BERITAALTERNATIF.COM – Setelah menunjukkan kepada Marco Rubio, menteri luar negeri Amerika, bongkahan besar berusia 2.000 tahun dari Tembok Barat di situs tersuci al-Quds, Binyamin Netanyahu menyatakan bahwa aliansi kedua negara itu “sekuat dan setahan lama seperti batu-batu…yang baru saja kita sentuh.” Sayangnya, ia salah, tulis The Economist.
Laporan itu menambahkan, seiring Israel makin terisolasi akibat perang di Gaza, negara itu semakin bergantung pada Amerika. Dalam Sidang Majelis Umum PBB yang sedang berlangsung, kawan-kawan lama Israel—termasuk Australia, Inggris, Kanada, dan Prancis—akan mengakui negara Palestina, sementara perluasan permukiman Israel di Tepi Barat membuat realisasi negara Palestina semakin kecil kemungkinannya. Amerika menjadi satu-satunya penopang yang mencegah Israel jatuh ke status pariah, sebuah kondisi yang bisa berdampak buruk pada keamanan diplomatik, hukum, dan militernya.
Meski Netanyahu berulang kali menyatakan hubungan dengan Amerika tetap solid, kenyataannya tidak demikian. Perdana menteri rezim Israel itu telah membuat pemerintahan Trump kesal, dan kini mengabaikan retakan mendasar dalam aliansi mereka.
Para pemilih Demokrat sudah lama mulai menjauh dari sekutu paling dimanjakan Amerika ini. Bahkan pemilih Republik pun kini semakin kehilangan keyakinan. Kehilangan dukungan rakyat Amerika secara mendadak akan menjadi bencana besar bagi Israel, tulis laporan itu.
Jajak pendapat di Amerika menunjukkan hasil mengejutkan. Persentase warga Amerika yang mendukung Israel dibanding Palestina kini berada pada titik terendah dalam 25 tahun. Pada 2022, sebanyak 42% orang dewasa Amerika memiliki pandangan tidak menyukai Israel. Kini angkanya naik menjadi 53%. Survei terbaru YouGov/The Economist menemukan 43% warga Amerika percaya Israel sedang melakukan genosida di Gaza.
Dalam tiga tahun terakhir, pandangan negatif terhadap Israel di kalangan Demokrat berusia di atas 50 tahun naik 23 poin persentase. Di kalangan Republik di bawah 50 tahun, dukungan kini terbagi rata, berbeda dengan 63% yang mendukung Israel pada 2022. Antara 2018 dan 2021, jumlah kaum evangelis di bawah 30 tahun yang mendukung Israel atas Palestina anjlok dari 69% menjadi 34%. Para peneliti meyakini perubahan ini terus bertahan.
Opini publik di AS—yang selama puluhan tahun menjadi pilar kuat dukungan terhadap Israel—sedang berubah cepat. Survei terbaru menunjukkan bahwa sikap negatif terhadap Israel kini mencapai level tertinggi dalam seperempat abad. Tren ini paling jelas terlihat di kalangan Demokrat dan generasi muda. Bahkan di kalangan Republik, yang biasanya menjadi pendukung setia Israel, penurunan signifikan juga terlihat.
Pendorong utama perubahan ini adalah gambar-gambar mengejutkan dari kehancuran dan korban sipil di Gaza—gambar yang membangkitkan nurani moral warga Amerika, khususnya kalangan muda, dan kembali menimbulkan pertanyaan mendasar tentang besarnya bantuan militer serta dukungan tanpa syarat Washington kepada Tel Aviv. Gabungan antara empati kemanusiaan, kepedulian terhadap hak asasi manusia, serta kritik terhadap sikap Amerika yang tidak adil terhadap kedua pihak, memperkuat perubahan ini.
Perpecahan generasi dan partisan juga semakin dalam. Di dalam Partai Demokrat, dukungan terhadap Israel kini berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Di kalangan pemilih berusia di bawah 50 tahun, terutama di universitas dan komunitas perkotaan, pandangan kritis kini lebih dominan. Perubahan ini bisa memaksa politisi AS untuk meninjau kembali bantuan militer dan dukungan diplomatik mereka, atau bahkan memberikan syarat baru atas bantuan tersebut.
Bagi Israel, transformasi ini bukan sekadar hasil survei sesaat, melainkan peringatan strategis. Ketergantungan penuh pada dukungan formal pemerintah AS tidak lagi menjadi jaminan legitimasi internasional. Generasi baru pemilih Amerika sangat serius dengan isu hak asasi manusia, dan jika Tel Aviv terus mengandalkan respons militer semata, risiko keterasingan yang semakin besar dan berkurangnya kekuatan lobi di Kongres akan makin nyata.
Pesan penutup The Economist jelas: jika Israel ingin mempertahankan ikatan historisnya dengan sekutu lamanya, ia harus lebih memperhatikan keprihatinan moral dan kemanusiaan masyarakat Amerika. Jika tidak, modal politik Israel dengan pendukung global terpentingnya ini akan terkikis sedikit demi sedikit. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












