Search

Tak Punya Kesempatan untuk Tumbuh, Iran Peringati Hari Anak-Anak Korban Perang Gaza

Iran menetapkan satu hari berkabung nasional untuk Gaza setelah dua tahun perang menewaskan 20 ribu anak dan menyebabkan kelaparan yang dikonfirmasi PBB, memicu kecaman luas dari dunia internasional. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Sebagai bentuk penghormatan terhadap penderitaan mendalam yang dialami rakyat Gaza, Republik Islam Iran menetapkan satu hari khusus untuk mengenang perempuan dan anak-anak Palestina yang menjadi korban perang.

Bangsa ini menyoroti krisis kemanusiaan yang sangat besar, di mana ribuan jiwa tewas tertimbun reruntuhan, sementara kelaparan parah kini mengancam para penyintas.

Iran pun menyatakan dukacita dan kecaman nasional, melalui pernyataan resmi, liputan media, serta aksi publik yang menyerukan tindakan internasional terhadap genosida di Gaza.

Tanggal 17 Oktober kini ditetapkan sebagai Hari Peringatan Genosida Anak dan Perempuan Palestina, dan akan menjadi hari tetap dalam kalender nasional.

Hari ini menjadi momen bagi rakyat Iran untuk berhenti sejenak dan mengenang para korban paling tak berdosa. Pemilihan tanggal tersebut mencerminkan rasa duka dan kemarahan mendalam di seluruh negeri, dengan tujuan agar dunia tidak melupakan tragedi yang sedang berlangsung di Gaza.

Selama dua tahun terakhir, operasi militer Israel telah menyebabkan lebih dari 67 ribu warga Palestina tewas, sementara ribuan lainnya masih tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur.

Angka itu sulit dipahami karena begitu besar—lebih banyak dari jumlah penduduk di banyak kota kecil. Setiap korban adalah seseorang yang memiliki keluarga, rumah, dan kehidupan.

Banyak keluarga bahkan tidak dapat memakamkan orang yang mereka cintai karena tubuh mereka masih tertimbun reruntuhan, membuat duka semakin dalam. Tim penyelamat tidak dapat menjangkau banyak lokasi karena kerusakan yang begitu parah dan minimnya peralatan.

Jumlah anak-anak yang tewas mencapai setidaknya 20 ribu jiwa, artinya setiap jam selama dua tahun terakhir, satu anak di Gaza meninggal dunia.

Bayangkan satu jam berlalu—dalam waktu itu, satu anak kehilangan nyawanya. Mereka sedang bermain, belajar, atau tidur ketika perang merenggut masa depan mereka. Mereka kehilangan kesempatan untuk tumbuh. Generasi yang hilang ini akan meninggalkan luka sosial yang terasa selama bertahun-tahun.

Menurut UNICEF, 3 ribu hingga 4 ribu anak di Gaza kehilangan satu atau lebih anggota tubuhnya.

Anak-anak ini selamat dari bom, tetapi hidup mereka berubah selamanya. Mereka membutuhkan perawatan medis seumur hidup—mulai dari operasi berulang hingga penggunaan prostetik (anggota tubuh buatan). Namun, di Gaza hanya sedikit rumah sakit yang masih berfungsi, dan kekurangan obat serta tenaga medis memperparah penderitaan mereka.

Pada 22 Agustus, sistem Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB secara resmi mengonfirmasi terjadinya kelaparan di Jalur Gaza—sebuah bencana kelaparan buatan manusia akibat blokade perang yang menghalangi makanan, air, dan bantuan kemanusiaan masuk.

Kelaparan ini bukan karena bencana alam, tetapi hasil dari blokade dan penghancuran sistem kehidupan masyarakat Gaza. Menurut laporan IPC, kelaparan ini telah menewaskan setidaknya 459 orang, termasuk 154 anak-anak.

Mereka bukan tewas karena bom, melainkan karena kelaparan—proses kematian yang lambat dan menyakitkan. Tubuh mereka melemah tanpa makanan, dan anak-anak paling rentan karena tubuh kecil mereka membutuhkan gizi yang cukup untuk tumbuh.

Tingkat gizi buruk akut di Gaza meningkat dengan cepat. Pada bulan Juli saja, lebih dari 12 ribu anak didiagnosis menderita malnutrisi berat—enam kali lipat lebih banyak dibanding awal tahun.

Kini, satu dari empat anak di Gaza mengalami gizi buruk akut, dan satu dari lima bayi baru lahir dilahirkan prematur atau dengan berat badan sangat rendah.

Jika ada empat anak di depan Anda, satu di antaranya kini sangat kurus, lemah, dan sakit karena kekurangan gizi. Sementara ibu-ibu hamil yang kekurangan makanan dan hidup dalam ketakutan melahirkan bayi yang lemah dan berisiko meninggal sejak lahir.

Dalam momen peringatan ini, para pejabat tinggi Iran mengeluarkan pernyataan keras mengecam pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak Palestina, menyebutnya sebagai kejahatan perang dan genosida, serta menyerukan pertanggungjawaban internasional.

Media resmi Iran menayangkan laporan khusus, dokumenter, dan wawancara untuk meningkatkan kesadaran publik tentang penderitaan rakyat Gaza, khususnya anak-anak.

Di berbagai kota, aksi solidaritas dan pawai digelar oleh kelompok budaya dan politik untuk mengekspresikan dukungan bagi Palestina dan mengecam genosida di Gaza.

Baru-baru ini, Konferensi Internasional ke-8 Solidaritas untuk Anak dan Pemuda Palestina digelar di Teheran pada 12 Oktober 2025, diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari 32 negara, untuk memperingati Mohammed al-Durrah, bocah Palestina yang tewas ditembak pasukan Israel pada tahun 2000.

Dalam berbagai kegiatan, rakyat Iran turun ke jalan membawa bendera Palestina, spanduk, dan seruan kemanusiaan, menegaskan bahwa rakyat Gaza tidak sendirian dalam penderitaan mereka.

Sekolah dan universitas di Iran juga mengadakan seminar, pameran poster, dan diskusi publik untuk mengedukasi pelajar tentang sisi kemanusiaan konflik ini dan makna penting dari hari peringatan tersebut.

Sementara itu, masjid dan pusat kebudayaan mengadakan doa bersama dan khutbah khusus, terutama saat salat Jumat, untuk mendoakan keselamatan anak-anak Gaza dan menyerukan kedamaian.

Dalam khotbah-khotbah itu, para ulama berbicara tentang penderitaan rakyat Palestina, memohon pertolongan dan rahmat Tuhan, serta menegaskan pentingnya solidaritas dan doa sebagai kekuatan moral bangsa. Hari ini menjadi pengingat spiritual dan kemanusiaan, menghubungkan duka Gaza dengan iman dan nurani umat. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA