BERITAALTERNATIF.COM – Dalam bayang-bayang perang yang menghancurkan di Gaza, Republik Islam Iran sedang menjalankan strategi diplomasi yang rumit dan menyeluruh. Strategi ini dirancang untuk memanfaatkan gelombang kemarahan global sekaligus mengubah secara mendasar posisi Israel di mata masyarakat internasional.
Lebih dari sekadar kecaman retorik, kampanye Teheran adalah perpaduan yang terukur antara kekuatan lunak, bantuan kemanusiaan, serta dorongan politik yang konsisten untuk mengisolasi rezim Israel sepenuhnya. Pendekatan ini ditempatkan dalam doktrin yang lebih luas, yaitu Poros Perlawanan, yang menegaskan posisi Iran sebagai pendukung utama perjuangan Palestina.
Pusat dari upaya ini adalah arahan strategis yang jelas dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang secara terbuka menyerukan negara-negara di seluruh dunia untuk memutuskan hubungan dengan Israel, dimulai dari hubungan ekonomi hingga berlanjut ke pemutusan politik.
Para diplomat Iran kini membawa agenda ini ke semua forum bilateral maupun multilateral, dari dialog dengan tetangga regional hingga ke forum internasional seperti PBB dan BRICS.
Secara bersamaan, Iran juga memperkuat narasi melalui diplomasi media dengan menyoroti kejahatan perang Israel dan pelanggaran hak asasi manusia. Sambil mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, Teheran menegaskan bahwa tindakan nyata—bukan sekadar resolusi—yang benar-benar dibutuhkan.
Iran aktif berpartisipasi dalam forum Islam dan internasional untuk membela hak rakyat Palestina, menuntut diakhirinya agresi Israel, serta menyerukan pencabutan blokade Gaza.
Iran telah menyalurkan bantuan kemanusiaan, obat-obatan, dan peralatan penting melalui berbagai jalur untuk meringankan penderitaan warga sipil di Gaza. Bantuan ini diatur lewat organisasi mitra dan jalur resmi agar penyalurannya lebih efektif.
Teheran juga mendorong langkah-langkah diplomatik untuk mencapai gencatan senjata, membuka kembali akses Gaza, dan membentuk koridor kemanusiaan.
Melalui diplomasi media dan keterlibatan internasional, Iran menyuarakan narasi yang sebenarnya tentang hak Palestina dan pelanggaran HAM oleh Israel, dengan tujuan membangkitkan kesadaran global.
Dalam pidato terbaru, Ayatullah Khamenei menekankan prioritas kebijakan luar negeri: menyerukan negara-negara agar memutus hubungan dengan Israel, dimulai dari sektor ekonomi lalu berkembang ke ranah politik. Strategi berlapis ini, jika diterapkan secara konsisten, berpotensi mengisolasi dan mendiskreditkan Israel di panggung dunia.
Dia menegaskan bahwa pemutusan hubungan ekonomi harus lebih dulu dilakukan sebelum pemutusan politik. Sebab, menghentikan kerja sama dagang biasanya lebih memungkinkan dan tidak terlalu membebani secara politik bagi banyak negara.
Sejarah menunjukkan bahwa bahkan negara-negara yang enggan memutuskan hubungan diplomatik, kerap bersedia membatasi interaksi ekonomi—misalnya dengan menghentikan penjualan minyak, gas, atau menutup pelabuhan bagi kapal Israel.
Seruan ini juga melampaui dunia Islam. Kini semakin banyak negara di berbagai belahan dunia yang mulai mengurangi hubungan dengan Israel, menunjukkan adanya potensi besar bagi kebijakan ini. Karena itu, Kementerian Luar Negeri Iran bersama lembaga diplomatiknya menjadikan isu pemutusan hubungan—baik bilateral maupun multilateral—sebagai prioritas dalam dialog internasional.
Dunia saat ini sedang bergerak menuju tatanan internasional baru yang dipicu oleh berbagai perkembangan tak terduga. Salah satu pemicunya adalah Operasi Badai Al-Aqsa, yang menyingkap kelemahan Israel sekaligus mempercepat isolasi global terhadapnya.
Kini, Israel secara luas dipandang sebagai rezim terbuang akibat tindakan-tindakannya di Gaza—mulai dari praktik genosida, pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, hingga kebijakan ekspansionis. Penolakan terhadap Tel Aviv telah menjadi wacana dominan di tingkat global.
Diplomasi publik juga memegang peran penting. Jika dulu isu Palestina dianggap tabu di beberapa negara, kini bendera Palestina berkibar di jalan-jalan Eropa, Amerika Serikat, hingga Australia. Gerakan akar rumput—seperti kampanye boikot, divestasi, dan sanksi terhadap produk Israel—memberikan tekanan informal yang efektif. Sinergi antara diplomasi resmi dan advokasi publik inilah yang sedang membuka jalan menuju isolasi menyeluruh terhadap Israel. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












