BERITAALTERNATIF.COM – Dalam Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-39 yang sedang berlangsung di Teheran, para tokoh Muslim menekankan bahwa pesan Nabi tentang keadilan, persaudaraan, dan keteguhan spiritual adalah pedoman abadi untuk memulihkan martabat, melawan perpecahan, dan mengembalikan posisi umat Islam di panggung dunia.
Para ulama menyerukan persatuan baru di dunia Islam dengan menegaskan pentingnya ajaran Nabi Muhammad dalam menghadapi krisis saat ini.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Syekh Naim Qassem menekankan peran penting Poros Perlawanan dalam perjuangan membebaskan Palestina yang diduduki, menyebutnya sebagai pilar solidaritas kawasan dan persatuan Islam.
Dalam sambutannya di acara pembukaan konferensi, dia menegaskan perlunya persatuan mendesak di antara negara-negara Muslim. Ia juga mengingatkan ancaman gerakan takfiri yang berpotensi merusak keutuhan dan spiritualitas umat.
Syekh Qassem memuji Forum Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam di Teheran sebagai kekuatan penting dalam memperkuat persatuan dunia Islam.
Dia menambahkan bahwa forum tersebut, bersama kepemimpinan Hizbullah, berperan besar dalam mendorong dialog lintas tradisi Islam.
“Persatuan praktis kaum Muslim di medan perlawanan terhadap rezim Zionis kini terlihat jelas,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa hasil perjuangan di Lebanon dan Palestina, baik kemenangan maupun cobaan, adalah tanggung jawab bersama seluruh umat Islam.
Menurutnya, perjuangan itu melampaui batas negara dan mencerminkan tanggung jawab kolektif. Meski mengakui kekuatan politik dan material musuh, Syekh Qassem menegaskan umat Islam memiliki kekuatan yang lebih dalam, yaitu iman, kebenaran, dan persatuan.
Dalam pandangannya, sanksi ekonomi, invasi budaya, dan pendudukan wilayah adalah bentuk penindasan yang saling terkait. Strategi ini, katanya, dimaksudkan untuk melemahkan masyarakat Muslim dan merusak kedaulatan mereka. Namun hal ini dapat dihadapi dengan persatuan yang teguh serta berpegang pada prinsip Islam.
Konferensi ini menghadirkan para ulama dan pemimpin dunia Muslim sebagai wadah memperkuat solidaritas dan menghadapi tantangan besar umat.
Akademisi Turki Profesor Betül Sayyöz menyoroti peran transformasi Nabi yang mampu menyatukan masyarakat jahiliyah menjadi komunitas yang kokoh dengan dasar iman dan saling menghormati.
Dia menegaskan bahwa prinsip itu sangat dibutuhkan sekarang untuk mengembalikan kekuatan dan kehormatan umat Islam.
“Tanpa persatuan, kekuatan ekonomi tidak mungkin tercapai—dan tanpa ekonomi, martabat politik tidak akan terwujud,” ujarnya.
Sementara itu, ulama Bosnia, Mustafa Tsiritesh, menyebut kelahiran Nabi sebagai titik awal terbentuknya identitas Islam yang bersatu.
Dia memuji Iran dan Forum Pendekatan Mazhab Islam karena menghidupkan kembali dialog intelektual dan spiritual. “Memperingati kelahiran Nabi bukan hanya sejarah—tapi kebangkitan sebuah misi hidup,” tegasnya.
Ulama Bahrain, Syekh Abdullah Daqaq, menekankan bahwa Nabi adalah rahmat bagi seluruh alam. Dia mengingatkan agar keberhasilan jangan hanya dianggap dari usaha manusia, tetapi juga dari iman dan amal saleh. “Allah memperkenalkan Nabi sebagai rahmat bagi semesta,” katanya.
Ulama Lebanon, Syekh Ghazi Hanineh, menyoroti penderitaan Gaza, meyakini keteguhan rakyatnya, dan menyerukan dukungan penuh dari negara Arab dan Islam.
Dia menggambarkan operasi perlawanan terbaru sebagai langkah awal menuju pembebasan Palestina, dengan dukungan Poros Perlawanan di Lebanon, Yaman, Irak, dan Iran.
Syekh Hassan Baghdadi dari Dewan Pusat Hizbullah menekankan urgensi persatuan menghadapi kesombongan global.
Dia mengecam sektarianisme dan praktik mengafirkan sesama Muslim, serta menyerukan solidaritas lintas mazhab. Mengambil teladan dari perjuangan Nabi, Imam Musa Sadr, dan Ayatullah Khamenei, ia menyerukan pembentukan umat Islam yang bersatu dengan dasar iman.
Ulama Afghanistan, Maulavi Abdulraouf Tawana, mengkritik sikap pasif banyak negara Islam terhadap penderitaan Gaza.
Dia mendesak umat Islam untuk mendukung kaum tertindas dan bergabung dengan Poros Perlawanan melawan agresi imperialis.
Peneliti Suriah, Mahmoud Al-Muwaldi, memperingatkan adanya kekuatan luar yang sengaja menebar perpecahan di tubuh umat.
Dia menegaskan bahwa ajaran Nabi tentang kesetaraan dan persaudaraan spiritual adalah obat dari fanatisme dan manipulasi ideologi.
“Meski penderitaan dan ketidakadilan kita saksikan, kewajiban kita jelas: bertahan dengan bijak dan tetap bersatu,” ujarnya.
Konferensi ini menjadi seruan bersama untuk persatuan, perlawanan, dan kembali kepada landasan spiritual serta etika yang pernah menjadi pilar kejayaan Islam. Seruan persatuan itu bukan karena kepentingan politik semata, tetapi berakar dari ajaran Nabi Muhammad Saw yang abadi.
Suara para ulama dari berbagai negara, meski beragam, berpadu dalam satu tujuan: umat Islam harus bangkit di atas sekat-sekat mazhab, menolak manipulasi asing, dan menemukan kembali arah moral dan spiritualnya.
Warisan Nabi, seperti ditekankan sepanjang konferensi, bukan sekadar catatan sejarah—tetapi kerangka hidup bagi keadilan, solidaritas, dan keteguhan. Dari Gaza hingga Beirut, tantangan umat begitu besar, namun solusinya ada pada aksi kolektif, kepemimpinan yang berprinsip, dan iman yang tak tergoyahkan.
Di tengah fragmentasi dan gejolak geopolitik, konferensi ini tampil sebagai cahaya harapan dan cetak biru untuk pembaruan umat. Baik melalui dialog intelektual, gerakan masyarakat, maupun perlawanan yang konsisten, jalan ke depan menuntut keberanian dan persatuan.
Saat para ulama kembali ke komunitasnya, tanggung jawab kini beralih kepada umat Islam secara luas—untuk membawa pesan ini ke depan, menghidupkan prinsipnya, dan berjuang demi masa depan yang penuh martabat, perdamaian, dan tujuan bersama.
Konferensi Persatuan Islam ke-39 dengan tema 1.500 Tahun Kelahiran Nabi Rahmat dan Umat Islam digelar di ibu kota Iran, Teheran, pada 8-10 September 2025. (*)
Sumber: MehrNews
Penerjemah: Ali Hadi Assegaff
Editor: Ufqil Mubin












