BERITAALTERNATIF – Sejak tahun 2007, Amerika Serikat telah meluncurkan banyak pusat pelatihan non-pemerintah dan menjalankan berbagai program pendidikan serta peningkatan keterampilan di Irak. Upaya ini dilakukan untuk memperluas pengaruh soft power-nya di negara tersebut. Salah satu program terpenting yang dijalankan adalah program IYLP (Iraqi Young Leaders Exchange Program).
Apa itu Program IYLP?
IYLP atau Program Pertukaran Aktivis Muda Irak adalah program pendidikan dan budaya yang memberikan kesempatan satu bulan untuk berkunjung ke Amerika Serikat bagi pelajar sekolah menengah dan mahasiswa sarjana Irak. Program ini didukung secara penuh oleh Kedutaan Amerika di Baghdad dan hingga kini telah dijalankan untuk lebih dari 3.000 peserta.
Isi Program IYLP
Program IYLP terbagi menjadi tiga tahap: sebelum keberangkatan ke Amerika, selama berada di Amerika, dan setelah kembali ke Irak.
Sebelum Keberangkatan ke Amerika
Tahap ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah sesi pengenalan sebelum program dimulai, yang menjelaskan isi kegiatan, struktur pelatihan, dan informasi yang dibutuhkan untuk perjalanan ke AS. Bagian kedua terdiri dari empat minggu kelas online yang membahas berbagai materi, seperti masalah sosial, analisis isu, harapan program, proses pemecahan masalah, dan topik-topik lain yang terkait. Kelas ini biasanya berlangsung pada bulan Mei dan Juni.
Saat Berada di Amerika Serikat
Pada tahap ini, peserta menerima berbagai pelatihan dan diperkenalkan dengan budaya Amerika. Pengenalan ini dirancang secara terarah dan terstruktur sehingga peserta bahkan tidak diperkenankan bertemu dengan kerabat atau kenalan yang berada di AS. Program ini berlangsung selama empat minggu sebagai berikut:
- Minggu pertama terdiri dari workshop selama 4 hingga 7 hari di Brattleboro, Vermont, di mana peserta tinggal di asrama bersama siswa dan mahasiswa Amerika atau peserta dari negara lain yang sedang belajar di AS. Mereka merasakan kehidupan ala pelajar dan mahasiswa Amerika.
- Minggu kedua dan ketiga berupa program 14 hingga 18 hari yang diselenggarakan di salah satu universitas (yang dipilih secara terencana) dan sejumlah keluarga Amerika. Program ini berlangsung dalam dua skema:
- Dalam skema pertama, peserta menghabiskan waktu dari pagi hingga sore mengikuti kegiatan pelatihan di universitas, termasuk kelas dan kegiatan lapangan. Pada malam hari dan akhir pekan, mereka tinggal bersama keluarga angkat Amerika (umumnya untuk siswa SMA dan sebagian mahasiswa).
- Dalam skema kedua, mahasiswa tinggal bersama keluarga angkat hanya pada akhir pekan, sementara pada hari-hari biasa mereka tinggal di lingkungan kampus dan asrama (biasanya hanya untuk mahasiswa).
Dalam dua minggu ini, universitas menyelenggarakan berbagai program yang sejalan dengan tujuan IYLP, seperti pelatihan penyelesaian konflik, pembuatan perahu, pemutaran film, hingga diskusi kelompok.
- Minggu keempat adalah program 4 hingga 7 hari di Washington DC, di mana peserta membahas proyek yang harus mereka jalankan setelah kembali ke Irak. Pada minggu ini, mereka tetap tinggal di asrama.
Setelah Kembali ke Irak
Setelah peserta kembali dari AS dan mengikuti program musim panas IYLP, kembali diadakan kelas online selama dua minggu untuk membahas dan mengevaluasi proyek masing-masing peserta di Irak. Akhirnya, sekitar enam bulan kemudian, sebuah konferensi kelulusan (biasanya di Erbil) digelar, di mana sebagian besar peserta telah menyelesaikan proyek mereka.
Kesimpulan
Program IYLP lebih bersifat kultural dibanding keterampilan teknis, terutama bagi peserta remaja. Karena usia remaja merupakan fase sensitif, peluang untuk memberikan pengaruh budaya lebih tinggi. Interaksi dengan keluarga angkat Amerika, kehidupan kampus, dan lingkungan sosial AS membuat peserta lebih mudah terpengaruh oleh nilai-nilai yang ditampilkan.
Bukan berarti mahasiswa tidak menerima pengaruh budaya; mereka juga mengikuti kegiatan seperti tarian kelompok, kunjungan ke tempat ibadah dari agama lain, serta penggunaan instruktur LGBTQ secara sengaja—semuanya sejalan dengan tujuan utama program ini.
Amerika menggunakan program pendidikan–kultural ini untuk membentuk generasi masa depan Irak yang tumbuh dengan nilai dan pola pikir Amerika. Generasi ini secara tidak langsung akan mengikuti kepentingan AS, melemahkan wacana perlawanan dan Islam politik di Irak, serta menggeser makna keislaman Syiah dari akar aslinya.
Dalam praktiknya, hal ini dapat menghasilkan tren politik seperti melemahnya kelompok Syiah anti-Amerika, meningkatnya kendali tidak langsung AS atas ekonomi dan sumber daya alam Irak, munculnya kandidat politik pro-Amerika dalam pemilu, dan pada akhirnya menjadikan Irak sebagai titik tekan strategis terhadap Republik Islam Iran. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












