BERITAALTERNATIF.COM – Plt Asisten I Pemerintahan Umum dan Kesra Setkab Kutim Trisno menjelaskan bahwa setiap titik dapur yang dibangun tidak otomatis diberikan ke satu investor, melainkan disesuaikan dengan kapasitas, pengalaman, dan kesanggupan investor.
Menurut dia, mekanisme ini dilakukan agar pembangunan dapur tetap efisien dan tepat sasaran.
“Tidak ada satu investor yang dijatah sekian titik, semua menyesuaikan kemampuan dan kesiapan mereka,” ujarnya kepada awak media baru-baru ini.
Ia menambahkan, dari sembilan investor, ada yang mampu menangani 30 titik, ada juga yang hanya sanggup dua hingga empat titik. Semua variatif, disesuaikan dengan potensi masing-masing investor dan kondisi lokasi.
“Misalnya ada investor yang berdomisili di Sangatta, tapi mengusulkan titik di Muara Bengkal, itu kita pertimbangkan agar dialihkan ke investor lokal yang lebih paham lokasi,” jelasnya.
Trisno menegaskan, penyesuaian titik bukan berarti mengurangi hak investor, tapi menyesuaikan kebutuhan lapangan dan efektivitas pengelolaan dapur.
Dia menambahkan, rapat Satgas dilakukan untuk menilai semua aspek, mulai dari perencanaan, anggaran, kesiapan material, hingga mitigasi risiko. Semua faktor ini menentukan titik mana yang diberikan ke investor tertentu.
Setiap investor juga diminta memaparkan strategi dan rencana operasional di lokasi yang mereka usulkan, termasuk potensi gangguan sosial, geografis, maupun ekonomi.
Ia menekankan, sistem ini menghindari duplikasi pekerjaan. Tidak ada titik yang dikelola oleh dua investor berbeda.
“Kalau sampai terjadi tumpang tindih, pemborosan pasti terjadi,” katanya.
Selain itu, penentuan titik juga mempertimbangkan jarak dan aksesibilitas, agar distribusi makanan ke masyarakat bisa cepat dan tepat.
Trisno menambahkan, tidak semua investor menginginkan jumlah titik maksimal. Beberapa memilih titik yang lebih sedikit tetapi bisa dikelola optimal. Hal ini menunjukkan kesadaran investor terhadap kapasitasnya sendiri.
Dia menekankan, fleksibilitas ini membuat program dapur umum lebih dinamis dan adaptif terhadap kondisi lapangan.
Sistem ini juga memberikan peluang bagi investor baru atau kecil untuk ikut berkontribusi, karena titik dialokasikan sesuai kemampuan, bukan ukuran perusahaan.
Ia menegaskan, tujuan utama sistem ini adalah efisiensi, efektivitas, dan kesuksesan program dapur umum, sehingga semua masyarakat yang membutuhkan bisa terlayani.
Trisno menutup dengan mengatakan bahwa Satgas Kutim siap melakukan evaluasi berkala, menyesuaikan alokasi titik dengan realisasi di lapangan. (adv)
Penulis: Gaffar
Editor: Ufqil Mubin














