BERITAALTERNATIF – Udara di ruang rumah sakit Teheran yang hancur akibat pemboman dipenuhi debu tebal dan bau logam khas kehancuran yang baru saja terjadi akibat serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel.
Di tengah latar belakang beton yang runtuh dan puing-puing bangunan, dua bayi yang baru lahir terlihat berjuang untuk tetap hidup. Napas mereka dipantau oleh bunyi ritmis dari alat monitor yang terhubung melalui kabel-kabel medis yang sangat penting bagi keselamatan mereka.
Di ruangan yang penuh debu setelah agresi Amerika Serikat-Israel tersebut, para petugas Bulan Sabit Merah Iran bekerja dengan hati-hati untuk memutuskan sambungan rapuh dari infrastruktur rumah sakit yang telah rusak, agar dapat mengevakuasi para bayi dari tengah reruntuhan.
Rumah Sakit Gandhi yang berada di pusat Teheran, bersama sebuah bangunan tempat tinggal di dekatnya, mengalami kerusakan besar akibat serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Minggu malam. Serangan itu terjadi sehari setelah agresi militer dimulai tanpa adanya provokasi.
Segera setelah serangan terjadi, rekaman yang menyayat hati memperlihatkan para tenaga medis dengan tergesa-gesa memindahkan bayi-bayi yang sangat kecil tersebut dari inkubator yang sudah tidak lagi aman menuju ambulans yang menunggu di luar.
Harapan untuk kehidupan baru—pusat IVF ikut menjadi sasaran
Tragedi tersebut semakin dalam ketika pihak rumah sakit kemudian mengonfirmasi bahwa sebuah pusat fertilisasi in vitro (IVF) khusus yang berada di kompleks tersebut mengalami kerusakan besar dan kini hampir hancur total.
Pusat IVF itu sebelumnya menjadi tempat harapan bagi ratusan pasangan yang datang dengan penuh harapan untuk memiliki anak. Bagi banyak keluarga, tempat itu merupakan ruang di mana mereka menaruh masa depan dan impian terdalam mereka untuk menjadi orang tua.
Namun agresi Amerika Serikat-Israel menghancurkan harapan tersebut, sekaligus merusak rencana masa depan generasi yang telah direncanakan dengan penuh usaha.
“Catatan pelanggaran hak asasi manusia dalam perang ini akan ditulis dengan darah dan rasa malu,” tulis juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, dalam sebuah unggahan di akun X miliknya.
“Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menyaksikan sesuatu yang bahkan tidak pernah saya lihat selama Perang Iran-Irak. Para pasien digendong oleh para perawat mereka sambil melarikan diri ke jalan-jalan yang dipenuhi asap setelah rudal meledak di dekat rumah sakit mereka,” tambah Kermanpour.
Serangan tersebut tidak hanya terbatas pada Rumah Sakit Gandhi. Laporan juga mengonfirmasi bahwa Rumah Sakit Khatam al-Anbiya dan Rumah Sakit Motahari di Teheran turut menjadi sasaran serangan secara langsung.
Selain itu, beberapa rudal juga menghantam area di dekat Rumah Sakit Abuzar di kota Ahvaz, Iran selatan. Serangan itu memaksa evakuasi segera terhadap 21 pasien, termasuk pasien yang berada di unit perawatan intensif.
Sebanyak 30 ambulans dikerahkan untuk memindahkan mereka ke pusat perawatan medis lainnya.
Gambar-gambar dari Ahvaz menunjukkan proses evakuasi yang berlangsung dalam kondisi sangat berbahaya. Petugas darurat terlihat memindahkan para pasien melalui kepulan asap tebal, sementara suara bombardir udara masih terdengar di atas kepala mereka.
Amerika Serikat dan rezim Israel juga menargetkan tiga basis medis darurat yang berada di Sarab, Chabahar, dan Hamedan setelah serangan terhadap Rumah Sakit Abuzar.
Seorang anggota parlemen Iran menyatakan bahwa lima rumah sakit dan pusat medis telah rusak atau hancur selama serangan teroris Amerika Serikat-Israel terhadap Republik Islam Iran.
“Sayangnya, tindakan agresi ilegal ini tidak hanya menyebabkan kehancuran bangunan rumah sakit dan pusat medis, tetapi juga melukai sejumlah mahasiswa serta warga setempat,” kata Fatemeh Mohammad Beigi, anggota Komisi Kesehatan dan Perawatan Parlemen Iran, dalam sebuah pernyataan pada Senin.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa pusat medis terpaksa dikosongkan karena adanya kekhawatiran akan serangan lanjutan.
Serangan terhadap kehidupan itu sendiri
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keras serangan Amerika Serikat-Israel terhadap infrastruktur sipil.
Ia menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas medis “secara langsung memengaruhi kehidupan manusia, sementara serangan terhadap pusat pendidikan membahayakan masa depan suatu bangsa.”
Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan Amerika Serikat-Israel terhadap sebuah sekolah dasar di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, yang menewaskan 171 siswi.
Ia menegaskan bahwa “menargetkan pasien dan anak-anak merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan.”
Presiden Iran juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengecam keras tindakan yang ia sebut sebagai kekejaman tersebut.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan kekhawatiran besar atas kerusakan yang terjadi pada Rumah Sakit Gandhi di Teheran.
Setelah serangan pemboman tersebut, ia menulis di platform X bahwa laporan mengenai kerusakan pada Rumah Sakit Gandhi selama pemboman ibu kota Iran merupakan sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.
Ghebreyesus menegaskan kembali bahwa “semua upaya harus dilakukan untuk mencegah fasilitas kesehatan terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung.”
Ia juga menekankan bahwa “fasilitas kesehatan dilindungi oleh hukum kemanusiaan internasional,” sambil menggunakan tagar #healthisnotatarget.
Serangan terhadap rumah sakit—sebuah pola berulang
Peristiwa ini disebut sebagai bagian dari pola yang mengkhawatirkan. Ini bukan pertama kalinya Israel menyerang fasilitas medis di Republik Islam Iran.
Selama agresi militer yang berlangsung selama 12 hari pada bulan Juni tahun lalu, hampir selusin rumah sakit dilaporkan menjadi sasaran serangan, yang secara jelas melanggar konvensi internasional.
Konvensi Jenewa, yang selama ini dianggap sebagai dasar utama perlindungan kemanusiaan dalam masa perang, telah berulang kali dilanggar oleh Amerika Serikat dan Israel.
Di Gaza, sistem kesehatan secara keseluruhan telah dihancurkan secara sistematis, sementara para dokter juga dilaporkan tewas saat menjalankan tugas mereka sejak perang genosida dimulai pada Oktober 2023.
Menurut data yang mengejutkan dari Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 94 persen rumah sakit di Gaza telah dihancurkan oleh Israel selama genosida yang berlangsung hampir dua tahun. (*)
Sumber: Presstv
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












