Search

Saat Harga Diri Tak Boleh Ditukar dengan Dunia

Imam Ali Khamenei. (Khamenei.id)

BERITAALTERNATIF.COM – Ada manusia yang setiap pagi bangun dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang harus kulakukan agar hidupku menjadi lebih baik? Ada pula yang pertanyaannya lebih jauh: untuk apa semua yang kulakukan ini?

Pertanyaan kedua itulah yang menentukan arah hidup. Sebab seseorang mungkin tampak sibuk berbuat baik, bekerja keras, bahkan berbicara tentang kepedulian kepada banyak orang, tetapi jika seluruh geraknya hanya digerakkan oleh kepentingan diri sendiri, ada sesuatu yang diam-diam kehilangan arah.

Dalam salah satu nasihat Nabi Muhammad Saw disebutkan: “Siapa yang pada pagi hari dari umatku, sementara cita-cita dan perhatiannya bukan kepada Allah, maka ia bukan bagian dari orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, ia bukan bagian dari mereka. Dan siapa yang dengan sukarela menerima kehinaan, ia bukan dari kami, Ahlulbait.”

Nasihat itu seolah mengukur keimanan bukan hanya dari apa yang tampak di luar, melainkan dari sesuatu yang lebih tersembunyi: motivasi dan sikap hidup.

Manusia memang dapat melakukan hal yang sama dengan alasan yang berbeda. Dua orang bisa bekerja keras, tetapi yang satu digerakkan oleh pengabdian, sementara yang lain oleh kerakusan. Dua orang dapat membantu orang miskin, tetapi yang satu melakukannya karena kepedulian, sementara yang lain mengejar pujian. Bahkan seseorang dapat berbicara tentang agama dengan suara lantang, tetapi seluruh perjuangannya ternyata berputar pada dirinya sendiri.

Di titik ini, agama tidak sekadar bertanya tentang tindakan. Ia bertanya: ke mana hati mengarahkan tindakan itu?

Menjadikan Allah sebagai tujuan tidak berarti seseorang harus meninggalkan dunia, pekerjaan, keluarga, atau ambisi. Yang berubah adalah pusat orientasinya. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak dijadikan sesembahan. Kekayaan boleh dicari, tetapi tidak dengan mengorbankan kehormatan. Kekuasaan boleh dikelola, tetapi tidak dengan menginjak manusia lain. Keberhasilan boleh dikejar, tetapi tidak sampai membuat seseorang lupa mengapa ia hidup.

Namun jika ditarik lebih jauh, nasihat Rasulullah Saw itu tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Ada tuntutan sosial yang menyertainya: jangan hidup seolah-olah persoalan orang lain bukan urusan kita.

“Tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin” bukan sekadar berarti tidak mengikuti berita atau tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitar. Kepedulian mempunyai bentuk yang jauh lebih nyata. Ia dapat hadir dalam perhatian terhadap nasib masyarakat, dalam usaha menjaga martabat dan kekuatan umat, tetapi juga dalam perkara yang sangat sederhana: menolong orang lemah, memperhatikan kebutuhan orang miskin, dan tidak membiarkan mereka menghadapi kesulitan seorang diri.

Kepedulian, dengan demikian, bergerak dari sesuatu yang besar hingga yang sangat dekat. Ia bisa berbicara tentang nasib sebuah masyarakat, tetapi juga tentang tetangga yang kesulitan membayar kebutuhan hidup. Ia dapat menyentuh persoalan martabat umat, sekaligus hadir dalam tangan yang mengulurkan bantuan kepada seseorang yang sedang terdesak. Di sinilah iman keluar dari ruang pribadi dan memasuki kehidupan sosial.

Ada satu bagian lain dari nasihat tersebut yang terasa semakin relevan dalam dunia yang sering mengukur manusia berdasarkan kekuasaan dan kekayaan: jangan menerima kehinaan dengan sukarela.

Kehinaan tidak selalu datang dalam bentuk penindasan politik. Ia bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus. Seseorang merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena berharap mendapatkan keuntungan. Ia mengorbankan prinsip demi uang. Ia membiarkan harga dirinya dipermainkan karena takut kehilangan jabatan. Ia menelan ketidakadilan karena menganggap keuntungan pribadi lebih penting daripada martabat.

Kadang-kadang yang membuat manusia tunduk bukan cambuk, melainkan keinginan. Keserakahan pun dapat menjadi rantai. Ambisi terhadap harta dapat membuat seseorang berkata “ya” ketika seharusnya berkata “tidak”. Keinginan untuk memperoleh kedudukan dapat membuatnya diam ketika seharusnya bersuara. Bahkan kebutuhan akan pengakuan dapat membuat seseorang rela menjadi kecil di hadapan mereka yang memiliki lebih banyak uang, pengaruh, atau kekuasaan.

Karena itu, kehormatan dalam ajaran ini bukan sekadar perkara keberanian menghadapi penguasa. Ia juga menyangkut kemampuan menjaga diri ketika berhadapan dengan gemerlap dunia.

Seorang mukmin bukan manusia yang tidak membutuhkan apa-apa. Ia tetap membutuhkan makanan, pekerjaan, harta, keamanan, dan kehidupan yang layak. Tetapi ada batas yang tidak seharusnya dilewati: kebutuhan tidak boleh berubah menjadi perbudakan, dan keinginan tidak boleh menghapus harga diri.

Dalam sebuah ungkapan yang dinisbatkan dalam tradisi keislaman, seorang mukmin dapat menerima berbagai keadaan, tetapi tidak menerima kehinaan. Kalimat itu bukan ajakan untuk menjadi keras kepala atau menolak setiap kompromi. Ia lebih menyerupai pengingat bahwa ada sesuatu yang nilainya lebih tinggi daripada keuntungan sesaat.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya kehilangan martabat ketika direndahkan oleh orang lain. Ia juga dapat kehilangan martabat ketika dengan sadar menjualnya sendiri.

Maka tiga hal dalam nasihat Nabi Saw itu sebenarnya bertemu pada satu titik: apa yang menggerakkan manusia, kepada siapa ia peduli, dan apa yang tidak bersedia ia tukarkan.

Jika Allah menjadi arah, kepedulian kepada sesama menjadi bagian dari kehidupan, dan kehormatan tidak dijual demi dunia, seseorang mungkin tidak memiliki banyak hal dalam ukuran dunia. Tetapi ia masih memiliki sesuatu yang sulit dibeli oleh kekayaan sebesar apa pun: kebebasan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Barangkali karena itu setiap pagi bukan hanya waktu untuk memulai pekerjaan. Ia juga kesempatan untuk memeriksa kembali arah hati. Untuk bertanya, sebelum dunia kembali memenuhi kepala: apa sebenarnya yang sedang kita kejar, siapa yang kita pedulikan, dan adakah harga yang tidak akan pernah kita bayarkan, meski dunia menawarkannya dengan segala kemewahan? (*)

Sumber: Khamenei.id

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA