Search

Rencana Barat untuk Gaza: Perdamaian atau Dukungan Lebih pada Israel?

Benjamin Netanyahu dan Donald Trump. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Inisiatif terbaru para pemimpin Barat, yang disebut sebagai langkah menuju perdamaian di Gaza, pada dasarnya berpusat pada upaya melucuti senjata Hamas dan meringankan tekanan terhadap Israel. Langkah ini tampaknya bukan tentang mengakhiri perang, melainkan lebih untuk mengamankan posisi Israel.

Bukti yang ada menunjukkan bahwa tujuan utama dari rencana politik negara-negara pendukung rezim Zionis dalam beberapa pekan terakhir adalah melucuti senjata Hamas dan menghapus poros utama perlawanan terhadap Israel dari panggung perjuangan.

Sebagai contoh, rencana Prancis untuk membentuk negara Palestina merdeka—yang mereka klaim sebagai langkah menuju perdamaian—justru memasukkan syarat perlucutan senjata dan pengasingan Hamas. Presiden Emmanuel Macron dalam wawancara dengan media pada awal September menekankan bahwa tindakan ini adalah satu-satunya cara untuk mengisolasi Hamas.

Menurutnya, satu-satunya jalan untuk memberantas Hamas adalah dengan menciptakan otoritas yang sah. “Inilah yang kami lakukan. Tidak ada inisiatif lain yang bisa mengisolasi Hamas seperti solusi dua negara,” ujarnya.

Pernyataan Macron ini dengan jelas menunjukkan bahwa rencana membentuk dua negara di wilayah pendudukan hanyalah selubung propaganda untuk menyelamatkan rezim Zionis dari kebuntuan saat ini dengan dalih melucuti senjata Hamas.

Pada Senin (29/9/2025) lalu, dalam konferensi pers setelah bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempresentasikan rencana perdamaian yang disebutnya sebagai “perdamaian abadi”. Namun, rencana itu lebih terlihat sebagai pertunjukan propaganda yang dramatis.

Poin utama dari rencana ini adalah penerapan gencatan senjata, pembebasan semua tahanan, pelucutan senjata Hamas, dan penarikan bertahap Israel dari Gaza.

Tetapi, jika diteliti lebih jauh, rencana tersebut lebih banyak memenuhi tuntutan rezim Zionis, yakni pembebasan tahanan dan perlucutan senjata Hamas. Sementara itu, soal penarikan Israel dari Gaza baru disebutkan setelah tahap-tahap itu, dan dilakukan secara bertahap.

Dalam praktiknya, konsesi yang menguntungkan Israel diterima secara “tunai”, sedangkan tuntutan Hamas dibayar secara “kredit”. Tidak ada jaminan bahwa Israel benar-benar akan menarik diri setelah para tahanan dibebaskan dan Hamas melucuti senjatanya.

Trump bahkan mengancam, jika Hamas menolak rencana ini, maka Israel akan mendapat dukungan penuh dari AS—seolah-olah selama ini Israel tidak pernah mendapat dukungan penuh dari Washington!

Di sisi lain, Israel menyambut baik gagasan pembebasan tahanan dan perlucutan senjata Hamas. Sebagai gantinya, rezim itu menjanjikan tidak akan menyerang Qatar lagi sebagai balasan atas inisiatif Trump tersebut.

Sudah sangat jelas bahwa rencana propaganda Trump bertujuan mengurangi tekanan politik dalam negeri maupun luar negeri terhadap AS. Dengan cara itu, Washington berusaha menunjukkan seolah-olah tengah mengupayakan perdamaian, padahal kenyataannya rencana ini hanyalah jalan untuk mendukung penuh genosida Israel.

Tidak heran jika rencana ini dianggap tidak bisa dijalankan. Secara alami, Hamas menilai rencana tersebut hanyalah formula baru untuk melanjutkan agresi terhadap rakyat Palestina. Karena itu, Hamas menolak, dan tidak akan membebaskan para tahanan ataupun melucuti senjata.

Kesimpulan yang muncul adalah bahwa gerakan konsisten AS dan negara-negara Barat dalam beberapa bulan terakhir, yang berusaha melucuti anggota Poros Perlawanan seperti Hizbullah, Hamas, Hashd al-Shaabi, dan lainnya, pada akhirnya tidak akan berhasil.

Opini publik dunia kini semakin yakin bahwa AS, Inggris, Prancis, dan Jerman—sebagai mitra dalam kejahatan perang dan genosida rezim Zionis—sama sekali tidak berusaha mengakhiri perang. Sebaliknya, mereka terus mendorong Israel melanjutkan pembantaian dengan dukungan finansial dan persenjataan.

Pada titik ini, sebagian negara Arab yang karena penentangan mereka terhadap Hamas justru bersikap positif terhadap rencana Trump, seharusnya menyadari konsekuensinya. Melucuti Poros Perlawanan, khususnya Hamas dan Hizbullah, hanya akan membuka jalan bagi terlaksananya rencana Israel Raya atau Greater Israel. Negara-negara Arab atau pihak yang mendukung rencana perdamaian ala Trump pada akhirnya akan menanggung kerugian besar yang tak bisa diperbaiki.

Hari ini, yang paling dibutuhkan adalah sikap tegas: semua negara Muslim dan Arab harus bersatu, berdiri bersama menghadapi Israel, serta menolak kompromi maupun rencana-rencana yang tidak realistis dan tidak bisa dijalankan. Hanya dengan kesatuan dan penolakan terhadap solusi palsu, umat Islam bisa melindungi Palestina dari agenda Zionis dan memastikan perjuangan tetap hidup. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA