BERITAALTERNATIF – Kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979 menjadi titik balik bersejarah yang menandai berakhirnya pengaruh Amerika di negara tersebut serta lahirnya kebijakan luar negeri Iran yang independen dan menentang dominasi Amerika—Barat. Sejak saat itu, seiring meningkatnya kekuatan ekonomi dan militer Iran serta berkembangnya program nuklir damai negara tersebut, Amerika Serikat berupaya dengan berbagai cara untuk menghambat laju kemajuan Iran. Washington menjatuhkan sanksi demi sanksi dengan tujuan melemahkan Tehran dan membatasi ruang geraknya.
Setelah kemenangan revolusi, Amerika melancarkan serangkaian konspirasi dan upaya sabotase terhadap sistem Islam yang baru berdiri di Iran, dengan harapan dapat memadamkan revolusi rakyat itu sejak awal. Namun, selama hampir setengah abad sejak awal intervensi hingga putaran terakhir perundingan nuklir, Republik Islam Iran tetap bertahan di tengah berbagai ancaman, sanksi berat, serangan langsung, dan tindakan yang mengganggu stabilitas keamanannya. Iran disebut konsisten menjaga prinsip, kepentingan, dan hak nasionalnya, sembari terus melanjutkan kemajuan di berbagai bidang.
Revolusi Iran dan Konspirasi Berkelanjutan Amerika
Dalam sebuah artikel, situs berita Al Manar menyoroti kinerja Republik Islam hampir setengah abad setelah kemenangan revolusi. Disebutkan bahwa Tehran dalam kurun waktu tersebut memperluas hubungan regional dan internasionalnya, serta menandatangani sejumlah perjanjian penting dengan negara-negara besar seperti China dan Rusia, di samping terus mendukung gerakan-gerakan pembebasan di kawasan.
Langkah-langkah itu tidak disukai oleh Amerika dan rezim Zionis. Selain melakukan pembunuhan terhadap para pemimpin politik, ilmuwan, dan komandan militer Iran—termasuk Jenderal Qassem Soleimani—mereka juga disebut terlibat dalam berbagai insiden keamanan dan kerusuhan di berbagai periode dan tahapan berbeda.
Penarikan Amerika dari kesepakatan nuklir pada 2018 dipandang sebagai bukti kekhawatiran Washington terhadap meningkatnya kekuatan Iran meski berada di bawah tekanan sanksi. Permusuhan Amerika—Zionis terhadap Iran pada Juni 2025 bahkan berkembang menjadi agresi militer terbuka terhadap negara tersebut. Dalam serangan itu, ribuan warga Iran, termasuk komandan militer dan ilmuwan, gugur. Washington juga menyerang reaktor nuklir Iran dengan harapan dapat melemahkan sistem dan ekonomi negara tersebut.
Meski demikian, Iran disebut tetap berdiri teguh menghadapi agresi tersebut. Respons Tehran diarahkan ke jantung rezim Zionis melalui serangan rudal yang mampu menembus sistem pertahanan berlapis Zionis, Amerika, dan Eropa, serta mengenai target-target sensitif dengan presisi tinggi. Iran juga membalas dengan menyerang pangkalan besar Amerika di Qatar. Setelah 12 hari, perang berhenti, tetapi ancaman dan upaya melemahkan sistem Iran tidak pernah benar-benar berhenti.
Pusat Studi dan Riset Al Ittihad dalam laporan analitisnya mengulas rangkaian konspirasi berturut-turut pemerintah Amerika serta bagaimana upaya tersebut gagal memengaruhi kedaulatan Iran. Kegagalan itu disebut mendorong perubahan arah kebijakan Amerika, dari tujuan maksimal seperti perubahan rezim, menjadi tujuan minimal berupa negosiasi terbatas pada berkas nuklir.
Ketergantungan Amerika dan rezim Zionis pada operasi teror di dalam Iran, pergeseran ke fase militer di tengah kebijakan pengepungan dan tekanan ekonomi yang semakin ketat, serta pada saat yang sama membuka opsi negosiasi, bukanlah hasil dari konsistensi strategi Washington. Sebaliknya, hal itu dinilai sebagai akibat dari kegagalan berulang dalam mengambil keputusan yang tepat, yang mencerminkan kelemahan struktural dalam memahami persoalan secara menyeluruh.
Revolusi Iran dan Perundingan Nuklir
Al Manar melanjutkan bahwa pada 2002, setelah Iran mengumumkan keberadaan fasilitas nuklir damainya di Natanz dan Arak, dimulailah perundingan antara Tehran dan troika Eropa—Jerman, Prancis, dan Inggris—yang didukung Amerika di belakang layar. Pada 2003, kedua pihak mencapai kesepakatan, tetapi Barat tidak memenuhi jaminan dan komitmennya untuk mencabut atau mengurangi sanksi terhadap Iran.
