Search

Aini Faridah: Kasus Ponpes Tenggarong Seberang Harus Jadi Pelajaran

RDP bersama pihak terkait mengenai kasus pencabulan di salah satu ponpes di Tenggarong Seberang. (Berita Alternatif/M. As'ari)

BERITAALTERNATIF.COM – Wakil Ketua III DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) Aini Faridah menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus dugaan pencabulan para santri di salah satu pondok pesantren di Tenggarong Seberang.

Aini mengaku prihatin sekaligus khawatir dengan dampak kasus ini terhadap kepercayaan masyarakat pada dunia pesantren.

Dia mengaku merasakan kegemetaran saat mendengar kasus ini. Pasalnya, anak-anaknya tengah belajar di ponpes.

Meski bukan alumni pesantren, suaminya merupakan lulusan lembaga pendidikan asrama bernuansa keislaman tersebut. Hal ini mendorongnya memasukkan anak-anaknya di pesantren.

“Kita menitipkan anak ke pondok ini supaya pondasi agamanya kuat, bukan untuk hal-hal yang merusak,” ujarnya saat RDP bersama pihak terkait di Kantor DPRD Kukar pada Selasa (26/8/2025).

Ia mengungkapkan pengalaman pribadinya menitipkan kedua anak di ponpes di berbagai daerah, mulai Jogja hingga Jawa Timur.

“Alhamdulillah, anak saya yang pertama hafal 5 juz, yang kedua hafal 30 juz. Itu buah dari pendidikan di pondok,” bebernya.

Menurutnya, orang tua memilih pondok karena berharap anak-anak mereka lebih disiplin beribadah sekaligus mendalami ilmu agama yang mungkin tidak sempat diajarkan langsung di rumah.

“Jadi, tujuan orang tua menitipkan anak di pondok adalah agar sholatnya tepat waktu, memahami agama, bahkan bisa hafal Quran,” jelasnya.

Karena itu, Aini menilai kasus saat ini berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap pesantren lain yang sebenarnya berfungsi dengan baik.

“Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga. Masalah di satu pondok bisa berimbas ke pondok-pondok pesantren lain. Orang tua bisa jadi takut menitipkan anaknya. Padahal pondok adalah tempat anak-anak kita belajar agama dengan lebih baik,” tegasnya.

Dia menekankan, saat ini yang terpenting adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan agama, sekaligus memperketat pengawasan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

Ia juga menekankan agar ponpes tersebut menjadikan kasus ini sebagai pelajaran untuk memperketat pengawasan internal.

“Kita ingin anak-anak tetap bisa belajar agama dengan aman, dan kepercayaan masyarakat tidak hilang,” pungkasnya. (adv)

Penulis: M. As’ari
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA