Search

Timur Tengah di Ambang Perang Panjang yang Didorong oleh AS dan Israel

Abdel Bari Atwan memperingatkan bahwa kebijakan agresif Amerika Serikat dan Israel telah mendorong kawasan Timur Tengah berada di tepi krisis baru, memunculkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan yang mengguncang stabilitas regional. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Gencatan senjata rapuh di Gaza kembali menarik perhatian dunia terhadap akar persoalan konflik Israel–Palestina dan perebutan pengaruh yang lebih luas di kawasan. Meskipun jeda sementara ini menghentikan pertumpahan darah, pertanyaan mengenai keberlanjutan, rekonstruksi, dan tanggung jawab atas kehancuran masih menjadi perbincangan utama di tingkat regional.

Dalam konteks ini, jurnalis dan pemimpin redaksi Rai al-Youm berkebangsaan Palestina–Inggris, Abdel Bari Atwan, memberikan pandangan kritis tentang motif Israel, peran Amerika Serikat, dan masa depan Gaza.

Dalam wawancaranya dengan Mehr News Agency, Atwan menggambarkan gencatan senjata ini sebagai “sangat rapuh” dan memperingatkan bahwa sejarah panjang pelanggaran perjanjian oleh Israel membuat peluang perdamaian jangka panjang hampir mustahil.

Pandangan Atwan menyoroti keterkaitan antara politik, ekonomi, dan kekuasaan yang mendorong kebijakan Israel. Dari penghancuran infrastruktur Gaza hingga ambisi geopolitik menciptakan “Israel Raya”, analisisnya menegaskan tantangan mendasar yang menghambat setiap inisiatif perdamaian sejati di kawasan.

Menurut Anda, seberapa kuat gencatan senjata ini? Mengingat riwayat Israel yang kerap melanggar perjanjian, apakah Anda melihat kemungkinan serangan baru setelah tahap pertukaran tahanan selesai?

Saya percaya gencatan senjata ini sangat rapuh, karena Israel tidak pernah bisa dipercaya. Kita sudah punya banyak perjanjian dan gencatan senjata sebelumnya, termasuk pertukaran tahanan dan sandera, tetapi semuanya gagal total.

Lihat saja yang terjadi di Lebanon—setelah delapan bulan lebih gencatan senjata, Israel sudah melanggarnya lebih dari 5.000 kali, menyerang Lebanon, dan membunuh orang hampir setiap hari di sana.

Saya yakin pengalaman yang sama bisa terulang di Gaza. Hari ini saja, sembilan orang tewas akibat serangan udara Israel setelah gencatan senjata diumumkan. Mereka tidak pernah menepati janji untuk berhenti membunuh, baik di Lebanon, Yaman, Gaza, maupun Tepi Barat. Jadi secara pribadi, saya tidak terlalu optimis.

Apa tantangan utama dalam rekonstruksi Gaza dan siapa pihak yang akan menentukan proses ini?

Saya melihat rekonstruksi Gaza akan menjadi fase yang sangat rumit, karena Gaza benar-benar hancur total. Israel menghancurkan sekitar 95 persen rumah dan gedung di wilayah itu. Lebih dari dua juta orang kini kehilangan tempat tinggal.

Pertanyaannya: apakah Israel akan membiarkan rekonstruksi ini terjadi? Dan siapa yang akan membayar biayanya? Israel menghancurkan Gaza tetapi justru meminta negara-negara Arab membiayai pembangunannya kembali, yang biayanya bisa mencapai 700 miliar dolar.

Jadi, terlalu dini untuk membicarakan rekonstruksi. Kita bahkan masih berada di tahap pertama gencatan senjata. Saya yakin Israel akan kembali melanggar kesepakatan ini dan tidak mengejutkan jika mereka kembali menduduki Gaza.

Masalah paling besar adalah perlindungan yang diberikan oleh pemerintah Amerika. Pemerintahan AS memberi Israel lampu hijau untuk menghancurkan Gaza. Kita melihat perang genosida dan kelaparan terjadi.

Selama Amerika berpihak pada Israel dan terus mendorong tindakan genosida serta penderitaan moral terhadap rakyat Palestina, rekonstruksi hanya akan menjadi kata tanpa makna.

Yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan rakyat Gaza dari genosida, kehancuran, dan kelaparan, serta memastikan bantuan kemanusiaan bisa masuk. Orang-orang di Gaza benar-benar kelaparan. Prioritas utama adalah menjaga mereka tetap hidup, menghentikan genosida, menghentikan kelaparan, baru kemudian kita bisa berbicara tentang rekonstruksi.

Menurut Anda, apakah gelombang pengakuan terhadap negara Palestina baru-baru ini memengaruhi lanskap politik seputar Gaza? Apakah opini internasional dapat benar-benar membatasi Israel saat ini?

Hal paling penting sekarang adalah menjaga agar gencatan senjata tetap berlangsung. Pembicaraan tentang solusi dua negara atau pendirian negara Palestina merdeka tampaknya sudah tidak lagi menjadi agenda nyata.

Amerika Serikat, yang menjadi sponsor gencatan senjata ini dan rencana perdamaian, bahkan tidak mengakui solusi dua negara. Trump secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak akan menerima negara Palestina merdeka dan menolak setiap upaya untuk mencapai perdamaian jangka panjang dalam konflik Arab–Israel.

Rakyat Palestina tentu ingin memiliki negara mereka sendiri, tidak hanya di Tepi Barat dan Gaza, tetapi di seluruh tanah Palestina. Namun masalahnya, Israel tidak hanya ingin mempertahankan wilayah yang didudukinya sejak 1948. Mereka berambisi membangun Israel Raya, yang mencakup seluruh Palestina dan bahkan sebagian negara Arab lain seperti Suriah, Lebanon, Arab Saudi, Irak, dan Mesir.

Israel ingin menguasai seluruh Timur Tengah. Mereka juga berencana menghancurkan infrastruktur militer dan nuklir Iran. Jadi, kita harus sangat berhati-hati. Israel telah menyerang Iran, dan Amerika juga mengebom fasilitas nuklir Iran.

Amerika dan Israel tidak mencari perdamaian—mereka ahli dalam penghancuran, bukan pembangunan. Mereka mahir memberlakukan sanksi, menciptakan konflik internal di negara-negara Timur Tengah seperti Iran, Lebanon, Suriah, dan Mesir. Kita sudah tahu apa yang terjadi di negara-negara itu. Karena itu, kita harus sangat waspada terhadap rencana Israel untuk menguasai kawasan dan mewujudkan ambisi Israel Raya.

Setelah situasi mereda, apakah ada kemungkinan realistis para pemimpin Israel akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan perang?

Para pemimpin Israel berupaya melenyapkan seluruh bangsa Palestina. Seperti yang dikatakan Trump, mereka ingin menjadikan Gaza sebagai “Riviera Timur Tengah.” Gaza sebenarnya memiliki cadangan minyak yang besar, dan Israel bersama Trump ingin meraup keuntungan besar dari sana. Untuk itu, mereka ingin mengosongkan Gaza dari penduduknya agar bisa membangun kawasan mewah tersebut.

Saya yakin mereka akan menjalankan rencana keji ini secara bertahap. Sekarang mereka berbicara tentang gencatan senjata, tetapi setelah itu mereka akan mencari alasan untuk melanggarnya.

Dengan cara itu, mereka bisa mematahkan isolasi internasional terhadap Israel. Trump sendiri bekerja demi kepentingan Israel dan juga untuk kepentingannya sendiri sebagai pengusaha properti.

Ia melihat Gaza sebagai peluang bisnis besar untuk dirinya dan lingkarannya—mengosongkan wilayah dari rakyat Palestina dan mengubahnya menjadi proyek real estat raksasa. Mereka ingin menghasilkan uang dari dunia Arab, bahkan di atas penderitaan rakyat Gaza.

Pernyataan Penutup

Saya percaya Timur Tengah masih berada di tepi perang besar. Selama presiden Amerika saat ini tetap berkuasa, ia bukanlah presiden perdamaian, melainkan presiden perang. Ia datang untuk menjadikan Israel lebih kuat, baik secara militer maupun politik.

Ia telah memberikan Israel dana sebesar 26 miliar dolar dan mencabut semua pembatasan terhadap pengiriman senjata canggih. Itu artinya, akan ada lebih banyak perang di masa depan.

Trump melaksanakan rencananya secara bertahap. Karena itu, kita harus benar-benar waspada. Hanya jika muncul kekuatan di Timur Tengah yang mampu menandingi dan menghukum mereka, barulah Israel dan Amerika akan mau bernegosiasi.

Tapi selama mereka merasa tidak ada kekuatan yang bisa menahan mereka, kawasan ini akan tetap tidak stabil—mungkin bukan hanya bertahun-tahun, tetapi bisa jadi selama beberapa dekade, bahkan berabad-abad ke depan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA