Oleh: Hairul Saleh*
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Ungkapan lama ini bukan sekadar pepatah, melainkan refleksi dari semangat peradaban yang menghargai ilmu pengetahuan.
Awal Februari 2026 menjadi momentum berharga bagi saya dan beberapa pendidik nonformal Indonesia untuk belajar langsung di Tiongkok melalui program penguatan soft skills dalam bisnis dan kewirausahaan di Tiangong University.
Di sana, saya melihat bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan cara berpikir. Soft skills seperti empati, berpikir kritis, komunikasi, inovasi, dan kewirausahaan tidak diajarkan sebatas teori. Nilai-nilai tersebut ditumbuhkan melalui kegiatan belajar yang dirancang relevan dengan kondisi dan kebutuhan nyata di lingkungan sekitar.
Pendekatan ini sangat selaras dengan arah kebijakan pendidikan Indonesia yang saat ini menekankan pembelajaran mendalam (deep learning). Pembelajaran mendalam bukan sekadar memahami materi di permukaan, tetapi menuntut peserta didik untuk mampu mengaitkan pengetahuan dengan konteks nyata, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya yang bermakna.
Salah satu hal yang paling menarik adalah bagaimana Tiongkok mampu menjaga tradisi sekaligus memanfaatkan teknologi modern. Budaya tidak diposisikan sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai identitas yang diperkuat dengan inovasi. Dalam konteks pembelajaran mendalam, pendekatan ini mendorong peserta didik memahami akar budaya mereka, lalu mengolahnya menjadi produk kreatif dan bernilai ekonomi. Pengetahuan tidak berhenti pada hafalan, tetapi bertransformasi menjadi karya.
Bagi saya sebagai Pamong Belajar di SPNF SKB Kota Bontang, pengalaman ini memantik refleksi mendalam. Pendidikan nonformal di Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang adaptif dan mandiri. Namun, tantangan kita tidak ringan, yakni keterbatasan sumber daya, latar belakang peserta didik yang beragam, serta kecenderungan sebagian peserta didik yang memandang pendidikan sebatas sarana memperoleh ijazah, bukan sebagai proses pembelajaran yang utuh. Kondisi ini membuat penguatan karakter dan soft skills yang seharusnya tumbuh melalui proses belajar menjadi kurang optimal.
Padahal, di era disrupsi dan perkembangan kecerdasan artifisial, soft skills justru menjadi pembeda utama. Pembelajaran mendalam mendorong peserta didik tidak hanya mampu melakukan sesuatu, tetapi memahami makna di baliknya, mampu berkolaborasi, berkomunikasi efektif, serta memiliki ketangguhan dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan.
Pengalaman di Tiongkok juga mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu identik dengan fasilitas mahal. Yang paling utama adalah pola pikir dan sistem yang mendukung pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi dengan industri, serta ruang refleksi yang terstruktur. Di pendidikan nonformal, ruang ini justru sangat mungkin diwujudkan karena sifatnya yang fleksibel dan kontekstual.
Pertanyaannya kemudian adalah apa yang bisa kita lakukan di Indonesia? Pertama, integrasi soft skills perlu menjadi bagian sistematis dalam kurikulum pendidikan nonformal, bukan sekadar tambahan. Kedua, pembelajaran keterampilan perlu dirancang secara kontekstual sesuai potensi lokal, sehingga peserta didik tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu mengolah dan mengembangkan potensi daerahnya menjadi produk atau layanan yang bernilai ekonomi dan relevan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Ketiga, kemitraan dengan UMKM dan dunia usaha harus diperkuat agar pembelajaran tidak terputus dari realitas.
Lebih jauh lagi, pembelajaran mendalam di pendidikan nonformal dapat diwujudkan melalui kegiatan yang mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Peserta didik dapat dilatih menggunakan AI untuk merancang desain produk lokal, membuat konten promosi digital, menganalisis kebutuhan pasar sederhana, hingga menyusun strategi pemasaran berbasis media sosial. Dalam proses inilah soft skills seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi berkembang seiring dengan penguatan kompetensi teknis secara terpadu dan bermakna.
Perjalanan ini bukan tentang membandingkan, apalagi meniru sepenuhnya. Ia tentang mengambil pelajaran, menyaring yang relevan, dan mengadaptasinya sesuai jati diri pendidikan Indonesia. Pendidikan nonformal yang fleksibel dan berbasis kebutuhan masyarakat justru memiliki ruang paling luas untuk menghadirkan pembelajaran mendalam yang menyatukan karakter, kompetensi, dan teknologi dalam solusi nyata bagi kehidupan.
Semoga langkah kecil yang kami mulai dari ruang-ruang belajar di Tiongkok ini akan menjadi bagian dari kontribusi besar bagi pendidikan nonformal di Indonesia. Semoga semangat baru ini tidak hanya menjadi inspirasi sesaat, tetapi menjadi katalis perubahan yang berkelanjutan, suatu langkah kecil yang menyinari perjalanan panjang kita menuju Indonesia Emas 2045 dengan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter dan berdaya saing global. (*Pamong Belajar SPNF SKB Kota Bontang)












