Search

Bagaimana Rusia Memanfaatkan Masa Transisi dari Tatanan Amerika-Sentris di Kawasan Global Selatan?

Melemahnya kekuatan soft power Amerika Serikat, menurunnya legitimasi lembaga-lembaga internasional yang berorientasi pada Barat, serta bangkitnya aktor-aktor independen di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, kini menjadi tanda-tanda jelas dari kemunduran tatanan dunia Amerika-sentris dan kebangkitan Global South. (Tasnim News)

BERITAALTERNATIF – Menurut laporan desk internasional Tasnim News Agency, sistem internasional saat ini tengah melewati salah satu fase transisi terdalam sejak berakhirnya Perang Dingin. Penurunan kekuatan soft power Amerika Serikat, pudarnya legitimasi lembaga-lembaga internasional yang dipengaruhi Barat, serta munculnya negara-negara independen di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, semuanya menunjukkan gejala yang nyata dari melemahnya tatanan dunia berbasis dominasi AS dan tumbuhnya peran Global South.

Dalam kondisi ini, Rusia—yang selama dua dekade terakhir berada dalam konflik berkelanjutan dengan Barat—berusaha memandang fase transisi ini bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk mendefinisikan kembali posisi geopolitik dan ekonomi mereka. Kunjungan terbaru para pejabat Rusia ke Mesir dan rencana perjalanan Presiden Putin ke New Delhi pada akhir tahun menunjukkan betapa pentingnya hubungan Rusia dengan dua kekuatan regional yang memegang peran utama di Asia Selatan dan Afrika Utara.

Namun pertanyaan utamanya adalah: apakah Rusia merupakan “arsitek” dari transisi ini, atau hanya “pemanfaat cerdas” dari perubahan besar tersebut? Dan bagaimana posisi Rusia dalam memanfaatkan momentum kebangkitan Global South?

  1. Tatanan Dunia yang Sedang Berubah dan Kebangkitan Global South

Setelah berakhirnya Perang Dingin, Barat—khususnya Amerika Serikat—berusaha mempertahankan struktur dunia unipolar. Namun, sejak krisis finansial 2008 hingga pecahnya perang di Ukraina, jelas terlihat bahwa hegemoni ini semakin melemah. Dunia kini bergerak menuju konfigurasi kekuasaan multipolar; suatu kondisi ketika negara-negara seperti India, Tiongkok, Brasil, Indonesia, Iran, dan Mesir mulai memiliki peran nyata dalam proses pengambilan keputusan global.

Dalam konteks ini, Global South—sekumpulan negara non-Barat yang kini tengah mengembalikan peran historis mereka dalam politik dan ekonomi dunia—tampil sebagai motor utama perubahan global. Meningkatnya perdagangan antarnegara non-Barat, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi, serta ekspansi BRICS dan SCO adalah indikator nyata terbentuknya sebuah tatanan baru “pasca-Amerika”.

Rusia bukan pencipta tren ini, tetapi salah satu pihak yang paling diuntungkan. Perang Ukraina dan sanksi besar-besaran dari Barat mendorong Moskow untuk memperkuat hubungan dengan dunia non-Barat. Isolasi yang dipaksakan Barat justru membuat Rusia menemukan ruang baru untuk menjual energi, berbagi teknologi, dan melakukan kerja sama militer–ekonomi dengan negara-negara Global South.

Kini Rusia berupaya memanfaatkan momentum ini sebagai landasan untuk membangun kembali posisi strategisnya dalam sistem internasional—bukan melalui konfrontasi langsung dengan Barat, tetapi lewat jejaring kerja sama antarkekuatan independen.

  1. Diplomasi Energi dan Teknologi: Alat Rusia Memanfaatkan Momentum Global South

Di tengah tekanan sanksi, energi menjadi bukan hanya sumber pendapatan, tetapi instrumen diplomasi bagi Rusia. India, meski mendapat tekanan kuat dari AS, justru meningkatkan impor minyak Rusia. Mesir juga menjalin kerja sama erat dengan Moskow dalam bidang energi dan ketahanan pangan.

Minyak, gas, dan teknologi nuklir Rusia kini menjadi “bahasa komunikasi” antara Moskow dan Global South—bahasa yang tidak dibangun atas dasar subordinasi politik, tetapi kebutuhan saling menguntungkan.

Misalnya saja, proyek pembangunan reaktor nuklir baru di India dengan teknologi VVER-1200 atau pengembangan infrastruktur energi Mesir bersama Rosatom menunjukkan usaha Rusia dalam mendorong model baru “diplomasi teknologi Selatan–Selatan”.

Rusia juga memposisikan diri sebagai pemasok persenjataan yang dapat diandalkan bagi negara-negara non-Barat. Tawaran transfer teknologi pesawat tempur generasi kelima Sukhoi-57 ke India adalah salah satu contohnya.

Karena banyak negara Global South menghadapi pembatasan akses teknologi dari Barat, keterbukaan Rusia terhadap kerja sama teknologi membuatnya tampil sebagai mitra alternatif. Secara ekonomi-politik, ini menghasilkan pola “diversifikasi teknologi” yang mengurangi ketergantungan negara-negara tersebut pada Barat dan menciptakan hubungan saling ketergantungan antara Rusia dan negara-negara Global South.