Perundingan tidak langsung di Jenewa kembali dimulai pada 2013. Iran bernegosiasi dengan kelompok 1+5, yakni Amerika, Inggris, Prancis, Rusia, China, dan Jerman. Dari proses itu lahir Rencana Aksi Komprehensif Bersama yang dikenal sebagai “JCPOA”.
Berdasarkan JCPOA, Iran setuju mengurangi sebagian aktivitas nuklir damainya dan menurunkan tingkat pengayaan uranium sebagai imbalan atas pencabutan bertahap sanksi ekonomi Barat. Namun kesepakatan itu dilanggar oleh Presiden Amerika Donald Trump pada 2018, ketika ia secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut.
Situs berita Al Ahed menulis bahwa Washington tidak memandang negosiasi sebagai komitmen hukum jangka panjang, melainkan sebagai alat sementara untuk mencapai tujuan strategisnya.
Iran, dengan kesadaran bahwa pihak lawan tidak mencari “solusi yang adil” melainkan perubahan perilaku internal dan regional Iran, tetap memasuki jalur negosiasi. Namun Tehran menegaskan pembatasan pembahasan hanya pada program nuklir dan menolak memasukkan program rudal maupun aliansi regional ke dalam agenda perundingan.
Di sisi lain, Washington disebut berada di bawah tekanan rezim Zionis untuk mencapai kesepakatan yang dapat menjadikan Iran negara yang patuh dan tunduk.
Program rudal Iran juga diposisikan dalam kerangka tersebut. Selama beberapa dekade, akibat sanksi, Iran tidak dapat memperbarui angkatan udaranya. Karena itu, rudal balistik dipandang sebagai satu-satunya instrumen deterrence yang tersedia. Permintaan untuk membongkarnya, menurut pandangan Tehran, bukanlah langkah keamanan, melainkan upaya mencabut hak membela diri dan menjadikannya negara yang rentan secara strategis.
Revolusi Islam dan Kemajuan Ilmiah Iran
Al Ahed menambahkan bahwa pascarevolusi, Iran menjadikan investasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan sebagai strategi menghadapi sanksi Barat. Meski menghadapi berbagai tantangan, Iran disebut berhasil membangun sistem ilmiah multi-level yang mencakup energi nuklir, kedokteran, dirgantara, dan teknologi tinggi.
Perkembangan ilmiah di Iran tidak sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar, melainkan dimasukkan dalam perencanaan strategis negara. Kebijakan ilmiah diarahkan untuk melayani rakyat, mencapai swasembada, dan mengurangi ketergantungan pada luar negeri.
Dalam program nuklir damai, Iran mengembangkan siklus bahan bakar nuklir dengan mengandalkan tenaga ahli domestik, bahkan ketika jalur transfer teknologi sepenuhnya tertutup. Kemampuan ini tidak terbatas pada pengayaan, tetapi juga mencakup aplikasi nonmiliter di bidang medis, pertanian, dan energi.
Di bidang medis dan bioteknologi, data Kementerian Kesehatan Iran menunjukkan kemajuan signifikan dalam transplantasi organ, pengobatan infertilitas, serta produksi obat-obatan canggih, khususnya produk bioteknologi.
Pada sektor dirgantara, program luar angkasa Iran menjadi salah satu berkas kemajuan ilmiah paling penting di level internasional. Selama beberapa dekade, ruang angkasa dimonopoli kekuatan besar dan masuknya negara berkembang ke sektor ini dianggap melampaui “garis merah”. Namun Iran dalam beberapa tahun terakhir melaporkan peluncuran sejumlah satelit buatan dalam negeri serta pengembangan platform dan kendaraan peluncur dengan kemampuan nasional.
Signifikansi strategis program luar angkasa ini tidak hanya pada hasil teknisnya, tetapi juga pada simbolismenya. Kepemilikan teknologi ruang angkasa berarti menguasai rantai pengetahuan kompleks di bidang rekayasa, material, perangkat lunak, dan sistem kendali—semuanya termasuk dalam level teknologi paling tinggi.
Selain itu, Iran juga memiliki kehadiran kuat di bidang teknologi tinggi. Dalam teknologi nano, Iran menempati peringkat global yang tinggi dari sisi jumlah publikasi ilmiah dan pencapaian riset. Lembaga-lembaga penelitian di negara itu juga mengembangkan aplikasi kecerdasan buatan nasional di sektor medis, industri, dan manajemen data.
Dengan demikian, Revolusi Islam Iran digambarkan bukan hanya sebagai peristiwa politik, tetapi sebagai proyek jangka panjang yang menggabungkan ketahanan politik, kemandirian strategis, serta investasi serius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












