BERITAALTERNATIF – Publikasi Strategi Keamanan Nasional Amerika pada pemerintahan kedua Donald Trump bukan sekadar dokumen strategis baru. Dokumen itu menjadi cermin yang secara lantang memantulkan runtuhnya kekuatan hegemonik Amerika secara bertahap. Secara formal, pemerintahan Trump memperkenalkannya sebagai kerangka kebijakan luar negeri, keamanan nasional, dan penataan ulang ekonomi domestik. Namun pada kenyataannya, dokumen tersebut lebih dari sekadar peta jalan; ia merupakan sebuah pengakuan resmi, jelas, dan tanpa disengaja bahwa era keunggulan mutlak Washington telah berakhir.
Amerika yang selama ini menampilkan diri sebagai pemimpin dunia bebas dan arsitek tatanan global kini secara terbuka mengakui bahwa negara itu tidak lagi mampu mempertahankan peran tersebut. Amerika terpaksa mundur dari banyak tanggung jawab internasional. Perubahan mendasar ini menunjukkan dunia memasuki tahap baru, tahap di mana hegemon tua berusaha keras mempertahankan keberadaannya, tetapi tidak lagi memiliki alat, kapasitas, atau legitimasi seperti sebelumnya. Dokumen itu bukanlah demonstrasi kekuatan, melainkan “pengakuan atas kemunduran”, dan analisis atas isinya menunjukkan bahwa Amerika tengah berusaha membenarkan proses mundurnya dari panggung global dengan bahasa dan istilah baru.
Kegagalan strategi masa lalu
Pada bagian awal dokumen, pemerintahan Trump menggambarkan tiga dekade kebijakan luar negeri Amerika sebagai kebijakan yang salah, penuh ilusi, dan tidak efektif. Pernyataan ini pada dasarnya adalah sebuah pengakuan yang jarang terjadi: Amerika secara resmi mengakui bahwa sejak berakhirnya Perang Dingin, negara itu gagal membangun tatanan global sesuai keinginannya. Ketika dokumen menegaskan bahwa upaya untuk mendominasi dunia adalah langkah yang mustahil dan keliru, sebuah kebenaran besar tersingkap—kebenaran yang selama bertahun-tahun disebutkan para pengkritik global: proyek hegemoni Amerika dilebih-lebihkan, sedangkan kapasitas ekonomi dan sosial negara itu sebenarnya tidak mampu menopang dominasi jangka panjang.
Dokumen ini juga menyinggung kehancuran kelas menengah, erosi basis industri, dan salah perhitungan dalam globalisasi, yang semuanya menegaskan bahwa era keunggulan ekonomi Amerika sudah lewat. Bersamaan dengan itu, krisis domestik seperti polarisasi sosial, menurunnya kepercayaan publik, krisis rasial, dan rapuhnya legitimasi politik menunjukkan bahwa Amerika kini lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri daripada memimpin dunia. Setelah kegagalan berulang di Afghanistan, Irak, Suriah, dan Libya, serta kesulitan mengendalikan sekutu-sekutu Eropa, Amerika tidak lagi memiliki kapasitas untuk melaksanakan proyek-proyek besar skala internasional. Berbeda dengan dokumen-dokumen sebelumnya yang dipenuhi ambisi global, dokumen ini secara terang-terangan menyatakan bahwa Amerika harus mengurangi ambisinya—sebuah pernyataan yang pada praktiknya berarti pengakuan bahwa kekuatannya telah menurun.
Kembali ke batas negara: tanda kelelahan kekuatan dan akhir dari peran polisi dunia
Salah satu bagian paling mencolok dari dokumen ini adalah fokus yang sangat besar pada keamanan internal, perbatasan, imigrasi, dan rekonstruksi ekonomi. Tema-tema seperti ini biasanya menjadi karakteristik negara berkembang, bukan negara adidaya. Ketika dokumen menyatakan bahwa era migrasi massal telah berakhir dan bahwa kontrol penuh atas perbatasan harus ditegakkan, tersirat bahwa Amerika tidak lagi mampu menanggung beban sosial dan ekonomi dari gelombang migrasi. Pergeseran ini mencerminkan krisis struktural dalam masyarakat Amerika; sebuah masyarakat yang menghadapi erosi kohesi budaya dan meningkatnya polarisasi, sehingga tidak lagi mampu mempertahankan identitas nasional yang solid.