Salah satu dimensi yang jarang dibahas adalah kemungkinan kesepakatan pertukaran tenaga kerja antara Rusia dan India. Saat Eropa menghadapi krisis demografi dan Rusia kekurangan tenaga ahli, perpindahan tenaga kerja dari Asia dapat menghasilkan pola interaksi baru antara Global South dan Eurasia—sebuah bentuk “globalisasi non-Barat” yang sedang tumbuh.

  1. Diplomasi Seimbang Rusia di Dunia Islam dan Asia Selatan

Pertemuan pejabat tinggi keamanan Rusia dengan Presiden Mesir, serta pembahasan kerja sama ekonomi dan keamanan, mencerminkan upaya Moskow dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara moderat di dunia Islam—negara yang dalam berbagai krisis global memilih jalur independen dari polarisasi Timur–Barat.

Dalam hubungan semacam itu, Rusia tidak mencari aliansi militer, tetapi sinergi berbasis kepentingan bersama. Mesir adalah pintu gerbang Afrika dan Mediterania; India adalah pintu gerbang Samudera Hindia dan Asia Selatan—keduanya sangat penting bagi akses Rusia menuju pasar global dan jalur transit.

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan luar negeri Rusia telah bergeser dari konfrontasi langsung dengan Barat ke diplomasi multi-arah. Moskow tetap menjalin hubungan kuat dengan Tiongkok dan Iran, tetapi sekaligus memperluas hubungan dengan negara-negara besar yang memiliki hubungan baik dengan Barat namun tetap menjaga otonomi strategisnya—seperti India, Arab Saudi, dan Mesir.

Pola ini memungkinkan Rusia tidak hanya mengurangi dampak sanksi Barat, tetapi juga memainkan peran sebagai penghubung antara berbagai kekuatan regional. Kehadiran India, Iran, dan Mesir dalam lingkaran kerja sama Rusia memperkuat peluang terbentuknya koalisi-koalisi lunak dalam format seperti BRICS atau Eurasia.

  1. Rusia sebagai Pemanfaat Transisi: Bukan Pemimpin, Bukan Pengikut

Jika menelaah kebijakan Rusia secara cermat, jelas bahwa negara ini bukan “pemimpin Global South”, dan tidak berupaya menjadi hegemon baru pengganti Barat. Strategi Rusia lebih mirip “pemanfaat cerdas fase transisi”.

Rusia bergerak berdasarkan tiga prinsip utama:

  1. Mengubah tekanan sanksi menjadi peluang memperluas hubungan dengan Global South.
  2. Menggunakan energi dan teknologi sebagai instrumen pengaruh lunak.
  3. Menjaga keseimbangan antara Timur dan Selatan tanpa bergantung sepenuhnya pada Tiongkok.

Prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa Rusia tidak mengejar dominasi, melainkan mencoba memanfaatkan kondisi multipolar untuk mengembalikan posisinya sebagai salah satu kutub penting dalam sistem global.

  1. Implikasi bagi Sistem Internasional

Transisi dari tatanan Amerika-sentris membawa dampak yang lebih luas dari sekadar kepentingan Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak dari pola dominasi menuju pola interaksi seimbang. Dalam struktur baru ini, kekuatan tidak lagi berpusat pada satu negara, tetapi tersebar melalui jaringan pusat-pusat regional, dan negara-negara Global South menggunakan sumber daya alam, posisi geografis, dan modal manusia mereka untuk mendefinisikan ulang hubungan global.

Dalam konteks ini, perilaku Rusia menjadi studi kasus mengenai bagaimana kekuatan yang tengah berada dalam masa transisi dapat memanfaatkan kekosongan dalam tatanan internasional. Seperti halnya Amerika Serikat memanfaatkan kekacauan pasca-Perang Dunia II untuk mengokohkan hegemoninya, kini Rusia dan negara-negara lain di Global South berusaha memanfaatkan krisis tatanan Amerika-sentris untuk merekonstruksi posisi strategis mereka.

Dengan mempertimbangkan berbagai variabel dan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rusia bukanlah pusat utama transisi global ini, tetapi jelas merupakan salah satu pihak yang paling mampu memanfaatkan fase transisi tersebut. Negara ini memahami realitas dunia multipolar dan mengalihkan kebijakannya dari konfrontasi langsung menjadi pemanfaatan peluang melalui jaringan Global South.

Pada akhirnya, meski Barat masih memiliki banyak instrumen untuk mempengaruhi dunia, arah perubahan global menunjukkan bahwa dunia telah memasuki era distribusi ulang kekuasaan dan pembentukan tatanan pasca-Amerika. Dalam tatanan baru ini, Rusia hanyalah salah satu pemain aktif—bukan pusat gravitasi—namun pengalaman Rusia menunjukkan bahwa pemenang dalam masa transisi adalah mereka yang mampu mengubah kekacauan menjadi peluang, dan Rusia, setidaknya di kawasan Global South, tampaknya sedang melakukan hal tersebut. (*)

Sumber: Tasnim News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA