Search

Laut yang Luas Tidak Takluk pada Gelombang 

Imam Ali Khamenei. (Khamenei.id)

BERITAALTERNATIF.COM – Ada kalanya, musuh terbesar manusia bukanlah orang yang berdiri di hadapannya, melainkan sifat-sifat yang diam-diam tumbuh di dalam dirinya sendiri. Keberanian, misalnya, dapat berubah menjadi kenekatan. Kecintaan pada diri sendiri dapat menjelma kesombongan.

Bahkan kegembiraan yang semestinya membuat hidup terasa lapang bisa menyeret seseorang ke dalam kesenangan yang hampa. Persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang memiliki sifat baik atau buruk, melainkan ke mana sifat itu diarahkan dan bagaimana ia belajar mengendalikannya.

Dalam salah satu nasihatnya, Imam Ali bin Abi Thalib as menyampaikan pesan singkat yang menyimpan kedalaman tentang seni membentuk akhlak: “Jinakkanlah akhlak kalian dengan kebajikan, tuntunlah ia menuju kemuliaan, dan biasakanlah diri kalian bersikap hilm; lapang dada dan mampu menahan diri.”

Nasihat ini tidak meminta manusia menjadi makhluk tanpa gejolak. Ia justru berangkat dari kenyataan bahwa di dalam diri setiap orang terdapat kecenderungan yang belum tertata. Ada dorongan yang perlu diarahkan, hasrat yang perlu dibatasi, dan watak yang harus dilatih agar tidak berkembang menjadi sesuatu yang merusak. Menjadi baik, dengan demikian, bukan sekadar persoalan niat, melainkan pekerjaan panjang untuk mendidik diri sendiri.

Kata tadzlil dalam nasihat tersebut mengandung arti menjinakkan atau membuat sesuatu menjadi tunduk. Gambaran ini menarik karena watak manusia sering kali menyerupai tenaga liar: memiliki kekuatan, tetapi belum tentu mengetahui ke mana harus bergerak.

Keberanian, jika tidak dibimbing oleh pertimbangan, dapat berubah menjadi tahawwur, yakni keberanian yang kehilangan perhitungan. Ketegasan, apabila tidak disertai kebijaksanaan, bisa menjelma kekasaran. Keinginan untuk dihormati pun dapat tumbuh menjadi kesombongan yang membuat seseorang merasa berhak merendahkan orang lain.

Di sinilah pentingnya membedakan antara menghilangkan suatu sifat dan memperbaiki arahnya. Tidak semua kekuatan dalam diri manusia harus dimusnahkan. Yang diperlukan justru kemampuan menempatkannya secara tepat. Keberanian tetap dibutuhkan, tetapi harus dibebaskan dari kenekatan. Kemarahan kadang-kadang diperlukan untuk menghadapi ketidakadilan, tetapi harus dijaga agar tidak berubah menjadi kebencian yang membutakan. Bahkan ambisi dapat menjadi tenaga yang mendorong kemajuan, selama tidak membuat manusia menghalalkan segala cara.

Akhlak yang matang bukanlah akhlak yang kehilangan daya, melainkan akhlak yang mampu mengendalikan daya itu. Seseorang yang tidak pernah berani mungkin tampak tenang, tetapi ketenangannya belum tentu lahir dari kebijaksanaan. Sebaliknya, orang yang memiliki keberanian besar, tetapi mampu menimbang akibat tindakannya, menunjukkan bentuk penguasaan diri yang lebih mendalam. Kemuliaan tidak selalu tampak dalam kemampuan melakukan sesuatu; sering kali ia justru terlihat dalam kesanggupan untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya mampu kita lakukan.

Namun, perubahan semacam itu tidak terjadi hanya dengan satu keputusan. Seseorang bisa berjanji untuk tidak mudah marah setelah pertengkaran, lalu kembali kehilangan kendali ketika menghadapi persoalan berikutnya. Ia dapat bersumpah untuk meninggalkan kesombongan, tetapi kembali merasa lebih tinggi setelah memperoleh kedudukan. Niat baik memang penting, tetapi niat yang tidak disertai latihan sering kali hanya bertahan selama suasana mendukungnya.

Karena itu, pembentukan akhlak menuntut pengenalan diri, perencanaan, pembiasaan, dan perjuangan yang terus-menerus. Seseorang perlu mengetahui keadaan yang membuatnya mudah tersulut, ucapan yang membuatnya merasa direndahkan, atau pujian yang diam-diam membesarkan egonya. Dari sana, ia dapat belajar memberi jeda sebelum bereaksi, memeriksa kembali penilaiannya, dan mempertimbangkan apakah tindakannya lahir dari kebijaksanaan atau sekadar dorongan sesaat.

Perubahan watak tidak selalu berlangsung melalui peristiwa besar. Ia sering dimulai dari perkara yang tampak remeh: memilih diam ketika ingin membalas dengan kata-kata tajam, mengakui kesalahan ketika harga diri mendorong kita mencari alasan, atau menahan diri untuk tidak memamerkan keberhasilan. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu perlahan membentuk jalan baru dalam diri. Apa yang semula terasa berat dapat menjadi lebih mudah ketika terus dilatih, sementara dorongan buruk kehilangan sebagian kekuatannya ketika tidak selalu dituruti.