Penekanan pada kebangkitan kembali industri domestik dan pemulangan rantai pasokan menunjukkan pengakuan bahwa proyek globalisasi yang dulu dipimpin Amerika telah gagal. Negara yang dulu memindahkan pabrik-pabriknya ke Asia Timur demi keuntungan lebih besar kini mengakui bahwa keputusan tersebut justru menimbulkan kerentanan ekonomi dan keamanan, sekaligus melemahkan kontrol Amerika atas teknologi dan kapasitas industri. Dokumen itu juga menegaskan perlunya menghindari perang tanpa akhir, sebuah tanda bahwa Amerika tidak lagi memiliki kekuatan militer maupun finansial untuk intervensi luas. Amerika telah mengalami kekalahan di Afghanistan, kehilangan modal politik di Irak, dan bahkan dalam perang Ukraina pun harus mendorong Eropa memikul sebagian besar bebannya. Kini, Amerika lebih tampak sebagai kekuatan yang lelah daripada kekuatan yang siap mengatur dunia; sebuah negara yang membicarakan “pembangunan bangsa dari dalam” alih-alih “mendirikan tatanan global”, yang menunjukkan berakhirnya peran historisnya sebagai polisi dunia.
Merosotnya pengaruh global dari Eropa hingga Timur Tengah, dari Asia hingga Amerika Latin
Bagian geografis dari dokumen memberikan gambaran jelas tentang turunnya pengaruh Amerika di empat kawasan utama dunia. Di Amerika Latin, dokumen tersebut mengakui bahwa kekuatan-kekuatan luar kawasan kini memiliki pengaruh besar—sebuah pengakuan bahwa wilayah yang selama puluhan tahun dianggap sebagai halaman belakang Amerika tidak lagi berada dalam kendali Washington. Untuk pertama kalinya dalam tujuh dekade, Amerika menerima bahwa posisinya di kawasan tersebut telah ditantang dan doktrin Monroe yang selama ini menjadi dasar intervensi di Amerika Latin sedang runtuh.
Di Eropa, dokumen menegaskan bahwa benua tersebut sedang melemah dan Amerika tidak bisa lagi menjadi pelindung mutlak. Permintaan agar negara-negara Eropa mengalokasikan 5 persen dari PDB untuk pertahanan menunjukkan bahwa Amerika tidak lagi memiliki kapasitas finansial atau kehendak politik untuk memikul beban strategis NATO seperti dulu. Hal ini memperkuat pandangan banyak analis Eropa bahwa era ketergantungan penuh Eropa terhadap Washington sudah semakin mendekati akhir.
Di Timur Tengah, dokumen menyatakan bahwa masa ketika kawasan itu mendominasi kebijakan luar negeri Amerika telah berakhir. Ini berarti berkurangnya komitmen militer dan keamanan Amerika di wilayah yang dulu menjadi pusat strategi globalnya. Setelah kegagalan beruntun di Irak, Afghanistan, dan Suriah, serta bangkitnya aktor-aktor regional mandiri, Amerika tidak lagi memiliki kemampuan untuk membangun kembali tatanan lama.
Di Asia, dokumen berbicara tentang persaingan dengan China, tetapi tanpa strategi operasional yang nyata selain isu keseimbangan perdagangan. Hal itu menunjukkan bahwa Washington selama ini membesar-besarkan kemampuannya dan kini tidak cukup kuat untuk menahan kebangkitan kekuatan peradaban besar seperti China. Secara keseluruhan, dokumen ini menunjukkan bahwa Amerika menghadapi keterbatasan sumber daya, hilangnya legitimasi, retaknya hubungan dengan sekutu, dan berkembangnya kekuatan regional yang kini mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Amerika.
Kesimpulan
Strategi Keamanan Nasional pemerintahan kedua Trump bukanlah deklarasi kekuatan, melainkan deklarasi akhir. Amerika dalam dokumen ini mengakui bahwa negara itu tidak lagi mampu mempertahankan tatanan global liberal, tidak bisa lagi membiayai intervensi besar, dan harus memusatkan perhatian pada kepentingan domestik serta rekonstruksi infrastruktur yang sudah menua.
Dokumen itu menegaskan bahwa dunia masuk ke era multipolar, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh puluh tahun, Washington terpaksa mundur dari banyak posisi strategisnya. Bagi negara-negara independen, kekuatan baru, dan bangsa-bangsa yang selama ini berada di bawah tekanan kebijakan unilateral Amerika, perkembangan ini merupakan peluang penting secara historis.
Amerika sedang mengecil; bukan secara geografis, tetapi mengecil dalam peran globalnya. Arah ini, apakah berlanjut di bawah Trump atau pemimpin berikutnya, merupakan tren yang tidak dapat dibalikkan: akhir dari imperium Amerika dan awal dari sebuah fase baru dalam sejarah, di mana tidak ada satu kekuatan tunggal pun yang mampu menentukan nasib dunia. Dokumen ini, di balik retorika politiknya, pada hakikatnya merupakan elegi atas sebuah era yang telah berakhir—era ketika Amerika adalah penguasa tanpa tanding. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












