BERITAALTERNATIF.COM – Ada benda yang nilainya mungkin tak seberapa, tetapi cara kita memperlakukannya dapat menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Seutas benang, misalnya. Sebuah barang kecil yang dititipkan seseorang. Sepucuk pesan yang diminta agar tidak disebarkan. Bahkan sebuah pekerjaan yang tampak sederhana dan tidak banyak diketahui orang. Semuanya bisa menjadi amanah.
Dalam Islam, amanah bukan sekadar perkara mengembalikan barang milik orang lain. Ia adalah ukuran tentang bagaimana seseorang menjaga sesuatu yang berada dalam tanggung jawabnya, termasuk ketika tidak ada mata yang mengawasi.
Ali bin Abi Thalib as mengingatkan persoalan ini dalam pesannya kepada Kumail bin Ziyad. Nasihat itu terdengar tegas, bahkan tanpa ruang untuk tawar-menawar. Ia mengatakan bahwa tidak ada toleransi untuk meninggalkan kewajiban menunaikan amanah kepada siapa pun. Orang yang meriwayatkan dari Ahlulbait adanya kelonggaran dalam hal itu, menurutnya, telah melakukan kesalahan dan berdosa.
Lalu ia mengingat kembali pesan Rasulullah Saw kepadanya menjelang wafat. Pesan itu diulang sampai tiga kali: amanah harus dikembalikan kepada orang yang berhak, baik ia orang baik maupun orang jahat, dalam perkara besar maupun kecil. “Wahai Abul Hasan, tunaikanlah amanah kepada orang yang baik maupun orang yang jahat, dalam perkara yang besar maupun yang kecil, bahkan seutas benang dan jarum.”
Pesan itu menarik justru karena ia tidak memberikan pengecualian berdasarkan siapa pemilik amanah. Amanah tidak berubah menjadi halal untuk dikhianati hanya karena orang yang menitipkannya tidak kita sukai. Keburukan seseorang tidak otomatis membatalkan haknya atas sesuatu yang memang menjadi miliknya.
Di titik ini, amanah menunjukkan wataknya yang lebih dalam. Ia bukan terutama tentang orang lain. Ia berbicara tentang kita.
Kita sering mengira kejujuran mudah dijalankan selama berhadapan dengan orang yang kita hormati. Persoalannya muncul ketika berhadapan dengan orang yang kita benci, orang yang pernah menyakiti kita, atau seseorang yang menurut kita tidak layak mendapatkan kebaikan. Di situlah amanah diuji. Sebab mengembalikan hak kepada orang yang kita cintai mungkin tidak membutuhkan banyak perjuangan. Tetapi mengembalikan hak kepada orang yang kita tidak sukai menuntut sesuatu yang lebih mahal: kemampuan menundukkan kepentingan diri.
Karena itu, amanah tidak boleh dipersempit menjadi persoalan uang atau barang.
Sebuah jabatan adalah amanah. Tugas yang dipercayakan kepada seseorang adalah amanah. Waktu kerja yang dibayar orang lain adalah amanah. Informasi yang disampaikan secara rahasia adalah amanah. Kepercayaan seorang sahabat adalah amanah. Bahkan pengetahuan yang kita miliki dan kemampuan yang diberikan kepada kita dapat menjadi amanah ketika semuanya menuntut pertanggungjawaban.
Kadang-kadang bentuk pengkhianatan justru sangat kecil sehingga kita tidak menganggapnya sebagai masalah. Sebuah rahasia dibocorkan dengan alasan “hanya kepada satu orang”. Sebuah tugas dikerjakan setengah hati karena tidak ada yang memeriksa. Waktu digunakan untuk kepentingan pribadi ketika seharusnya diberikan kepada pekerjaan. Barang pinjaman dikembalikan dalam keadaan tidak sebaik ketika diterima. Hal-hal semacam itu mudah dianggap remeh karena tidak selalu menimbulkan keributan.
Namun amanah memang sering rusak bukan oleh pengkhianatan besar, melainkan oleh kebiasaan kecil yang terus dibiarkan.
Perintah untuk menjaga amanah sampai pada “benang dan jarum” seakan mengingatkan bahwa ukuran moral tidak selalu terletak pada besarnya nilai sesuatu. Yang diperhitungkan adalah sikap terhadap hak orang lain. Barang yang murah tetap memiliki pemilik. Informasi yang dianggap sepele tetap bisa menjadi rahasia. Pekerjaan kecil tetap memiliki tanggung jawab.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini terasa semakin penting di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kepercayaan yang tidak selalu terlihat. Kita menyerahkan data kepada perusahaan, mempercayakan uang kepada lembaga, menitipkan pekerjaan kepada karyawan, memberikan kewenangan kepada pejabat, dan menceritakan hal-hal pribadi kepada orang terdekat. Masyarakat hanya dapat berjalan jika ada keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayakan tidak akan digunakan secara sewenang-wenang.
Ketika amanah runtuh, yang hilang bukan hanya sebuah barang atau informasi. Yang runtuh adalah kepercayaan. Dan sekali kepercayaan rusak, ia jauh lebih sulit dikembalikan daripada sekadar mengganti kerugian material.
Gagasan ini kemudian menyentuh sesuatu yang lebih sunyi: amanah adalah hubungan antara manusia dan hati nuraninya sendiri. Ada amanah yang tidak pernah diketahui orang lain. Tidak ada kamera. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada saksi. Hanya kita yang tahu bahwa sesuatu telah dipercayakan kepada kita dan hanya kita yang tahu apakah kita menjaganya atau mengkhianatinya.
Mungkin karena itu amanah tidak mengenal besar-kecil, juga tidak mengenal kawan atau lawan. Ia tidak bertanya siapa yang menitipkan, melainkan apakah kita masih menjadi manusia yang layak dipercaya.
Pada akhirnya, menjaga amanah bukan sekadar mengembalikan apa yang bukan milik kita. Ia adalah cara mempertahankan sesuatu yang jauh lebih berharga: martabat diri. Sebab seseorang bisa kehilangan harta dan masih mampu membangunnya kembali. Tetapi ketika ia kehilangan kepercayaan, ada bagian dari dirinya yang ikut runtuh.
Dan mungkin, di antara semua titipan yang pernah sampai ke tangan kita, yang paling besar justru adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita tidak menyia-nyiakannya. (*)
Sumber: Khamenei.id












