BERITAALTERNATIF.COM – Sejarawan sekaligus budayawan Kutai Kartanegara, Awang Rifani, menyoroti sejumlah narasi yang berkembang di tengah masyarakat mengenai asal-usul nama Tenggarong.
Salah satu yang menurutnya perlu dikaji kembali ialah anggapan bahwa nama Tenggarong berasal dari istilah “tangga arung” yang disebut berasal dari bahasa Bugis dan dimaknai sebagai rumah raja.
Awang mengatakan, secara kebahasaan, narasi tersebut memiliki persoalan. Dalam bahasa Bugis, kata “arung” memang dikenal dengan arti raja. Namun, kata “tangga” tidak dikenal sebagai kosakata bahasa Bugis yang berarti rumah.
“Kalau orang Bugis, rumah itu bola. Bola itu rumah. Bukan tangga,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif di Tenggarong pada Senin (28/9/2026).
Karena itu, menurutnya, istilah “tangga arung” yang kemudian dimaknai sebagai rumah raja perlu dipertanyakan kembali dasar kebahasaannya.
Dia justru menjelaskan bahwa nama Tenggarong berkaitan dengan istilah “Tegaron” atau “Tegarong”. “Tenggarong itu berasal dari kata Tegaron,” katanya.
Ia mengungkapkan, Tegaron merupakan nama tumbuhan yang dahulu tumbuh di kawasan sekitar sungai. Bunga dari tumbuhan tersebut berwarna putih dan menjadi bagian dari cerita mengenai asal-usul nama Tenggarong.
Awang menyebut keberadaan Sungai Tenggarong Besar dan Sungai Tenggarong Anak juga menjadi bagian penting dalam menelusuri asal nama kawasan tersebut.
“Memang kampung ini namanya Kampung Tenggarong, karena ada Sungai Tegarong Besar dan Sungai Tegarong Anak. Itulah yang muncul kemudian menjadi nama kota,” jelasnya.
Penyebutan Tegaron, lanjutnya, kemudian berkembang menjadi Tenggarong. Perubahan tersebut dapat terjadi karena pengucapan nama Tegaron dianggap kurang nyaman diucapkan dalam perkembangan bahasa masyarakat.
“Karena lidah orang Tegaron itu kan kurang nyaman diucapkan,” ujarnya.
Dia mengatakan bahwa narasi mengenai asal-usul nama Tenggarong juga perlu dilihat berdasarkan proses terbentuknya istilah tersebut, termasuk kapan sebuah nama mulai digunakan dan dalam konteks masyarakat seperti apa nama itu berkembang.
Ia mencontohkan istilah “Tepian Pandan” yang saat ini dikenal sebagai bagian dari sejarah kawasan Tenggarong.
Menurutnya, istilah tersebut justru berkembang setelah keberadaan masyarakat Melayu di kawasan tersebut.
“Sejarah-sejarah yang dibuat tentang Tepian Pandan itu ternyata memang berkembang setelah ada orang Melayu di sini. Istilah itu baru digunakan,” katanya.
Karena itu, Awang menilai penting untuk membedakan antara nama yang digunakan masyarakat sejak awal dengan istilah yang muncul kemudian karena perkembangan sosial dan budaya.
Dia menjelaskan, dalam kajian sejarah, sebuah narasi tidak cukup hanya karena sudah populer. Setiap cerita tetap perlu ditelusuri dan divalidasi berdasarkan sumber yang tersedia.
Ia menyebut terdapat sejumlah cerita mengenai sejarah Tenggarong yang tidak begitu populer karena tidak menjadi bagian dari narasi resmi yang selama ini digunakan dalam kegiatan pemerintahan.
“Yang tidak disahkan oleh pemerintah. Tidak populer. Karena setiap event-event pemerintah menggunakan narasi yang versi dia,” ujarnya.
Awang menilai kondisi tersebut membuat masyarakat lebih sering mendengar satu versi sejarah dibandingkan versi lainnya.
Padahal, menurut dia, sejarah suatu daerah dapat memiliki sejumlah versi yang perlu ditelusuri untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh.
“Memang ada legenda yang berkembang, yang tidak populer. Karena yang populer itu kan yang disahkan oleh pemerintah,” katanya.
Ia menekankan bahwa upaya memahami sejarah Tenggarong tidak hanya berkaitan dengan nama kota, tetapi juga dengan berbagai jejak yang masih dapat ditelusuri dari kondisi geografis, nama sungai, permukiman, serta perubahan istilah yang terjadi dari waktu ke waktu.
Bagi Awang, penelusuran tersebut penting agar masyarakat tidak hanya mengulang narasi yang sudah lama dikenal, tetapi juga memahami bagaimana sebuah nama dan identitas kota terbentuk.
Dengan demikian, perdebatan mengenai asal-usul nama Tenggarong dapat ditempatkan sebagai bagian dari kajian sejarah dan kebudayaan yang masih terbuka untuk ditelusuri melalui sumber-sumber yang lebih kuat. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











