hari melihat orang tuanya menunda salat karena sibuk bermain HP atau melakukan pekerjaan lain, anak akan melihat contoh yang berbeda dari nasihat yang diberikan.
Begitu juga dengan kejujuran. Orang tua mungkin sering mengatakan kepada anak agar tidak berbohong. Tetapi ketika orang tua sendiri memberikan contoh yang tidak sesuai dengan perkataannya, anak bisa menjadi bingung tentang nilai yang sebenarnya harus mereka ikuti.
Sebaliknya, ketika anak melihat orang tuanya berusaha menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berbicara dengan sopan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan menghargai orang lain, anak mendapatkan pelajaran agama secara langsung.
Menurut saya, keteladanan seperti inilah yang tidak bisa diberikan oleh AI. AI dapat memberikan penjelasan, tetapi orang tua memberikan contoh nyata. Anak dapat membaca tentang pentingnya kejujuran melalui internet, tetapi melihat orang tuanya bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan pengalaman yang berbeda.
Kehadiran AI membuat anak bisa mendapatkan jawaban dengan sangat cepat. Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui suatu informasi. Namun, dalam pendidikan agama, mendapatkan jawaban saja belum tentu cukup.
Anak membutuhkan seseorang yang dapat membantunya memahami dan menerapkan jawaban tersebut dalam kehidupan nyata. Misalnya, ketika anak bertanya mengapa harus salat, orang tua tidak hanya perlu menjelaskan hukumnya, tetapi juga dapat mengajak anak untuk melaksanakan salat bersama.
Begitu pula ketika anak belajar membaca Al-Qur’an. Teknologi dapat menyediakan audio untuk didengarkan berulang kali. Anak juga bisa menggunakan aplikasi untuk berlatih. Namun, pendampingan langsung dari orang tua atau guru tetap penting untuk membantu memperbaiki bacaan dan memberikan semangat.
Hal sederhana seperti menemani anak mengaji, mengingatkan waktu salat, atau mengajak anak berbicara tentang apa yang mereka lihat di internet sebenarnya merupakan bagian dari pendidikan agama.
Jadi, menurut saya, masalahnya bukan apakah AI boleh digunakan dalam pendidikan agama atau tidak. AI justru bisa menjadi alat yang bermanfaat. Yang penting adalah bagaimana orang tua tetap hadir dan tidak menyerahkan seluruh proses pendidikan kepada teknologi.
Kita tidak mungkin menghindarkan anak sepenuhnya dari perkembangan teknologi. Karena itu, yang lebih penting adalah mengajarkan anak bagaimana menggunakan teknologi dengan benar.
Orang tua dapat mendampingi anak ketika menggunakan AI untuk belajar agama. Misalnya, ketika anak mendapatkan jawaban dari AI, orang tua dapat mengajak anak mencari tahu sumbernya dan membandingkannya dengan sumber keagamaan yang dapat dipercaya. Dengan begitu, anak tidak langsung percaya pada semua jawaban yang muncul di layar.
Selain itu, orang tua juga dapat membuat kebiasaan sederhana di rumah. Misalnya, melaksanakan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, makan bersama tanpa menggunakan HP, atau menyediakan waktu khusus untuk berbicara dengan anak.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah nilai agama dapat tumbuh. Pendidikan tidak selalu harus dilakukan melalui nasihat panjang. Terkadang, anak lebih mudah belajar ketika mereka melihat langsung apa yang dilakukan oleh orang tuanya.
Cara orang tua berbicara, meminta maaf, menghadapi masalah, menggunakan media sosial, dan memperlakukan orang lain juga sebenarnya merupakan bentuk pendidikan bagi anak.
Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa mereka tidak hanya berperan sebagai orang yang memberikan nasihat, tetapi juga sebagai contoh yang setiap hari dilihat oleh anak.
AI akan terus berkembang. Kemungkinan besar teknologi akan semakin banyak digunakan dalam proses belajar anak. Hal tersebut tidak perlu ditakuti selama penggunaannya dilakukan secara bijak.
Menurut saya, yang perlu kita jaga bukanlah menjauhkan anak dari teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tidak membuat hubungan antara anak dan orang tua semakin jauh.
AI dapat membantu anak mencari informasi agama. Internet dapat menyediakan berbagai bahan pembelajaran. Aplikasi dapat membantu anak berlatih membaca Al-Qur’an. Semua itu adalah kemudahan yang patut dimanfaatkan.
Namun, anak tetap membutuhkan orang tua yang hadir di samping mereka.
Anak mungkin bisa bertanya kepada AI tentang bagaimana menjadi anak yang jujur. Tetapi mereka akan lebih memahami kejujuran ketika melihat orang tuanya menerapkannya. Anak mungkin bisa mencari video tentang tata cara salat. Tetapi mereka akan lebih terbiasa salat ketika orang tuanya mengajak dan memberikan contoh secara langsung.
Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, rumah tetap memiliki tempat yang penting dalam pendidikan agama anak. Madrasatul ula bukan sekadar istilah, tetapi menjadi pengingat bahwa pendidikan pertama anak dimulai dari keluarga.
Mengembalikan rumah sebagai madrasatul ula bukan berarti menolak AI atau perkembangan teknologi. Justru teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memperluas pengetahuan anak. Namun, di tengah kemajuan tersebut, orang tua tetap perlu hadir sebagai pendamping dan teladan.
Sebab, anak tidak hanya membutuhkan informasi tentang agama. Mereka membutuhkan seseorang yang menunjukkan bagaimana agama itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dan sosok pertama yang mereka lihat adalah orang tua. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara)