Meski demikian, ada satu hal yang dalam pandangan spiritual memiliki daya ubah lebih dalam: cinta kepada Tuhan. Kecintaan kepada-Nya, apabila sungguh bersemayam dalam hati, dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya, orang lain, dan kehidupan. Ia tidak lagi menjadikan kehendak pribadi sebagai ukuran segala sesuatu. Ada sesuatu yang lebih tinggi daripada kepentingannya sendiri, sesuatu yang membuatnya bersedia menahan ego dan memperbaiki kesalahan.

Cinta ilahi dalam pengertian ini bukan jalan pintas untuk menghindari kerja keras pembentukan akhlak. Ia lebih menyerupai sumber tenaga yang membuat perjuangan itu menemukan arah dan makna. Ketika seseorang mencintai kebenaran, ia lebih mudah menerima kenyataan bahwa dirinya bisa keliru.

Ketika ia sungguh menginginkan kedekatan dengan Tuhan, kesombongan kehilangan sebagian daya tariknya, sebab ia menyadari betapa terbatas dirinya di hadapan sesuatu yang jauh lebih agung. Perubahan yang biasanya memerlukan perjalanan panjang dapat terasa lebih dekat karena hati telah menemukan alasan yang kuat untuk berubah.

Nasihat Imam Ali as kemudian berujung pada satu sifat yang menjadi ukuran penting kematangan manusia: hilm. Sifat ini kerap dipahami sebagai kemampuan menahan amarah. Padahal, maknanya lebih luas daripada sekadar tidak marah. Hilm adalah kelapangan jiwa, kapasitas batin untuk menghadapi tekanan tanpa segera dikuasai olehnya.

Ia juga berarti kemampuan menerima kegembiraan tanpa kehilangan keseimbangan, menghadapi pujian tanpa mabuk oleh kebanggaan, dan mengalami kekecewaan tanpa membiarkan diri tenggelam dalam kepahitan.

Manusia yang memiliki hilm tidak harus kebal terhadap perasaan. Ia tetap dapat marah, sedih, kecewa, atau bahagia. Perbedaannya terletak pada hubungan antara perasaan dan tindakannya. Ia tidak membiarkan setiap emosi langsung menentukan apa yang harus dikatakan atau dilakukan. Ada ruang di dalam dirinya untuk memahami, menimbang, dan memilih tanggapan yang lebih bijaksana.

Bayangkan laut yang menerima aliran sungai-sungai deras. Air datang membawa lumpur, riak, dan gelombang, tetapi keluasan laut membuat semuanya menemukan ruang untuk menyatu. Begitulah jiwa yang lapang. Ia tidak selalu dapat mencegah datangnya gangguan, tetapi mampu menampungnya tanpa segera kehilangan bentuk. Penghinaan tidak harus dibalas dengan penghinaan. Keberhasilan tidak harus dirayakan dengan merendahkan orang lain. Kegagalan pun tidak harus diterjemahkan sebagai akhir dari segala kemungkinan.

Dalam kehidupan modern yang bergerak cepat, kemampuan semacam ini semakin penting. Orang dituntut bereaksi terhadap berita, komentar, persaingan, dan penilaian orang lain hampir setiap saat. Kemarahan mudah memperoleh panggung, sementara ketenangan kerap dianggap sebagai kelemahan. Kita pun terbiasa mengukur kekuatan dari seberapa keras seseorang berbicara atau seberapa cepat ia membalas serangan. Padahal, tidak semua respons menunjukkan keberanian, sebagaimana tidak semua diam berarti ketakutan.

Mungkin, ukuran kedewasaan yang lebih jujur justru terletak pada kemampuan seseorang mengelola apa yang bergerak di dalam dirinya. Ia tahu kapan harus tegas dan kapan harus menahan diri, kapan harus berbicara dan kapan perlu mendengarkan. Ia tidak berusaha menghapus seluruh gejolak, tetapi belajar agar gejolak itu tidak mengambil alih kehidupannya.

Pada akhirnya, menjinakkan akhlak bukanlah upaya untuk menjadi manusia yang tanpa cela. Ia adalah kesediaan untuk terus memperbaiki arah, bahkan ketika perubahan berjalan lambat dan kegagalan berulang kali datang. Sebab watak tidak dibentuk hanya oleh apa yang kita yakini, tetapi juga oleh apa yang kita biasakan setiap hari.

Barangkali, kemuliaan memang tidak selalu lahir ketika seseorang berhasil menaklukkan dunia di luar dirinya. Terkadang, ia tumbuh dalam momen yang tidak disaksikan siapa pun: ketika amarah berhasil ditahan, kesombongan dipatahkan, dan keinginan untuk menang dikalahkan oleh kesediaan untuk berlaku benar. Di sanalah manusia perlahan belajar menjadi penguasa atas dirinya sendiri. (*)

Sumber: Khamenei.id

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA