BERITAALTERNATIF – Panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh agar tidak melakukan kesalahan perhitungan. Ia menegaskan bahwa pasukannya “siap dengan tangan di pelatuk” untuk melaksanakan perintah Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
“Kami memperingatkan musuh-musuh yang kriminal, jahat, dan anti-kemanusiaan, khususnya Amerika Serikat dan rezim Zionis palsu dan rasis, agar belajar dari pengalaman sejarah dan dari apa yang mereka alami dalam perang yang dipaksakan selama 12 hari [pada Juni lalu], sehingga tidak melakukan kesalahan perhitungan,” ujar Mayor Jenderal Mohammad Pakpour dalam sebuah pesan pada hari Kamis.
Ia menambahkan bahwa jika mereka tetap melakukan salah perhitungan, maka mereka akan menghadapi nasib yang “jauh lebih menyakitkan dan penuh penyesalan.”
Pakpour menekankan bahwa pasukan IRGC kini, lebih dari sebelumnya, telah memperkuat kemampuan pertahanan nasional serta keamanan negara dalam menghadapi permusuhan Amerika-Zionis dan berbagai tindakan jahat yang mereka lakukan.
Ia menyatakan bahwa Iran telah meningkatkan kesiapsiagaan militernya secara menyeluruh dan tidak akan ragu untuk menjalankan perintah pemimpin tertinggi negara jika kedaulatan dan keamanan nasional terancam oleh kekuatan asing.
Pada akhir Desember, Iran mengalami aksi protes ekonomi yang terjadi secara sporadis. Namun, menurut laporan resmi, protes-protes tersebut dengan cepat dibajak oleh para perusuh yang diprovokasi oleh para pemimpin Amerika Serikat dan Israel, serta dibantu oleh para agen mata-mata mereka yang beroperasi di lapangan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka dan di hadapan publik mendorong terjadinya kekerasan dengan menyerukan kepada kelompok perusuh bersenjata untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara. Ia juga melontarkan ancaman aksi militer terhadap Iran apabila kelompok-kelompok tersebut mendapat perlawanan.
Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa ancaman Trump terhadap Iran telah menjadi dorongan langsung bagi sel-sel teroris untuk menerapkan strategi “pertumpahan darah maksimum,” dengan tujuan menyeret Amerika Serikat ke dalam perang baru demi kepentingan Israel.
Araghchi menegaskan bahwa retorika dan ancaman semacam itu secara langsung memperburuk situasi keamanan dan membuka jalan bagi meningkatnya kekerasan yang menargetkan warga sipil dan aparat keamanan Iran.
Lembaga Keamanan Iran Laporkan 2.427 Syahid dalam Kerusuhan yang Dipimpin AS dan Israel
Dewan Keamanan Iran melaporkan bahwa sebanyak 2.427 orang, yang terdiri dari warga sipil tak berdosa dan personel keamanan, telah gugur sebagai syahid dalam sebuah “kejahatan skala penuh” yang diorkestrasi oleh kekuatan asing.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Rabu, Dewan Keamanan Iran menyebutkan bahwa tindakan kekerasan tersebut dirancang dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan rezim Israel, dengan tujuan menciptakan kekacauan dan melemahkan stabilitas nasional Iran.
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa 690 orang lainnya tewas selama rangkaian kerusuhan tersebut, sehingga jumlah total korban meninggal mencapai 3.117 orang.
Otoritas Iran menegaskan bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil yang tidak terlibat dalam aksi kekerasan, serta anggota pasukan keamanan yang menjalankan tugas untuk menjaga ketertiban dan melindungi fasilitas publik.
Laporan tersebut menggambarkan peristiwa ini sebagai salah satu episode kekerasan paling parah dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menjadi bukti keterlibatan langsung kekuatan asing dalam upaya destabilisasi Iran melalui perang hibrida dan operasi keamanan terselubung. (*)
Sumber: Presstv.ir
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












