BERITAALTERNATIF.COM – Ada pekerjaan yang tampak sempurna dari luar, tetapi kosong ketika diperiksa lebih dalam. Ada ibadah yang panjang, sedekah yang besar, dan aktivitas yang terlihat mulia, namun belum tentu sampai kepada tujuan yang semestinya. Di situlah persoalan amal menjadi lebih rumit daripada sekadar apa yang tampak oleh mata.
Imam Ali bin Abi Thalib as menyampaikan pesan kepada Kumail bin Ziyad, murid dan sahabat setianya: “Wahai Kumail! Bukanlah persoalannya bahwa engkau salat, berpuasa, dan bersedekah. Persoalannya ialah agar shalat itu dilakukan dengan hati yang bersih, amal yang diridai Allah, dan kekhusyukan yang benar. Perhatikan apa yang engkau gunakan untuk salat dan dengan apa engkau melaksanakannya. Jika dilakukan dengan cara yang tidak benar dan menggunakan sesuatu yang tidak halal, maka tidak ada penerimaan.”
Pesan itu seperti menggeser pusat perhatian dari apa yang tampak menuju sesuatu yang sering luput: batin dan hakikat amal.
Manusia mudah terpukau oleh bentuk. Kita menghitung berapa banyak shalat, berapa lama berpuasa, berapa besar sedekah. Dalam kehidupan sosial, kita pun kerap menilai seseorang dari jabatan, aktivitas, pernyataan, atau keberhasilannya. Ukuran-ukuran semacam itu penting, tetapi tidak selalu menyentuh persoalan yang paling menentukan: apa yang menghidupkan semua tindakan tersebut?
Sebuah amal, dalam pengertian ini, mempunyai tubuh dan ruh. Tubuhnya adalah bentuk lahiriah; ruhnya adalah niat, keikhlasan, kebersihan hati, dan cara yang benar dalam menjalankannya. Tubuh tanpa ruh mungkin masih tampak seperti manusia, tetapi ia telah kehilangan kehidupan. Demikian pula amal yang kehilangan ruhnya: bentuknya tetap ada, tetapi maknanya mengering.
Di titik ini, nasihat Imam Ali as kepada Kumail menjadi jauh lebih luas daripada persoalan shalat.
Shalat, misalnya, bukan hanya rangkaian gerakan berdiri, rukuk, dan sujud. Ia menuntut hati yang bersih dan sikap tunduk yang sungguh-sungguh. Karena itu, Imam Ali as tidak hanya mengingatkan tentang bagaimana seseorang shalat, tetapi juga dengan apa dan dalam kondisi bagaimana shalat itu dilakukan. Bahkan sesuatu yang secara lahir tampak sederhana pakaian, tempat, atau sumber yang digunakan, dapat menentukan nilai sebuah ibadah apabila berkaitan dengan sesuatu yang tidak halal.
Pesannya tajam: cara mencapai tujuan tidak dapat dipisahkan dari tujuan itu sendiri.
Seseorang tidak dapat begitu saja mengabaikan proses dengan alasan bahwa hasil akhirnya baik. Kebaikan yang hendak dicapai membutuhkan jalan yang juga baik. Jika sebuah amal dibangun di atas sesuatu yang batil, maka kemegahan hasil di permukaan tidak serta-merta membuat fondasinya menjadi benar.
Gagasan ini sejalan dengan doa Imam Zainal Abidin as yang memohon agar dianugerahi akal atau inti pemahaman yang matang. Ada dorongan untuk tidak berhenti pada kulit. Sebab kehidupan yang hanya sibuk mengumpulkan bentuk akan mudah kehilangan inti.
Dalam kehidupan modern, peringatan ini terasa semakin relevan. Kita hidup dalam zaman ketika penampilan amal dapat dengan mudah diperbanyak dan dipertontonkan. Kebaikan bisa diumumkan, ibadah dapat menjadi citra, dan aktivitas sosial dapat berubah menjadi ukuran popularitas. Di tengah banjir informasi, sesuatu yang tampak sering dianggap lebih penting daripada sesuatu yang sungguh-sungguh.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah amal terlihat atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah amal tersebut benar-benar mengubah manusia yang mengerjakannya.
Shalat yang benar semestinya menumbuhkan kerendahan hati. Sedekah semestinya melonggarkan keterikatan pada kepentingan diri. Puasa semestinya melatih pengendalian diri. Ilmu semestinya memperhalus sikap. Kekuasaan semestinya memperbesar tanggung jawab. Jika bentuk-bentuk itu hadir tanpa perubahan pada manusia yang menjalankannya, ada sesuatu yang patut diperiksa kembali.
Bahkan dalam aktivitas politik dan kehidupan publik, prinsip yang sama dapat diterapkan. Aktivitas yang mengatasnamakan kepentingan umat tidak otomatis menjadi amal yang benar hanya karena menggunakan bahasa moral atau agama. Ia membutuhkan ruh: keinginan memperbaiki keadaan, membela kepentingan masyarakat, menjaga keadilan, dan tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai tujuan tersembunyi.
Sebab sebuah kegiatan dapat memiliki nama yang baik, tetapi tetap kehilangan kebaikannya ketika niat dan caranya menyimpang.
Di sinilah pesan Imam Ali kepada Kumail terasa seperti teguran yang melampaui zamannya. Ia mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari kegemaran menghitung bentuk-bentuk amal dan mulai memeriksa isinya. Bukan hanya berapa banyak yang telah dilakukan, tetapi menjadi manusia seperti apa kita setelah melakukannya.
Pada akhirnya, amal bukan sekadar sesuatu yang kita kerjakan. Amal adalah sesuatu yang perlahan membentuk diri kita. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya jumlahnya, melainkan ruh yang membuatnya hidup.
Barangkali inilah ujian yang paling sunyi dalam beragama: ketika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah amal itu masih memiliki nilai bagi kita? Ketika pujian menghilang dan nama tidak disebut, apakah kebaikan masih ingin kita lakukan?
Di sanalah kulit mulai terlepas, dan manusia berhadapan dengan inti dirinya sendiri. (*)
Sumber: Khamenei.id











